Badui Tak Tergoda Modernisasi, Padi Huma Jadi Simbol Kemandirian!
📅 Rabu, 30 Jul 2025, 16:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Mansur
LEBAK - Pertanian padi ladang (huma) memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan, khususnya di daerah yang memiliki keterbatasan lahan basah.
Selain itu, pertanian huma juga berperan dalam melestarikan budaya dan lingkungan.
Sejumlah petani Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sejak sepekan terakhir mulai menggarap pertanian ladang padi huma berdasarkan kalender adat.
"Kami hari ini membuka hutan berjalan lancar untuk pertanian ladang padi huma dan tanaman palawija," kata Santa (55), salah seorang petani Badui di Blok Cicuraheum Gunung Kencana, Kabupaten Lebak, Rabu (30/7).
Ia mengatakan petani Badui menggarap pertanian ladang huma itu dengan melakukan pembabatan rerumputan ilalang dan pepohonan di hutan perbukitan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mereka mengembangkan pertanian organik tanpa menggunakan pupuk kimia.Dan jika membuka lahan ladang huma tentu sisa-sisa pembabatan semak belukar, pohon, hingga ilalang dan limbah sampah nantinya dibakar, lanjutnya.
Sisa pembakaran bisa dijadikan pupuk organik yang dapat menyuburkan tanaman padi huma dan tanaman lainnya, katanya.
Menurut dia, penggarapan lahan pertanian ladang huma itu berdasarkan kalender adat dan dilakukan gerakan tanam padi huma atau padi gogo di lahan tanah darat pada September mendatang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengatakan bila gerakan tanam padi huma dilakukan September 2025, maka diperkirakan akan panen enam bulan ke depan, mengingat petani menggunakan benih padi lokal.
"Kami meyakini panen raya padi huma dari tanam September 2025 bisa dipanen pada Maret 2026," katanya.
Sekretaris Desa Kanekes Medi mengatakan saat ini petani Badui secara serentak mulai menggarap lahan ladang huma dengan membuka hutan di perbukitan dan pegunungan.
Menurut Medi, petani Badui hingga kini masih mempertahankan adat leluhur dengan melaksanakan pertanian ladang huma di lahan darat sebagai sumber ketersediaan pangan keluarga juga ekonomi.
Karena itu belum pernah ditemukan kerawanan pangan maupun kelaparan di wilayah Suku Badui yang berpenduduk 4.320 kepala keluarga (KK) dan 14.600 jiwa dan tersebar di 68 kampung itu, ujar dia.
Petani Badui, lanjutnya, selain bercocok tanam padi huma juga tanaman palawija dan sayuran. Biasanya, hasil panen tanaman palawija dan sayuran mereka jual ke pasar dan menjadi pendapatan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!