“Berani Adalah Cahaya, Film Musikal Anak Muda Paroki Wedi tentang Keberanian dan Pendidikan Karakter
📅 Sabtu, 19 Jul 2025, 09:48 WIB | Oleh: Henri pelupessy
Doc: koran jakarta/dok
KALASAN - Makna keberanian tidak selalu tentang adu fisik atau menantang bahaya. Bagi sekelompok orang muda Katolik Paroki Wedi, Klaten, keberanian justru dimaknai sebagai cahaya yang lahir dari suara hati dan keputusan yang benar.
Gagasan ini menjadi inti dalam sebuah film musikal berjudul “Berani Adalah Cahaya”, yang saat ini sedang memasuki tahap penyuntingan akhir. Film berdurasi 60 menit tersebut disutradarai oleh Rm Basilius Edy Wiyanto Pr, yang juga Pastor Paroki Wedi.
Dalam pemaparan di Chandari Heaven, Kalasan, Sleman, Kamis (17/07), Rm Edy menjelaskan bahwa “berani” dalam film ini bukan sekadar nekat atau menantang larangan, tetapi merupakan nilai moral ketika seseorang memutuskan untuk setia pada kebenaran, meskipun mengandung risiko.
“Keberanian sejati adalah cahaya yang memberi inspirasi dan penerangan. Tapi, cahaya itu tidak datang tanpa risiko. Ia muncul saat seseorang memilih mendengarkan suara hati dan bertindak berdasarkan nilai yang diyakini,” tegas Rm Edy.
Plot film ini berkisah tentang sekelompok siswa yang mencari bola volley yang tersesat ke dalam hutan terlarang. Meski telah diperingatkan oleh guru-guru sekolah, salah satu anak nekat masuk. Di sinilah cerita berkembang menjadi alegori tentang pencarian makna sejati dalam pendidikan dan keberanian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di balik larangan dan mitos, ternyata tersembunyi harta karun. Namun bukan emas atau perhiasan, harta karun yang dimaksud adalah nilai-nilai pendidikan, eksploratif, kreatif, dan integral.
Tiga nilai ini disebut sebagai kunci pembentukan karakter anak, yang menjadi warisan pemikiran tokoh pendidikan Rm YB Mangunwijaya Pr atau yang dikenal sebagai Romo Mangun.
Inspirasi dari Romo Mangun
Sebaiknya Anda baca juga:
Rm Edy mengungkapkan, film ini terinspirasi dari semangat dan pemikiran Rm Mangunwijaya, tokoh pendidikan progresif yang dikenal karena dedikasinya bagi anak-anak marginal di bantaran Kali Code, Yogyakarta.
Romo Mangun menekankan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar soal kognisi, tapi membentuk manusia utuh melalui eksplorasi, kreativitas, dan integritas.
“Nilai-nilai Romo Mangun sangat relevan. Dalam film ini, ketiga nilai itu digambarkan sebagai harta karun yang harus digali dan ditemukan oleh setiap anak,” ujar Rm Edy.
Menurutnya, pendidikan masa kini cenderung abai terhadap nilai-nilai tersebut. Anak-anak justru kehilangan masa kecil karena tekanan kurikulum, gawai, dan sistem yang dirancang bukan untuk membebaskan, melainkan membentuk mereka sesuai kehendak penguasa atau zaman.
Film ini merupakan karya kolektif yang digarap oleh sekitar 90 orang, termasuk pemain, kru, dan pendukung. Naskah ditulis oleh Paulus Muhammad Sodiq, sementara proses editing dan pengambilan gambar ditangani oleh Cornelius Teddy H. Aransemen musik dan lagu dikerjakan oleh Emanuel Maria Venanto Rio Nursetyo.
Seluruh proses produksi dilakukan dengan dana terbatas dan dukungan dari komunitas. Lokasi pengambilan gambar berpusat di Giri Wening, Sengonkerep, Gedangsari, Gunungkidul, yang menyajikan lanskap alam dan budaya pedesaan yang menawan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!