- Home
-
- Luar Negeri
-
- Usulan Tarif 30 Persen Anc...
Usulan Tarif 30 Persen Ancam Resesi Ekonomi Uni Eropa
Jumat, 18 Jul 2025, 01:00 WIBBerlin - Uni Eropa (UE) kini berada di ambang resesi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 30 persen terhadap produk-produk dari UE mulai 1 Agustus 2025.
Menurut perkiraan Oxford Economics pada Rabu (16/7), tarif 30 persen dari AS dapat memangkas pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Zona Euro hingga 0,3 persen poin setiap tahun selama dua tahun ke depan, yang berpotensi mendorong kawasan ini ke jurang stagnasi ekonomi. Risiko ini diperparah oleh ketidakpastian yang meningkat, yang dapat merusak kepercayaan bisnis dan investasi perusahaan.
UE, sebagai mitra dagang terbesar AS dan blok perdagangan terbesar di dunia, telah menunda penerapan langkah-langkah pembalasan yang direncanakan hingga bulan depan, menunjukkan harapan untuk mencapai kesepakatan sebelum batas waktu 1 Agustus. Meskipun demikian, para menteri perdagangan EU telah sepakat untuk merumuskan daftar barang-barang AS senilai sekitar 72 miliar Euro yang akan menjadi target tarif balasan jika negosiasi gagal.
Pejabat UE memperingatkan bahwa tarif tersebut dapat mengganggu rantai pasokan transatlantik yang vital, merugikan bisnis, konsumen, dan bahkan pasien di kedua belah pihak. Maroš Šef?ovi?, Perwakilan Perdagangan EU, menyatakan bahwa tarif 30% atau lebih tinggi pada dasarnya akan "melarang perdagangan" antara kedua entitas ekonomi tersebut.
Dampak tarif ini diperkirakan akan memengaruhi berbagai sektor, mulai dari keju Prancis dan barang kulit Italia hingga elektronik Jerman dan farmasi Spanyol, yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi di seluruh negara anggota UE. UE menekankan komitmennya terhadap dialog, namun menegaskan akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan mereka, termasuk penerapan tindakan balasan yang proporsional jika diperlukan.
Dari Jerman, usulan tarif 30 persen untuk impor UE, dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi Jerman sekitar 0,25 poin persentase pada 2025 maupun 2026, demikian disampaikan Institut Kebijakan Ekonomi Makro Jerman (Macroeconomic Policy Institute/IMK).
Trump berjanji akan memberlakukan tarif mulai 1 Agustus jika tidak ada kemajuan dalam pembicaraan perdagangan dengan UE. Tarif-tarif tersebut kemungkinan akan menghentikan pertumbuhan Jerman pada 2025 dan membatasinya hingga 1,2 persen pada 2026, menurut IMK.
Sebelumnya, institut tersebut memperkirakan pertumbuhan moderat 0,2 persen tahun ini dan 1,5 persen tahun depan, didukung oleh pemulihan pada akhir 2025 serta peningkatan investasi publik dan belanja pertahanan.
Meski Jerman terdampak, IMK memperingatkan dampak ekonomi bagi AS bisa lebih parah. Tarif ini diperkirakan akan meningkatkan harga konsumen, mengurangi pendapatan riil, dan menekan konsumsi rumah tangga. Dengan tekanan inflasi yang kemungkinan membuat kebijakan moneter tetap ketat, pertumbuhan AS secara keseluruhan dapat turun sekitar 0,7 poin persentase, kata institut tersebut.
AS merupakan pasar ekspor terbesar Jerman hingga 2024, menyumbang hampir 10 persen dari total ekspor. Perlambatan permintaan AS dan efek lanjutan di ekonomi-ekonomi lain dapat semakin membebani ekspor Jerman, IMK memperingatkan
Dengan meningkatnya risiko-risiko ini, institut tersebut mengatakan bahwa kini semakin penting bagi pemerintah Jerman untuk mewujudkan stimulus fiskal yang telah dijanjikan.
Laporan ITA
Sementara itu, lebih dari 6.000 perusahaan Italia terdampak langsung oleh risiko tarif perdagangan AS yang lebih tinggi, menurut laporan Badan Perdagangan Italia (Italian Trade Agency/ITA), Rabu (16/7).
Laporan ITA mengatakan perusahaan-perusahaan yang terdampak sebagian besar adalah usaha mikro dan kecil yang beroperasi di sektor-sektor bernilai tambah tinggi seperti industri minuman, produk logam, farmasi, mebel, perdagangan retail, dan produk-produk yang berhubungan dengan transportasi selain kendaraan bermotor.
Laporan tersebut memperkirakan nilai ekspor dari perusahaan-perusahaan itu ke AS mencapai lebih dari 11 miliar euro (1 euro = 18.924 rupiah). Asosiasi untuk Pengembangan Industri di Mezzogiorno (SVIMEZ) awal pekan ini juga memperingatkan soal potensi dampak dari tarif tersebut, dengan memperkirakan penurunan 0,5 persen dalam PDB Italia pada 2026 dan potensi hilangnya hingga 150.000 pekerjaan.
- hubungan dagang
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Kemenkeu Berniat Gelar Tabayyun dengan MUI Mengenai Pajak
-
Rangkaian Paskah, Umat Katolik Kaltara visualisasikan Jalan Salib
-
Kurangi Konsumsi Diesel, Segera Konversi PLTD ke PLTS+BESS
-
Pasar Latin Nggak Bisa Diabaikan Lagi: Cili Buktiin Dagang RI Naik 12% Pasca CEPA
-
Pemkab Penajam Usulkan 168 Km Jalan Sepaku Dilimpahkan ke Otorita Ibu Kota Nusantara agar Perbaikan Infrastruktur Dipercepat
-
Prabowo Awali Agenda di Washington DC dengan Temui Komunitas Bisnis AS
-
Target Ambisius: Pemerintah Kebut Pembangunan 33 PLTSa, Dimulai dari 7 Proyek pada 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.