'Jauh di Mata Dekat di Hati', Nostalgia Pelayaran Cheng Ho di Asia
📅 Senin, 14 Jul 2025, 19:41 WIB | Oleh: OpikBeralih pada sudut lain pameran, terdapat koleksi keramik Dinasti Tang, kemudian porselen biru-putih yang dibuat di kilang Jingdezhen pada masa Wanli, Dinasti Ming.
Porselen motif biru-putih dengan pengaruh Islam mencerminkan budaya yang dibawa pulang Cheng Ho dan diterima luas oleh perajin Tiongkok. Ini menjadi bukti nyata pelayaran tersebut meninggalkan jejak mendalam dalam seni lintas zaman.
Di sisi lain, pengunjung disuguhkan patung-patung dari masa Kerajaan Majapahit, yang menjalin hubungan diplomatik dengan Dinasti Ming.
Pameran juga menggambarkan hubungan Tiongkok dan Indonesia yang terjalin hingga saat ini, melanjutkan warisan Cheng Ho. Indonesia adalah salah satu mitra pengiriman dan perdagangan utama Tiongkok di Asean.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perayaan 620 tahun pelayaran pertama Cheng Ho
Pameran "Jauh di Mata, Dekat di Hati" menandai berbagai peristiwa bersejarah bagi Indonesia dan Tiongkok, termasuk perayaan 620 tahun pelayaran pertama Cheng Ho, yakni pada tahun 1405.
Lalu, 75 tahun hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Indonesia, 70 tahun Konferensi Asia-Afrika di Bandung, dan 5 tahun hubungan sister city atau kota kembar Shanghai-Jakarta.
Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno berpendapat pelayaran Cheng Ho merupakan simbol perdamaian dan keterbukaan. Nilai-nilai tersebut yang kemudian diangkat dan dirayakan dalam pameran tersebut.
Karena itu, pameran "Jauh di Mata, Dekat di Hati" bukan sekadar pameran seni, tetapi juga refleksi dari warisan sejarah dan semangat persahabatan yang terus menyatukan Indonesia dan Tiongkok.
Ini pun diamini President of Shanghai Art Collection Museum, Hu Muqing. Menurutnya, dalam pelayarannya ke Indonesia, Cheng Ho membawa nilai-nilai peradaban lainnya seperti perdamaian, saling percaya yang menjadi fondasi kuat bagi hubungan persahabatan jangka panjang antara Tiongkok dan Indonesia.
Pameran dibuka sejak 11 Juli lalu dan dijadwalkan berlangsung hingga 11 Agustus 2025, merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Kebudayaan DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Museum seni dengan Shanghai Art Collection Museum.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary menyampaikan kemitraan antara Shanghai dan Indonesia tidak hanya bertujuan untuk menyuguhkan koleksi yang luar biasa, tetapi juga untuk mendorong pemahaman lintas budaya yang lebih dalam serta mempererat hubungan jangka panjang antara Indonesia dan Tiongkok.
Mari menyelami sejenak seperti apa dialog lintas waktu dan ruang dalam rangka merayakan persahabatan antara Tiongkok dan dan Indonesia melalui warisan pelayaran bersejarah Cheng Ho. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!