Cadangkan Pemain yang Tak Maksimal

Rabu, 05 Agu 2026, 01:15 WIB

JAKARTA - Kekalahan telak dari Vietnam bukan sekadar memutus laju positif Timnas Indonesia di Asean Hyundai Cup (Piala AFF) 2026. Hasil itu mengubah peta persaingan Grup A sekaligus menempatkan skuad Garuda dalam situasi tanpa ruang untuk melakukan kesalahan. Kini, satu-satunya jalan menuju semifinal adalah menaklukkan Singapura di kendang lawan.

Indonesia dipaksa menyerah 0-3 dari Vietnam di Stadion Pakansari, Cibinong, Senin (3/8). Tiga gol tim tamu dicetak Nguyen Van Vi pada menit keenam, Nguyen Hai Long menit ke-15, dan Nguyen Xuan Son menit ke-71. Kekalahan tersebut menjadi pukulan telak bagi pasukan John Herdman sekaligus membuka sejumlah persoalan yang harus segera diselesaikan sebelum laga penentuan di Jalan Besar Stadium, Jumat (7/8).

Ket. Foto: Pemain Indonesia Thom Haye (kiri) berebut bola dengan pemain Vietnam Nguyen Hai Long — Sumber: ANTARA/Bayu Pratama S

Hasil itu membuat Indonesia turun ke peringkat ketiga klasemen Grup A dengan enam poin. Vietnam memimpin klasemen dengan tujuh poin, jumlah yang sama dengan Singapura, tetapi unggul selisih gol. Kondisi tersebut membuat Skuad Garuda wajib meraih kemenangan atas Singapura bila ingin memastikan tiket ke semifinal sekaligus menjaga mimpi meraih gelar Piala AFF pertama sepanjang sejarah.

Pelatih Indonesia, John Herdman, mengakui tim asuhannya tampil jauh dari standar yang diharapkan. Namun, pelatih asal Inggris itu menegaskan fokus utama saat ini bukan lagi meratapi kekalahan, melainkan memastikan para pemain segera bangkit secara fisik maupun mental.

“Saya pikir Anda harus menyiapkan keduanya. Untuk semua pemain ini, respons adalah segalanya. Mereka cukup berpengalaman dan kami memiliki beberapa pemain top yang pernah berada dalam situasi seperti ini,” ujar Herdman.

Menurutnya, proses pemulihan menjadi kunci agar tim mampu menunjukkan reaksi positif pada pertandingan terakhir fase grup. Ini semua tentang respons, melakukan hal-hal kecil dengan benar sekarang. Pemulihan, lalu menggeser pola pikir dan fokus lagi. “Performa kami memang tidak baik,” jelasnya.

Meski berada dalam tekanan besar, Herdman melihat laga melawan Singapura justru menjadi kesempatan bagi para pemain membuktikan karakter mereka. Dia menilai tim berjuluk The Lions berkembang pesat di bawah arahan Gavin Lee dan menjadi salah satu lawan paling sulit di turnamen ini.

“Singapura adalah tim yang sangat terorganisasi dan akan sangat sulit dikalahkan di kandang,” ujar Herdman. Pelatih berusia 51 tahun itu mengingat bagaimana Singapura mampu menahan Vietnam tanpa gol pada pertandingan sebelumnya. Dari sudut pandang taktik, Herdman menganggap lawan memiliki organisasi permainan yang sangat baik.

“Dari sisi taktis, saya sangat terkesan dengan Singapura. Pelatih mereka melakukan pekerjaan yang luar biasa. Anda melihat bagaimana mereka mampu membuat Vietnam frustrasi dan tetap bertahan dalam pertandingan. Itu akan menjadi tantangan yang berat,” jelasnya. Tidak jelas apa maksud Herdman mengungkapkan ini. Harusnya bicara bagaimana Indonesia menghadapi lawan seperti itu. Tidak perlu memuji-muji lawan.

Mendasar

Perlu evaluasi total terhadap performa Indonesia. Rombak susunan pemain. Singkirkan pemain yang jelas-jelas tidak maksimal seperti Eliano Reijnders, yang dalam tiga laga hanya berlari-lari, tak banyak kontribusi. Tapi tetap dipertahankan Herdman. Pemain-pemain muda lebih banyak diturunkan agar tak tua selalu kalah lari seperti Klok atau Jordi Amat. Mereka kalah cepat dengan pemain-pemain Vietnam.

Penampilan kurang maksimal juga ditunjukkan langganan timnas Rizky Ridho. Dua gol pertama lewat sisinya yang dia tinggalkan. Pengamat sepak bola nasional Luciano Leandro menilai kekalahan dari Vietnam memperlihatkan sejumlah kelemahan mendasar yang selama ini belum terselesaikan. Ini seperti kasus di bawah pelatih Kluivert, terlalu banyak menurunkan pemain dari satu klub.

Menurut mantan gelandang PSM Makassar tersebut, masalah paling mencolok terlihat pada transisi bertahan. Indonesia dinilai terlalu lambat kembali ke bentuk permainan ketika kehilangan bola sehingga Vietnam leluasa memanfaatkan ruang kosong.

Indonesia tidak menampilkan performa terbaik. Kekalahan 0-3 di kandang tentu mengecewakan, tetapi harus menjadi bahan evaluasi untuk perkembangan tim. Transisi bertahan Indonesia kurang baik. Setelah kehilangan bola, para pemain terlambat kembali ke posisi sehingga Vietnam mampu memanfaatkan ruang kosong dengan sangat efektif.

“Tim berkualitas seperti Vietnam akan selalu menghukum kesalahan seperti itu,” ujar Luciano. Dia juga menilai koordinasi antarpemain belakang belum berjalan maksimal. Minimnya komunikasi membuat lini pertahanan Indonesia kerap kehilangan organisasi saat menghadapi serangan balik cepat.

  • Timnas Indonesia

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.