Trump Terjebak Manuver Israel dan Hadapi Kemungkinan Pembalasan Iran Lewat Proksi

Minggu, 22 Jun 2025, 16:55 WIB

Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai telah terjebak dalam strategi militer Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang memicu keterlibatan langsung AS dalam serangan ke fasilitas pengayaan uranium Iran. Kini, AS dihadapkan pada kemungkinan pembalasan dari Iran melalui jalur proksi—yakni dengan memanfaatkan kelompok atau milisi yang didukung Teheran untuk menyerang kepentingan AS dan sekutunya secara tidak langsung.

Laporan The Guardian, Minggu (22/6), mengungkapkan bahwa awalnya sejumlah pengamat memuji Trump atas kemampuannya menjaga jarak dari tekanan Israel. Langkah diplomatiknya melalui utusan Timur Tengah, Steve Witkoff, bahkan sempat mendorong upaya gencatan senjata dengan Hamas. Situasi ini sempat disebut sebagai "faktor Trump", yaitu pendekatan yang tak terduga namun efektif.

Ket. Foto: Presiden AS Donald Trump usai pertemuan KTT G7 di Kanada dalam penerbangan dengan Air Force One menuju kembali ke Washington, Senin (16/6). — Sumber: Dok. AFP

Namun, keseimbangan itu berubah drastis setelah Sabtu lalu, ketika pesawat pembom B-2 milik AS menghantam situs nuklir Iran, hanya sepekan setelah Israel memulai serangan mereka. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyatakan bahwa AS “tidak terlibat” dalam serangan terhadap Iran, menyebutnya sebagai tindakan “sepihak” oleh Israel. Namun dalam waktu singkat, pemerintahan Trump justru berbalik mendukung penuh langkah militer tersebut.

Trump menyampaikan pernyataan resmi:

“Saya ingin mengucapkan terima kasih dan selamat kepada Perdana Menteri Bibi Netanyahu. Kami bekerja sebagai sebuah tim seperti mungkin belum pernah ada tim yang bekerja sebelumnya, dan kami telah melangkah jauh untuk menghapus ancaman mengerikan ini bagi Israel.”

The Guardian menganalisis bahwa Netanyahu berhasil mendorong AS untuk terlibat langsung, setelah sebelumnya AS tampak enggan melakukan intervensi terbuka. Keterlibatan ini membuka potensi eskalasi besar di kawasan Timur Tengah.

Kini, perhatian tertuju pada kemungkinan respons Iran. Analis menyebut bahwa Iran tidak harus membalas secara langsung, tetapi bisa melakukannya melalui “proksi”—kelompok bersenjata seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, atau milisi Syiah di Irak dan Suriah yang memiliki hubungan strategis dengan Teheran. Kelompok-kelompok ini berpotensi menyerang aset militer AS, fasilitas diplomatik, atau mitra AS di wilayah tersebut tanpa menyertakan tanda tangan langsung dari Iran.

Wakil Presiden AS JD Vance bahkan mengakui risiko tersebut. Ia memperingatkan bahwa bila Iran merespons—langsung ataupun melalui proksi—AS bisa terdorong ke dalam operasi militer jangka panjang yang jauh melampaui serangan terbatas yang semula direncanakan.

Sementara itu, Netanyahu menyambut keterlibatan AS dengan pujian. Ia menyebut keputusan Trump sebagai langkah “berani” yang “akan mengubah sejarah”.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.