• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Asupan Vitamin D Perlambat...

Asupan Vitamin D Perlambat Penuaan

Senin, 02 Jun 2025, 07:45 WIB

HASIL riset terbaru vitamin D disebut dapat memperlambat proses yang berkaitan dengan penuaan. Hasil analisa menemukan kelompok yang mengonsumsi suplemen vitamin D mengalami pengurangan pemendekan telomer selama empat tahun.

Uji coba dalam skala besar menunjukkan bahwa vitamin dapat menunda satu mekanisme biologis yang terkait dengan penuaan. Menurut laporan penelitian yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition, orang yang memiliki asupan vitamin D yang lebih tinggi mungkin memperlambat proses biologis yang terkait dengan penuaan.

Ket. Foto: Seorang gamer Taiwan dari tim eSports Flash Wolves mengonsumsi vitamin saat latihan untuk Kejuaraan Dunia League of Legends di sebuah kamp pelatihan di Shanghai, baru-baru ini, — Sumber: CHANDAN KHANNA / AFP

Tetapi jangan terburu-buru membeli suplemen dulu. Temuan tersebut perlu dikonfirmasi dengan penelitian tambahan, dan sebagian besar orang di Amerika Serikat sudah mendapatkan cukup vitamin D dari makanan dan sinar matahari menurut para ahli yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Dalam analisis baru tersebut, para peneliti di Rumah Sakit Brigham dan Wanita, Sekolah Kedokteran Harvard, dan universitas lain mengamati telomer tutup pelindung kode DNA di ujung kromosom. Seperti diketahui bagian ini cenderung memendek seiring bertambahnya usia.

Telomer dikenal sebagai semacam “jam” biologis, dan kondisinya yang lebih pendek telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit tertentu. Dengan suplemen vitamin D dapat memperlambat proses penyusutan itu, menurut penelitian tersebut.

Meskipun penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan antara vitamin D dan panjang telomer, sebagian besar bersifat observasional. Penelitian baru ini bersifat acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo, sehingga lebih meyakinkan temuan tersebut.

“Kami pikir temuan ini menjanjikan dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun kami pikir replikasi akan menjadi penting sebelum mengubah pedoman umum untuk asupan vitamin D,” kata JoAnn Manson, salah satu penulis penelitian dan kepala Divisi Pengobatan Preventif di Brigham and Women’s Hospital di ­Boston.

Pemendekan Telomer

Penemuan ini merupakan bagian dari penelitian yang lebih besar, yang disebut uji coba VITAL, yang telah dilakukan Manson dan peneliti lain dari Brigham and Women’s Hospital, afiliasi dari Harvard Medical School, selama lima tahun.

Penelitian tersebut melibatkan 25.871 peserta wanita AS berusia 55 tahun ke atas dan pria berusia 50 tahun ke atas yang telah diberi 2.000 IU vitamin D3 sehari dan 1 gram asam lemak Omega 3 sehari untuk menentukan efek utamanya pada pencegahan kanker dan penyakit kardiovaskular. Penelitian telomer difokuskan pada sekitar 900 peserta, sebagian besar dari Boston, yang panjang telomernya dalam sel darah putih dinilai pada awal dan sekali lagi pada tahun ke-2 dan ke-4.

Hasil analisa menemukan bahwa dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi plasebo, mereka yang mengonsumsi suplemen vitamin D mengalami pengurangan pemendekan telomer selama empat tahun. Namun yang unik suplementasi asam lemak Omega 3 tidak memiliki efek yang jelas pada panjang telomer.

Selama setiap pembelahan sel, telomer memastikan bahwa kromosom sel tidak menyatu satu sama lain atau mengatur ulang diri mereka sendiri, dan dengan setiap replikasi, telomer sedikit memendek. Proses ini dikaitkan dengan penuaan serta peningkatan risiko infeksi, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

“Para peneliti berpendapat bahwa manfaat suplementasi vitamin D terkait dengan meredam peradangan,” ujar Manson dikutip dari The Washington Post. Selama ini peradangan telah dikaitkan dengan penyakit autoimun serta kanker.

Pola Makan dan Gaya Hidup

Manson meuturkan, meskipun vitamin D mungkin bermanfaat, Manson menekankan bahwa vitamin D bukanlah obat mujarab. Ada banyak penyakit kronis yang tampaknya tidak dapat dikurangi dengan suplementasi vitamin D.

 “Suplemen makanan tidak akan pernah dapat menggantikan pola makan dan gaya hidup sehat, dan kami telah menjelaskan berulang kali bahwa fokusnya harus pada pola makan dan gaya hidup, bukan pada suplementasi,” katanya.

“Namun, suplementasi yang ditargetkan untuk orang-orang yang memiliki tingkat peradangan yang lebih tinggi atau risiko penyakit kronis yang lebih tinggi yang jelas terkait dengan peradangan, kelompok berisiko tinggi tersebut dapat memperoleh manfaat dari suplementasi vitamin D yang ditargetkan,” tambahnya.

Studi telomer dilakukan secara acak, artinya peserta secara acak dimasukkan ke dalam kelompok suplemen vitamin D atau kelompok plasebo untuk memastikan bahwa karakteristik seperti usia, status kesehatan, pola makan, dan gaya hidup seimbang di antara kelompok-kelompok tersebut. Pengacakan dianggap sebagai standar emas dalam penelitian klinis karena membuat kelompok-kelompok tersebut semirip mungkin di awal studi.

Hal tersebut berarti satu-satunya perbedaan antara kedua kelompok tersebut adalah bahwa satu kelompok menerima vitamin D dan satu kelompok tidak.  Studi tersebut juga “tersamar ganda,” yang berarti bahwa tidak hanya peserta di setiap kelompok tidak tahu siapa yang menerima suplemen, tetapi juga teknisi yang memberikannya.

Apa Kata Pakar Lain?

Tidak semua penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam hal pelestarian telomer. Sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 2023 di Journal of Nutrition, Health and Aging, misalnya, menyimpulkan bahwa “memberikan suplemen vitamin D secara rutin kepada orang dewasa yang lebih tua, yang sebagian besar sudah cukup vitamin D, dengan dosis vitamin D bulanan tidak mungkin memengaruhi panjang telomer.”

Antara tahun 2014 dan 2020, para peneliti di QIMR Berghofer Medical Research Institute di Brisbane, Australia, memimpin uji coba acak, double-blind, terkontrol plasebo terhadap 1.519 peserta, untuk melihat apakah suplementasi vitamin D akan memengaruhi panjang telomer. Mereka memberikan suplemen tersebut setiap bulan kepada setengah dari peserta dan tidak menemukan perbedaan antara mereka yang menerimanya dan mereka yang tidak ­menerimanya. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.