• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Varises Bukan Sekadar Gang...

Varises Bukan Sekadar Ganggu Penampilan, Namun Dapat Sebabkan Komplikasi Kesehatan Serius

Senin, 11 Agu 2025, 20:17 WIB

JAKARTA - Varises kerap diabaikan karena dianggap sebagai masalah sepele. Padahal varises yang tidak tertangani dengan baik bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga berisiko menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan. Karenanya, penting untuk mengenal lebih dalam tentang varises, mulai dari pencegahan hingga penanganannya.

Varises adalah kondisi pembuluh darah vena yang membengkak, membesar, dan menonjol tepat di bawah permukaan kulit. Secara klinis, varises dapat dilihat dari pembuluh darah yang tampak biru, berkelok-kelok, berukuran besar, dan selalu tampak jelas. Pada banyak kasus, kondisi ini dapat memburuk seiring berjalannya waktu.

Ket. Foto: Ilustrasi gejala terjadinya varises. Gangguan ini kerap diabaikan karena dianggap sebagai masalah sepele, padahal jika dibiarkan bisa menyebabkan komplikasi kesehatan. — Sumber: Istimewa

“Umumnya, varises paling sering terlihat pada kaki karena adanya tekanan di pembuluh darah bagian bawah tubuh saat berdiri atau berjalan. Hal ini merupakan salah satu gejala dari penyakit Insufisiensi Vena Kronis (IVK),” kata dr. Charley Dokma Tua Simanjuntak, Sp. B, Subsp. B.V.E. (K), Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Vaskular RS Pondok Indah – Pondok Indah dalam acara diskusi media yang diadakan di Jakarta pada hari Jumat (8/8).

Faktor Risiko Varises

Siapa pun dapat mengalami varises, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena varises, antara lain, faktor genetic. Riwayat keluarga dengan varises meningkatkan risiko hingga 90%.

Kedua jenis kelamin. Wanita memiliki risiko 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan pria untuk mengalami varises. Hal ini dipengaruhi oleh hormon (estrogen dan progesteron). Faktor usia juga turut berpengaruh. Kejadian varises dapat meningkat seiring dengan bertambahnya usia

Selanjutnya adalah kehamilan. Adanya tekanan tambahan pada kaki dari kehamilan dan pertambahan berat badan, membuat varises rentan terjadi pada ibu hamil. Faktor lainnya adalah pekerjaan. Beberapa orang bekerja yang mengharuskan seseorang berdiri atau duduk dalam waktu yang lama atau lebih dari 6 jam per hari. Hal ini dapat meningkatkan risiko varises hingga 50%

“Berat badan juga berpengaruh pada risiko terjadinya varises. Obesitas dengan nilai BMI lebih dari 30 adalah kategori yang cukup berisiko. Terakhir adalah kontrasepsi. Penggunaan kontrasepsi hormonal jangka panjang juga dapat meningkatkan risiko varises,” ujar dr. Charley.

Bagaimana cara mengenali gejalanya?

Mengidentifikasi tanda dan gejala varises adalah langkah penting dalam memahami dan mengelola kondisi ini. Terdapat beberapa gejala awal varises, antara lain, terjadi sensasi berat pada tungkai, nyeri tumpul-pegal atau kram otot, pembengkakan tungkai, gatal di sekitar area vena.

“Gejala-gejala ini umumnya dapat memburuk setelah berdiri atau duduk dalam waktu yang lama. Ada juga beberapa gejala lanjutan yang menandakan bahwa kondisi varises sudah lebih berat, antara lain, nyeri kronis yang mengganggu aktivitas, perubahan warna kulit pada area varises (kulit menghitam), eksim varikosum (dermatitis stasis), sensasi terbakar atau kesemutan,” paparnya.

Ketika melihat atau mengalami gejala varises, baik pada tingkat awal maupun tingkat lanjut, sebaiknya segera dikonsultasikan dengan dokter spesialis bedah subspesialis bedah vaskular. Jika varises yang terjadi tidak ditangani hingga tuntas, terdapat beberapa komplikasi kesehatan yang mungkin terjadi.

