Akhir Pahit Karir Luka Modric di Real Madrid
📅 Jumat, 11 Jul 2025, 09:45 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: AFP
BARCELONA, SPANYOL - Luka Modric resmi menutup babak gemilangnya bersama Real Madrid setelah kekalahan telak 0-4 dari Paris Saint-Germain di semifinal Piala Dunia Antarklub yang digelar di New Jersey, Amerika Serikat. Meski perpisahannya berlangsung dalam nada muram, kontribusinya selama 13 tahun di ibu kota Spanyol akan dikenang jauh melampaui laga terakhirnya itu.
Gelandang asal Kroasia berusia 39 tahun tampil dari bangku cadangan dalam laga terakhirnya, Rabu (9/7), dan dipastikan hengkang ke AC Milan musim depan. Kepindahan ini sudah diumumkan sejak Mei lalu, dengan tujuan utama Modric adalah mendapat menit bermain reguler demi menjaga peluang tampil di Piala Dunia 2026 bersama timnas Kroasia.
“Ini memang bukan akhir yang diinginkan, ini akhir yang pahit,” ujar pelatih anyar Madrid, Xabi Alonso. “Namun ia tidak akan dikenang karena pertandingan ini, melainkan karena begitu banyak laga hebat lainnya. Ia adalah legenda sepak bola dunia dan Real Madrid.”
Modric menorehkan 597 penampilan, mencetak 43 gol dan menyumbang 95 assist. Ia meninggalkan Real Madrid dengan koleksi 28 trofi, termasuk enam gelar Liga Champions dan empat La Liga — rekor klub.
Gol-gol dan assist-nya tak hanya menentukan, tetapi juga legendaris. Ia mengirim umpan sudut pada menit ke-93 yang disambut sundulan Sergio Ramos untuk menyamakan kedudukan di final Liga Champions 2014 kontra Atletico Madrid — gol yang menjadi awal dari kemenangan 4-1 Madrid dan mengakhiri penantian panjang meraih La Decima, trofi Eropa ke-10.
Sebaiknya Anda baca juga:
Delapan tahun berselang, Modric kembali mencuri sorotan dengan assist luar biasa menggunakan sisi luar kaki kirinya untuk Rodrygo Goes saat melawan Chelsea di perempat final Liga Champions 2022. Madrid kemudian menyingkirkan The Blues dan kembali menjadi juara.
Presiden klub Florentino Perez menyebut, “Warisan Modric akan hidup selamanya.” Meski perannya berkurang musim lalu di bawah Carlo Ancelotti, yang mulai mengandalkan pemain-pemain muda seperti Fede Valverde dan Aurelien Tchouameni, pengaruh Modric tak tergantikan di ruang ganti.
Modric juga pernah menyandang ban kapten dan menjadi pencetak gol serta pemain tertua Real Madrid di level top. Namun musim terakhirnya ditandai dengan nihilnya gelar mayor dan keterbatasan menit bermain.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada musim pertamanya, ia bahkan sempat dinobatkan sebagai rekrutan terburuk di La Liga. Tapi waktu membuktikan sebaliknya. Ia meraih Ballon d’Or pada 2018, menjadi pemain pertama di luar Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang memenanginya dalam lebih dari satu dekade.
Pelatih Ancelotti pernah bergurau menegur Modric karena satu kesalahan umpan di tengah pujian usai tampil luar biasa melawan Barcelona di final Piala Super Spanyol 2022. “Modric adalah hadiah untuk sepak bola,” puji Ancelotti saat itu.
Kini, kepergian Modric menandai awal era baru di bawah Xabi Alonso — yang pernah menjadi rekan setimnya di lini tengah. Hanya Dani Carvajal yang tersisa dari skuad yang menjuarai Liga Champions 2014. “Kami memulai semuanya dari nol,” ucap Alonso. Tanpa Modric, kata-kata itu terasa lebih nyata.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!