Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Desa Devisa Dongkrak Pendapatan Penenun NTT hingga 30 Persen

📅 Jumat, 11 Jul 2025, 10:37 WIB | Oleh: Tim Penulis
Desa Devisa Dongkrak Pendapatan Penenun NTT hingga 30 Persen Doc: ANTARA
Ket. Salah satu penenun asal Kampung Hula di Pulau Alor, Mama Sariat Tole, memeragakan penggunaan alat tenun saat media briefing di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Kamis (10/7/2025).

LABUAN BAJO – Program Desa Devisa yang dijalankan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank untuk penenun di Nusa Tenggara Timur membantu mendongkrak pendapatan penenun hingga 30 persen.

“Dari program ini, didapatkan rata-rata peningkatan per penenun 30 persen, yang awalnya Rp750 ribu hingga Rp1 juta per bulan, sekarang Rp975 ribu hingga Rp1,3 juta per bulan,” kata CEO Tenunin, Hayatul Fikri Aziz, salah satu pendamping program, dalam media briefing di Labuan Bajo, NTT, Kamis (10/7).

Program Desa Devisa Tenun NTT mencakup 31 desa yang tersebar di Kabupaten Alor, Belu, Sikka, Ende, dan Sumba Timur. Menurut Aziz, program ini telah berkembang dari yang mulanya hanya 5 kelompok dengan 120 orang, kemudian berkembang menjadi 522 penenun di NTT.

Salah satu penenun asal Kampung Hula di Pulau Alor adalah Mama Sariat Tole yang sudah menekuni seni menenun sejak usia lima tahun. Ia menggunakan benang kapas hasil tanam sendiri dan pewarna alami dari bahan lokal seperti tinta cumi, daun kelor, kunyit, hingga akar mengkudu.

Karya-karyanya telah dipamerkan di 13 negara dan ia tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pembuat warna alami terbanyak untuk kain tenun.

LPEI pun memberdayakan Mama Sariat sebagai mentor dalam program Desa Devisa Klaster Tenun NTT, khususnya untuk mendampingi penenun dalam penggunaan pewarnaan organik dan benang alami.

Hal itu diharapkan dapat meningkatkan kualitas kain tenun agar sesuai dengan standar ekspor global, terutama untuk pasar seperti Jepang yang mengutamakan warna alami dan daya tahan tinggi.

“Selain peningkatan pendapatan, program ini juga memperkuat kapasitas produksi dan memperluas jangkauan pasar, menjadikan kain tenun NTT sebagai produk ekspor yang tidak hanya bernilai budaya tinggi, tetapi juga berdaya saing global,” tambah Aziz.

LPEI mencatat terdapat 1.909 Desa Devisa yang tersebar di 18 provinsi dengan nilai ekspor mencapai Rp123,9 miliar hingga Maret 2025. Program ini melibatkan lebih dari 180.000 penerima manfaat.

Komoditas unggulan yang diangkat meliputi kopi, kakao, kain tenun, batik, rempah, hasil laut, dan produk turunan kelapa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Apakah Ada yang Tahu Apa Itu Jelekongism

3 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Ada yang Tahu Apa It...

Pelatih PSS: Banyak Sekali yang Harus Dibenahi

3 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pelatih PSS: Banyak Sekali ...
Olahraga
Marc Marquez Juara Sprint M...
Olahraga
Sinner Mundur dari Shanghai...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.