The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Diperkirakan Kembali Melemah

Jumat, 20 Jun 2025, 01:10 WIB

JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah diperkirakan akan melemah seiring keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) yang tetap mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25-4,5 persen dalam Federal Open Market Committee (FOMC).

Seperti dikutip Antara dari Anadolu Agency, The Fed mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi pasar. Keputusan tersebut sebagai upaya untuk mencapai lapangan kerja maksimal dan inflasi pada tingkat 2 persen dalam jangka panjang.

Ket. Foto: Nilai tukar (kurs) rupiah diperkirakan akan melemah seiring keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) — Sumber: antara

The Fed memperingatkan bahwa ketidakpastian tentang prospek ekonomi telah berkurang, tetapi tetap tinggi. Komite disebut akan terus mengurangi kepemilikan atas sekuritas Treasury dan utang lembaga, serta sekuritas beragun hipotek lembaga.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pelemahan kurs rupiah juga dipengaruhi pernyataan hawkish Gubernur The Fed Jerome Powell yang mengatakan tekanan inflasi masih akan kuat dan penurunan suku bunga walau akan terjadi, namun lebih perlahan.

Dengan berbagai asumsi itu, kurs rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran 16.250-16.400 rupiah per dollar AS. Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Kamis pagi di Jakarta melemah sebesar 39 poin atau 0,24 persen ke level 16.352 rupiah per dollar AS dari sebelumnya 16.313 per dollar AS.

Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pascakeputusan The Fed mempertahankan suku bunga dipandang sebagai respons wajar pasar atas preferensi investor terhadap instrumen yang lebih stabil.

Meskipun selisih (spread) suku bunga Bank Indonesia (BI) dan The Fed tidak berubah, daya tarik dollar tetap tinggi karena dinilai lebih aman untuk investasi.

“Pemilik dana besar dalam rupiah cenderung mengonversi ke dollar karena stabilitas dollar lebih dipercaya. Sementara suku bunga dalam negeri belum berubah, daya tarik rupiah tak cukup kuat untuk menahan arus keluar dana,” kata Sri Susilo di Yogyakarta, Kamis (19/6).

Menurutnya, fenomena itu membuat rupiah cenderung melemah secara perlahan, meskipun tidak dalam posisi ekstrem. Stabilitas kurs rupiah masih cukup terjaga, karena Bank Indonesia aktif mengintervensi pasar agar nilai tukar tidak melonjak tajam.

Dalam upaya menjaga stabilitas kurs, jelasnya bukan hanya tugas jangka pendek melalui intervensi, tetapi juga perlu diplirkan menjaga kepercayaan rupiah dalam jangka panjang, termasuk mendorong BUMN yang memegang cadangan dollar untuk mengkonversi ke rupiah.

“Intervensi pasar oleh BI penting, tapi upaya sistemik dan jangka panjang juga perlu. Stabilitas kurs dan inflasi adalah dua target utama BI yang harus dikawal terus,” pungkasnya.

  • Stabilitas Moneter

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.