- Home
-
- Luar Negeri
-
- PBB: Pemangkasan Bantuan d...
PBB: Pemangkasan Bantuan dan Misinformasi Mengancam Kemajuan Vaksinasi Anak
Selasa, 15 Jul 2025, 09:15 WIBJENEWA - Tingkat vaksinasi bayi global stabil setelah menyusut selama krisis Covid, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa (15/7). Namun PBB memperingatkan misinformasi dan pemangkasan bantuan yang drastis memperdalam kesenjangan cakupan yang membahayakan jutaan orang.
Pada tahun 2024, 85 persen bayi di seluruh dunia, atau 109 juta jiwa, telah menerima tiga dosis vaksin difteri, pertusis, dan tetanus (DPT). Dosis ketiga berfungsi sebagai penanda utama cakupan imunisasi global, menurut data yang diterbitkan oleh badan kesehatan dan anak-anak PBB.
Hal ini menandai peningkatan satu poin persentase dan satu juta anak lebih yang tercakup dibandingkan tahun sebelumnya, dalam apa yang digambarkan sebagai keuntungan "sederhana".
Pada saat yang sama, hampir 20 juta bayi melewatkan setidaknya satu dosis DPT mereka tahun lalu, termasuk 14,3 juta anak yang disebut "dosis nol" yang tidak pernah menerima suntikan sama sekali.
Meskipun ada sedikit peningkatan dibanding tahun 2023, ketika PBB mengatakan ada 14,5 juta anak yang tidak mendapat dosis pertama, jumlah tersebut 1,4 juta lebih banyak dibanding tahun 2019 -- sebelum pandemi Covid mendatangkan malapetaka pada program vaksinasi global.
"Kabar baiknya adalah kami telah berhasil menjangkau lebih banyak anak dengan vaksin yang menyelamatkan jiwa," kata kepala UNICEF Catherine Russell dalam pernyataan bersama.Â
"Tetapi jutaan anak masih belum memperoleh perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah," katanya.
"Itu seharusnya membuat kita semua khawatir."
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, planet ini "keluar jalur" untuk mencapai tujuannya guna memastikan 90 persen anak-anak dan remaja di dunia menerima vaksin penting pada tahun 2030.
"Pemotongan bantuan yang drastis, ditambah dengan misinformasi tentang keamanan vaksin, mengancam akan menggagalkan kemajuan yang telah dicapai selama puluhan tahun," demikian peringatan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Laporan hari Selasa memperingatkan bahwa akses vaksin masih sangat tidak merata, dengan konflik yang meluas mengikis upaya meningkatkan cakupan vaksin.
Pemotongan bantuan internasional secara dramatis oleh Amerika Serikat khususnya, juga negara lain, dapat memperburuk situasi.Â
"Kemampuan kami merespons wabah di hampir 50 negara telah terganggu akibat pemotongan dana," ujar kepala imunisasi UNICEF, Ephrem Lemango, kepada para wartawan.
Sementara kurangnya akses menjadi penyebab utama rendahnya cakupan secara global, lembaga-lembaga tersebut juga menyoroti ancaman misinformasi.
Kesenjangan yang BerbahayaÂ
Menurunnya, kepercayaan terhadap "bukti yang diperoleh dengan susah payah mengenai keamanan vaksin" berkontribusi terhadap kesenjangan kekebalan dan wabah yang berbahaya, kata kepala vaksin WHO, Kate O'Brien, kepada para wartawan.
Para ahli telah membunyikan alarm peringatan di Amerika Serikat khususnya, di mana Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. sendiri telah lama dituduh menyebarkan informasi yang salah tentang vaksin, termasuk tentang vaksin campak, bahkan saat AS bergulat dengan epidemi campak terburuk dalam 30 tahun.
Tahun lalu, 60 negara mengalami wabah besar dan mengganggu akibat penyakit yang sangat menular ini, hampir dua kali lipat dari 33 pada tahun 2022, menurut laporan tersebut.
Diperkirakan dua juta lebih anak di seluruh dunia divaksinasi campak pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi tingkat cakupan global masih jauh di bawah 95 persen yang dibutuhkan untuk mencegah penyebarannya.Â
Pada catatan positif, laporan hari Selasa menunjukkan bahwa cakupan vaksin terhadap berbagai penyakit telah meningkat tahun lalu di 57 negara berpenghasilan rendah yang didukung oleh aliansi vaksin Gavi.
"Pada tahun 2024, negara-negara berpenghasilan rendah melindungi lebih banyak anak daripada sebelumnya," kata kepala Gavi, Sania Nishtar.
Namun, data tersebut juga menunjukkan "tanda-tanda penurunan" muncul di negara-negara berpendapatan menengah ke atas dan tinggi, yang sebelumnya cakupannya mencapai sedikitnya 90 persen.
"Bahkan penurunan terkecil dalam cakupan imunisasi dapat menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan," kata O'Brien.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP, Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Mengkhawatirkan! Ekspor Makanan Laut Vietnam Anjlok
-
Plt Bupati: Warga Bekasi Diingatkan Pakai Masker untuk Cegah Wabah Super Flu
-
PBB Sampaikan Belasungkawa bagi Korban Banjir di 4 Negara Asia
-
Panda Liar Makin Terlindung di Tiongkok
-
Kim Woo Bin dan Shin Min Ah Resmi Menikah Setelah 10 Tahun Berpacaran
-
Menhan AS: Operasi Militer ke Suriah Balas Serangan ISIS
-
Hotel Ciputra Jakarta Resmi Menerima Sertifikasi Chinese Friendly Hotel dari Ctrip
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.