Acungi Jempol! BMKG Targetkan Peringatan Dini Gempa-Tsunami Tiga Menit Saja
Kamis, 31 Jul 2025, 18:58 WIBJAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan akan terus meningkatkan sistem peringatan dini gempa dan tsunami di Indonesia. Salah satunya dengan penambahan sensor gempa dan penggunaan tehnologi yang lebih canggih.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, berkeinginan Indonesia bisa mengejar kemampuan peringatan dini gempa dan tsunami seperti yang dilakukan Jepang.
âJepang saat ini memiliki waktu cukup cepat dalam menyampaikan peringatan dini gempa dan tsunami, yakni dalam tiga menit,â kata dia, Kamis (31/7). âSementara itu, kita masih memerlukan waktu sekitar 5 menit dari sejak gempa dan potensi tsunami terjadi. Padahal, kecepatan waktu penyampaian peringatan dini sangat penting, karena menambah golden time tsunami bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi,â imbuh dia.
Sebagai informasi, golden time tsunami merujuk pada rentang waktu singkat antara peringatan dini dan saat gelombang tiba di pantai. Waktu ini sangat krusial untuk evakuasi dan penyelamatan diri dari bencana tsunami.
Oleh karena itu, BMKG akan terus meningkatkan kemampuan penyampaian peringatan dini tersebut melalui penggunakan tehnologi yang lebih canggih. Selain itu, ujarnya, juga dengan upaya penambahan sensor gempa.
âSehingga kerapatan sensor gempa dapat lebih pendek, seperti yang dimiliki Jepang. Jika sensor gempa makin rapat, maka otomatis akan makin meningkatkan juga waktu penyampaian peringatan dini gempa dan tsunami,â kata dia.
Jepang diketahui memiliki kerapatan sensor gempa kurang lebih 5 km. Sementara itu, Indonesia, kata Dwikorita masih jauh dari jarak tersebut.
âSalah satu penghambatnya memang soal kondisi geografis wilayah kita yang berbeda dengan Jepang. Namun, demikian kami akan terus meningkatkan jumlah sensor pendekteksi gempa,â ujar dia.
Dia mengatakan, Indonesia memiliki lebih dari 530 sensor gempa yang tersebar di seluruh wilayah.Sensor gempa ditempatkan di lokasi strategis, termasuk di wilayah yang rawan gempa seperti zona megathrust dan daerah dengan sejarah gempa bumi yang signifikan.
Jepang diketahui memiliki jaringan sensor gempa yang sangat padat, terutama di daerah yang rawan gempa. Jaringan nasional mereka (S-net), bahkan mencakup wilayah lepas pantai seperti Palung Jepang, tempat gempa bumi besar sering terjadi.
Sistem ini dibangun setelah gempa bumi dan tsunami 2011, dan menghubungkan jaringan deteksi gempa bumi nasional ke Palung Jepang. Jepang memiliki sistem peringatan dini gempa yang sangat canggih yang dapat mendeteksi gempa dalam hitungan detik setelah terjadi.
Hal ini memungkinkan masyarakat untuk mengambil tindakan evakuasi. Jepang menggunakan skala shindo untuk mengukur tingkat guncangan gempa, yang berbeda dengan skala magnitudo yang mengukur ukuran gempa. ils/I-1
- Gempa
- Peringatan Tsunami
- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Konser Musik Mahabbah Allah Pakem 9 Ajak Kita Sadari Kesalahan dan Bertaubat
-
Seychelles, Negara Mungil Berpasir Putih di Tengah Samudera Hindia
-
BMKG Prakirakan Seluruh DKI Jakarta Berawan pada Selasa Siang hingga Sore
-
Prabowo Sebut Kebocoran Kekayaan Negara yang Mengalir Keluar Negeri Sebabkan Kecilnya Gaji Guru dan ASN
-
Wamenaker Afriansyah Noor: SKKNI Jadi Kunci Tingkatkan SDM Pertahanan dan Keamanan Maritim
-
Pemerintah Kota Tangerang Imbau Panitia Siapkan Kemasan Kurban Ramah Lingkungan
-
Setiap Tahunnya Lebih dari 408.000 Kasus Kanker Baru Terjadi, Indonesia Butuh Perkuatan Kolaborasi Global
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.