Konflik Thailand-Kamboja, Bangkok: Lebih dari 100.000 Warga Sipil Mengungsi

Jumat, 25 Jul 2025, 11:05 WIB

BANGKOK - Lebih dari 100.000 orang melarikan diri dari pertempuran perbatasan paling berdarah antara Thailand dan Kamboja, kata Bangkok, Jumat (25/7). Jumlah korban tewas meningkat, kekuatan internasional mendesak perang dihentikan.

Konflik perbatasan yang telah berlangsung lama meletus menjadi pertempuran sengit yang melibatkan jet, artileri, tank dan pasukan darat pada hari Kamis (24/7). Dewan Keamanan PBB akan menggelar pertemuan darurat mengenai krisis tersebut pada hari Jumat.

Ket. Foto: Warga Thailand yang mengungsi dari rumah mereka setelah bentrokan antara tentara Thailand dan Kamboja beristirahat di pusat evakuasi di Provinsi Surin, Thailand pada 25 Juli 2025. — Sumber: AP

Kementerian Dalam Negeri Thailand mengatakan lebih dari 100.000 orang dari empat provinsi perbatasan telah dipindahkan ke hampir 300 tempat penampungan sementara. Sementara Kementerian Kesehatan mengumumkan jumlah korban tewas meningkat menjadi 14 orang - 13 warga sipil dan satu tentara.

Di kota Samraong, Kamboja, 20 kilometer dari perbatasan, wartawan AFP melaporkan mendengar tembakan artileri dari kejauhan pada Jumat pagi.

Saat senjata mulai ditembakkan, beberapa keluarga mengemasi barang-barang ke dalam kendaraan dan membawa anak-anak mereka. lalu bergegas pergi. 

"Saya tinggal sangat dekat dengan perbatasan. Kami takut karena mereka mulai menembak lagi sekitar pukul 6.00 pagi," ujar Pro Bak (41), kepada AFP.

Dia membawa istri dan anak-anaknya ke kuil Buddha untuk mencari perlindungan.

"Saya tidak tahu kapan kami bisa pulang," katanya.

Wartawan AFP juga melihat tentara bergegas menjaga peluncur roket dan melaju kencang menuju perbatasan.

Serukan Ketenangan

Pertempuran itu menandai peningkatan dramatis dalam pertikaian yang telah berlangsung lama antara kedua negara tetangga terkait wilayah perbatasan sepanjang 800 kilometer (500 mil). Kedua negara merupakan tujuan populer bagi jutaan wisatawan asing.

Puluhan kilometer di beberapa daerah diperebutkan dan pertempuran pecah antara tahun 2008 dan 2011, mengakibatkan sedikitnya 28 orang tewas dan puluhan ribu orang mengungsi.

Putusan pengadilan PBB pada tahun 2013 menyelesaikan masalah tersebut selama lebih dari satu dekade, tetapi krisis saat ini meletus pada bulan Mei ketika seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan baru.

Pertempuran pada hari Kamis difokuskan pada enam lokasi, menurut tentara Thailand, termasuk sekitar dua kuil kuno.

Pasukan darat yang didukung oleh tank bertempur untuk menguasai wilayah, sementara Kamboja menembakkan roket dan peluru ke Thailand, dan Thailand mengerahkan jet F-16 untuk menyerang target militer di seberang perbatasan.

Kedua belah pihak saling menyalahkan karena melepaskan tembakan terlebih dahulu, sementara Thailand menuduh Kamboja menargetkan infrastruktur sipil, termasuk sebuah rumah sakit yang terkena serangan peluru dan sebuah pompa bensin yang terkena setidaknya satu roket.

Bentrokan hari Kamis terjadi beberapa jam setelah Thailand mengusir duta besar Kamboja dan menarik utusannya sendiri setelah lima anggota patroli militer Thailand terluka oleh ranjau darat.

Kamboja menurunkan hubungan ke "level terendah" pada hari Kamis, menarik semua diplomatnya kecuali satu dan mengusir diplomat Thailand dari Phnom Penh.

Atas permintaan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pertemuan darurat pada hari Jumat untuk membahas bentrokan mematikan tersebut, kata sumber diplomatik kepada AFP.

Amerika Serikat mendesak konflik "segera" diakhiri. Sementara Prancis yang menguasai Kamboja di masa kolonialisme,membuat seruan serupa.

Uni Eropa dan Tiongkok -- sekutu dekat Phnom Penh -- mengatakan "sangat prihatin" tentang bentrokan tersebut dan menyerukan dialog.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.