Danau Toba Dikepung Api, Hujan Buatan Gagal Total? Pemerintah Kewalahan Hadapi Karhutla
Selasa, 29 Jul 2025, 14:45 WIBJAKARTA - Usaha keras pemerintah memadamkan kobaran api di kawasan Danau Toba melalui hujan buatan tampaknya belum membuahkan hasil menggembirakan.Â
Sejak dimulainya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada (26/7/2025), efektivitasnya baru mencapai 50 persen, terbukti masih banyak titik api aktif yang menyelimuti Kaldera Toba dan sekitarnya.
Wilayah Sumatera Utara kini tengah didera puncak musim kemarau yang brutal. Menurut Edison Kuniawan, Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, hal ini membuat pembentukan awan hujan menjadi sangat terbatas.Â
âPotensi awan sangat rendah. Kami terus berupaya, tapi efektivitas OMC masih setengah jalan,â ujarnya dari Bandara Silangit, Senin (28/7/2025).
Upaya penyemaian awan sudah dilakukan secara masif. Namun, hujan yang berhasil diturunkan hanya bersifat lokal dan belum cukup kuat untuk menumpas kobaran api secara menyeluruh.Â
Beberapa wilayah seperti Samosir Utara, Padang Lawas Utara, Binjai, hingga Toba memang sempat diguyur hujan, tetapi hasilnya belum signifikan.
âBenar ada hujan, tapi belum cukup untuk memadamkan seluruh kebakaran. Tantangannya luar biasa besar,â kata Edison.
Kawasan Kaldera Toba menjadi titik fokus karena nilai ekologis, ekonomis, serta budayanya yang tinggi. Namun ironi terjadi, wilayah ini justru mengalami tekanan atmosfer yang sangat tidak mendukung pembentukan awan hujan.
âPenyemaian awan tidak bisa sembarangan. Kami harus benar-benar menargetkan titik yang krusial,â jelas Edison.
Geopark Kaldera Toba, yang mencakup daerah seperti Samosir, Toba, dan Tapanuli Utara, kini nyaris berubah jadi lahan kering kerontang. Kolaborasi BMKG, TNI AU, dan BNPB terus ditingkatkan, termasuk pengerahan pesawat water bombing untuk menjangkau titik-titik panas di medan terjal yang sulit diakses tim darat.
âPesawat water bombing jadi solusi di medan ekstrem, terutama di daerah seperti Tampahan, Balige, Sigapiton, Nassau, dan Parsoburan. Ini lokasi-lokasi kritis dekat permukiman warga,â ungkap Edison.
Ancaman kebakaran semakin nyata, bukan hanya untuk hutan tapi juga untuk sektor pertanian. Air tanah makin sulit didapat, sementara petani mulai menjerit akibat lahan kering tak bisa digarap. Oleh karena itu, BMKG dan BNPB menyarankan agar operasi hujan buatan diperpanjang hingga awal Agustus.
Edison menegaskan OMC bukan satu-satunya solusi. Koordinasi antarinstansi terus ditingkatkan untuk memastikan langkah penanganan bencana bersifat cepat dan menyeluruh. Pemerintah daerah pun diminta lebih aktif dalam pelaporan titik api dan pengajuan tambahan hujan buatan.
Yang lebih mendesak lagi adalah kesadaran masyarakat. Edison memperingatkan agar warga tidak melakukan pembakaran lahan, termasuk untuk keperluan bertani.
âDalam kondisi seperti ini, api sekecil apa pun bisa jadi bencana besar. Tolong hentikan praktik pembakaran. Jangan tambah parah situasinya,â tutup Edison.
Dengan cuaca yang makin ekstrem dan titik api yang terus bermunculan, masa depan Kaldera Toba kini berada di ujung tanduk. Hujan buatan belum cukup, dan waktu terus berjalan.
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
Berita Terkait:
-
Kebakaran 7,5 Hektare Hutan dan Lahan di Rokan Hilir Riau Berhasil Dipadamkan
-
Bersama Bung Karno, Forum Praksis Ajak Kembali Mengobarkan Semangat Pancasila bagi Indonesia dan Dunia
-
Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu
-
Pemprov: Pada HUT Jakarta 22 Juni, Puncak Monas Dibuka Gratis
-
Pemkot Depok Siapkan Penataan Situ Cilangkap, Jogging Track 1,5 Km Akan Terhubung Penuh
-
Festival dolanan bocah
-
Masjid Tuo Ampang Gadang di Sumbar Dipugar, Siap jadi Destinasi Sejarah, Budaya, dan Religi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.