Satusehat Diperbarui, Masyarakat Bisa Cek Data Kesehatan Pribadi

Rabu, 05 Agu 2026, 03:17 WIB

JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pihaknya akan memperbarui Satusehat agar pengguna dapat memantau tren kesehatan pribadi dan melakukan tindak lanjut kesehatan yang diperlukan.

Dia menjelaskan, sejumlah pembaruan itu mencakup pencatatan progres olahraga layaknya menggunakan perangkat wearable, serta integrasi data kesehatan dengan akun agar bisa dilihat pengguna. Pihaknya juga mempertimbangkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk merespons kondisi kesehatan pengguna dengan memberikan arahan.

Ket. Foto: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. — Sumber: Antara

“Jadi teman-teman bisa kayak bisa lihat rekening bank gitu. Ini bisa lihat data kesehatan di manapun. Dicek di rumah sakit A, di laboratorium B, di rumah sakit C, di puskesmas D, semua data kesehatannya bisa masuk jadi satu file di Satusehat-nya teman-teman,” kata Budi di Jakarta, Selasa (4/8).

Menurutnya, pengguna nantinya dapat melihat sejumlah indikator kesehatan, seperti tekanan darah, gula darah, dan kolestrol, beserta perkembangannya dari waktu ke waktu.

Selain data dari fasilitas kesehatan, Ssatusehat juga disiapkan untuk dapat menampilkan data aktivitas fisik, seperti lari, layaknya perangkat wearable yang digunakan untuk mencatat kegiatan olahraga.

Budi mengatakan, pihaknya juga mempertimbangkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam Satu sehat untuk memberikan petunjuk ketika indikator kesehatan pengguna menunjukkan kondisi yang perlu mendapat perhatian.

“Dan nanti mungkin kita kasih AI sedikit. Jadi kalau misalnya udah tinggi, mesti ngapain aja. ‘Kontak dokter Dante, ini nomor teleponnya’,” ujarnya.

Dia berharap pembaruan Satusehat tersebut dapat diluncurkan pada Agustus 2026. Satusehat adalah platform pertukaran data kesehatan nasional resmi dari Kemenkes yang menghubungkan rekam medis pasien dari berbagai fasilitas kesehatan ke dalam satu sistem terintegrasi.

62,7 Juta Diskrining

Terkait Cek Kesehatan Gratis (CKG), Meskes mengungkapkan hingga Juli 2026 telah menjangkau 73,8 juta, di mana sebanyak sekitar 62,7 juta diskrining di puskesmas dan komunitas, serta sekitar 11,1 juta anak diskrining di sekolah.

Menkes mengatakan jumlah tersebut dari target cakupan 2026 sebanyak 130 juta orang. CKG pada 2026 difokuskan pada tindak lanjut pada tiga kondisi kesehatan, ujarnya, yakni tekanan darah, gula darah, dan kolesterol tinggi, sebagai upaya meningkatkan angka harapan hidup dan umur harapan hidup sehat. “Indonesia tuh 72. Sekarang udah naik 74 ya. Nanti mau 2029 target umurnya 76 tahun,” katanya.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes dr. Maria Endang Sumiwi mengatakan, dalam CKG 2026, terdapat kenaikan cakupan dari seluruh kelompok usia, di mana pada tahun 2026 peserta termasuk 1,5 juta bayi baru lahir, 4,5 juta anak usia prasekolah.

“Di sekolah sudah kita lakukan CKG sekolah, meskipun nanti bulan Agustus minggu kedua ini akan jauh lebih besar lagi. Untuk yang usia sekolah 14,6 juta dibandingkan tahun lalu 33 ribu. Pada dewasa tahun lalu sampai Juli 12 juta. Tahun ini sudah 43 juta,” jelasnya.

Selain itu, katanya, pada tahun ini ada 9,7 juta lansia yang mengikuti CKG, di mana pada 2025 hanya ada 2,4 juta.

Sejumlah provinsi dengan cakupan tertinggi, katanya, seperti Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, Banten, dan Lampung.

Kemudian, terkait tindak lanjut CKG, katanya, data Sistem Informasi di tiga puskesmas menunjukkan tata laksana hipertensi berkisar 43-62 persen.

Meski cakupan lebih tinggi dari 2025, Endang menyebutkan bahwa masih ada tantangan berupa ketidaktahuan publik tentang CKG, keengganan untuk memeriksakan diri karena takut hasil pemeriksaan, atau karena sibuk sehingga tidak sempat.

Pihaknya juga mengingatkan publik untuk mengikuti CKG setiap tahunnya, karena dengan CKG, dapat mengetahui kondisi yang muncul dari yang sebelumnya tidak ada.

Dia mencontohkan, pada 2025, ada sekitar 36 juta orang yang tidak punya diabetes melitus. Dari 36 juta orang itu, sebanyak 8,39 juta diperiksa lagi pada 2026, dan 188 ribu di antaranya ternyata sudah terkena diabetes.

Dalam kesempatan yang sama, Pakar Kesehatan dari Universitas Indonesia (UI) dr Iwan Ariawan mengatakan, kalau ketidaktahuan akan kondisi kesehatan dibiarkan saja, diperkirakan pada 2035 kasus hipertensi yang memburuk menjadi penyakit kardiovaskular ada sekitar 5,9 juta.

“Tapi kalau dengan CKG, ini bisa kita kurangin 30 persen. Yang lain sudah terlanjur karena sudah hipertensi sebelumnya, sudah tidak terkendali sebelumnya,” katanya. Ant/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.