2024 Merupakan Tahun dengan Jumlah Konflik Tertinggi

Kamis, 12 Jun 2025, 03:10 WIB

OSLO - Dunia menyaksikan jumlah konflik bersenjata tertinggi dalam hampir 80 tahun pada tahun 2024, menggeser tahun 2023 sebagai tahun rekor, sebuah studi Norwegia yang diterbitkan hari Rabu menunjukkan, menyoroti risiko yang terkait dengan penarikan diri AS.

Tahun lalu, tercatat 61 konflik di dunia yang terjadi di 36 negara, dengan beberapa negara mengalami beberapa konflik secara bersamaan, demikian menurut laporan Institut Penelitian Perdamaian Oslo (Prio).

Ket. Foto: — Sumber: AFP/SAMEER AL-DOUMY

Pada tahun 2023, terdapat 59 konflik di 34 negara.

"Ini bukan sekadar lonjakan - ini adalah pergeseran struktural," kata Siri Aas Rustad, penulis utama laporan yang mencakup tren konflik bersenjata pada periode 1946-2024.

"Dunia saat ini jauh lebih penuh kekerasan, dan jauh lebih terpecah-pecah, dibandingkan satu dekade lalu," kata dia.

Afrika tetap menjadi benua yang paling porak poranda, dengan 28 konflik yang melibatkan sedikitnya satu negara, diikuti oleh Asia dengan 17 konflik, Timur Tengah dengan 10 konflik, Eropa dengan tiga konflik, dan Amerika dengan dua konflik.

Lebih dari separuh negara-negara ini mengalami dua atau lebih konflik.

Jumlah kematian akibat pertempuran tetap berada pada level yang sama seperti pada tahun 2023, yaitu sekitar 129.000, menjadikan tahun 2024 sebagai tahun paling mematikan keempat sejak berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1989, kata penelitian tersebut.

Jumlah korban tewas tertinggi disebabkan oleh perang di Ukraina dan Jalur Gaza, serta bentrokan di wilayah Tigray di Ethiopia.

"Sekarang bukan saatnya bagi Amerika Serikat – atau kekuatan global mana pun – untuk mundur dari keterlibatan internasional," kata Rustad.

"Isolasi dalam menghadapi meningkatnya kekerasan global akan menjadi kesalahan besar dengan konsekuensi jangka panjang terhadap kehidupan manusia," kata dia, merujuk pada kampanye "America First" Presiden AS Donald Trump.

"Adalah suatu kesalahan jika berasumsi bahwa dunia bisa berpaling. Baik di bawah Presiden Trump atau pemerintahan mendatang, mengabaikan solidaritas global sekarang berarti meninggalkan stabilitas yang telah dibangun AS setelah 1945," kata dia.

Studi ini didasarkan pada data yang dikumpulkan oleh Universitas Uppsala Swedia. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Ilham Sudrajat

Berita Terbaru

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.