Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BNPB: Bencana Hidrometeorologi Dominan

📅 Jumat, 11 Jul 2025, 03:06 WIB | Oleh: Tim Penulis
BNPB: Bencana Hidrometeorologi Dominan Doc: Antara
Ket. Arsip - Tim penanggulangan bencana saat melakukan penanganan bencana longsor di wilayah Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jabar.

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi bencana yang terjadi di wilayah Indonesia termasuk longsor dan banjir bandang di sejumlah daerah.

“Bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi laporan bencana yang dicatat Pusdalops Badan Nasional Penanggulangan Bencana hingga hari ke sepuluh bulan Juli 2025,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Kamis (10/7).

Dia mengatakan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi melaporkan tanah longsor terjadi di Kecamatan Bojonggenteng, Sukabumi, Jawa Barat,pada Rabu (9/7) yang menyebabkan seorang lelaki berusia 15 tahun meninggal dunia karena tertimbun longsor.

Selain korban tewas, dua warga dilaporkan terluka dan dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut. Sementara itu petugas mencatat kerugian material dua rumah warga rusak berat terdampak material longsor.

Sementara itu, di Sulawesi Selatan, banjir bandang dilaporkan terjadi di Kabupaten Bone pada Sabtu (5/7) yang dipicu hujan deras, mengakibatkan Sungai Palakka, Sungai Data, Sungai Hulo, Sungai Lappa Bosse dan Sungai Baruttunge mengalami peningkatan debit air dan meluap hingga ke pemukiman warga.

Sebaiknya Anda baca juga:

Banjir bandang berdampak pada 9 desa dan 3 kelurahan di 8 kecamatan, total sebanyak 500 kepala keluarga (KK) terdampak. Petugas mencatat sebanyak 495 rumah terdampak dan enam jembatan rusak diterjang banjir.

“BNPB diwakili tim Kedeputian Penanganan Darurat bersama Wakil Bupati Bone melakukan peninjauan lokasi jembatan gantung yang putus di Kecamatan Palakka. Dua jembatan gantung tersebut terletak di Desa Usa dan Desa Tengnga. SK tanggap darurat telah ditetapkan selama 14 hari hingga 18 Juli 2025 mendatang,” jelasnya.

Selain bencana hidrometeorologi basah, BNPB juga menerima laporan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dua lokasi yaitu Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara dan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada Rabu (9/7).

Dia mengatakan penyebab dua kejadian karhutla tersebut masih dilakukan didalami oleh pihak yang berwajib dari masing-masing wilayah.

Menanggapi situasi ini, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap ancaman bencana yang dapat terjadi kapan saja.

Modifikasi Cuaca

Dalam kesempatan itu, Abdul Muhari juga memastikan operasi modifikasi cuaca untuk mencegah bencana hidrometeorologi di Jabodetabek akan ­dilakukan sampai dengan Jumat (11/7), meski tidak menutup kemungkinan dilanjutkan ketika terdapat potensi curah ­hujan.

Menurutnya, operasi modifikasi cuaca tersebut dilakukan bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk mengurangi intensitas hujan di Jabodetabek sebagai bagian dari upaya menekan potensi bencana di Jabodetabek.

“Bahwa sampai kapan ini tentu akan kita diskusikan. Yang pasti sampai dengan hari ini kita masih melakukan operasi 24 jam. Besok seperti apa, lusa seperti apa, kami akan terus berkoordinasi dengan BMKG. Untuk sementara ini operasi ini akan kita lakukan sampai tanggal 11,” kata Abdul Muhari. Ant/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

24 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

33 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
Olahraga
Formula 1: Antonelli Harus ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.