“Beberapa komplikasi yang banyak dijumpai antara lain selulitis, atau infeksi bakteri pada kulit dan jaringan di bawahnya, perdarahan spontan, perubahan kulit kronis, ulkus vena, atau luka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh dari biasanya,” ungkap dr. Charley

Diagnostik Varises

Untuk mendapatkan diagnosis varises secara tepat, dokter melakukan berbagai langkah yang dapat membantu memahami kondisi vena pasien secara menyeluruh, seperti anamnesis (wawancara medis), sebagai langkah awal diagnosis, dokter akan mengajukan berbagai pertanyaan terkait riwayat kesehatan dan gejala yang dialami pasien. Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan fisik dengan mengamati tanda-tanda dari varises.

Setelah itu adalah pemeriksaan penunjang. Langkah ini perlu dilakukan walaupun hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah cukup untuk menegakkan diagnosis, terkadang tetap diperlukan pemeriksaan penunjang untuk mendukung diagnosis.

“Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah USG Doppler. Pemanfaatan USG Doppler sebagai pemeriksaan penunjang bukan tanpa alasan. Beberapa keunggulan modalitas ini adalah non-invasive dan dapat diulang, evaluasi aliran darah secara real-time, identifikasi titik kerusakan dengan tepat, pemetaan vena untuk perencanaan intervensi,” ucapnya.

Pencegahan Varises

Pencegahan varises dapat dilakukan dengan berbagai cara, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya varises. Pertama melakukan aktivitas fisik secara teratur, latihan aerobik selama 30 menit per hari atau 5 hari per minggu untuk meningkatkan, efisiensi pompa otot betis hingga 30% dan mengurangi stasis vena. Berenang dan bersepeda juga sangat direkomendasikan.

Mempertahankan Body Mass Index (BMI) <25 dapat mengurangi tekanan intra-abdominal dan beban pada sistem vena ekstremitas bawah (bagian tubuh bawah). Perlu diketahui bahwa setiap penurunan bobot tubuh sebanyak 5 kg dapat mengurangi tekanan vena hingga 20%.

“Hindari berdiri atau duduk statis lebih dari 1 jam. Lakukan kontraksi otot betis secara berkala dan elevasi tungkai saat istirahat untuk mendukung aliran balik vena. Kompresi profilaksis atau kompresi dengan tekanan ringan (15-20 mmHg) direkomendasikan untuk individu dengan risiko tinggi, terutama saat melakukan aktivitas yang memperberat beban vena, seperti duduk di penerbangan jarak jauh atau pekerjaan yang mengharuskan berdiri atau duduk lama,” sarannya.

Penanganan Varises

Penanganan varises disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi dan gejala yang dialami pasien. Berikut beberapa pilihan terapi penanganan varises yang dapat dilakukan:

1. Terapi konservatif

Salah satunya dapat dilakukan dengan pemakaian stoking kompresi yang bekerja dengan memberikan tekanan eksternal lebih tinggi di ujung dan menurun ke pangkal. Tekanan ini berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi varises. Umumnya, stoking harus dipakai setiap pagi sebelum turun dari tempat tidur dan digunakan sepanjang hari hingga akan tidur kembali. Penggantian stoking setiap 6 bulan direkomendasikan untuk mempertahankan efektivitas tekanan. Selain stoking kompresi, elevasi tungkai dan modifikasi gaya hidup juga menjadi pilihan terapi konservatif untuk menangani varises.

2. Terapi farmakologis

Venoaktif (diosmin, hesperidin, rutoside) dan terapi pengobatan nyeri.

3. Prosedur minimal invasive

Skleroterapi dan ablasi endovenous (laser, radiofrequency, glue). Salah satu penanganan varises terkini dengan metode minimal invasif adalah dengan endovenous cyanoacrylate ablation atau dikenal juga dengan istilah glue ablation.

Modalitas ini menggunakan lem medis cyanoacrylate yang disuntikkan ke dalam vena bermasalah melalui kateter kecil. Lem ini merekatkan dinding vena, menutup aliran balik darah yang menyebabkan varises. Pasien dapat kembali beraktivitas normal segera setelah prosedur, tanpa perlu memakai stoking kompresi.

4. Intervensi bedah

“Stripping vena safena, flebektomi, dan ligasi perforator. Jika Anda mengalami gejala varises, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah subspesialis bedah vaskular. Dokter akan mengevaluasi gejala yang Anda alami, menegakkan diagnosis, dan membantu menentukan penanganan yang tepat untuk kondisi Anda,” ucapnya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.