Atasi Krisis Air Bersih NTT: Inisiatif Digital dan Peran Aktif Masyarakat

Kamis, 15 Mei 2025, 13:06 WIB

Nusa Tenggara Timur (NTT) - Inisiatif mengalir.co bukan hanya sekadar teknologi, tetapi juga paradigma baru. Dengan melibatkan warga sebagai pengamat dan penyedia data utama, muncul rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap sumber air. Ini menunjukkan bahwa mengatasi krisis air di Nusa Tenggara Timur(NTT) membutuhkan lebih dari sekadar bantuan fisik. Namun, juga pengakuan akan peran aktif masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam mereka.

Krisis air bersih yang melanda berbagai pelosok NTT bukanlah isu baru. Kondisi geografis yang berbukit dan curah hujan yang tak merata seringkali disebut sebagai penyebab utama. Namun, inisiatif terbaru justru menyoroti pentingnya pemberdayaan masyarakat sebagai kunci solusi.

Ket. Foto: Teknik mengambil air bersih dari sungai di Desa Oesusu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ditunjukkan oleh warga setempat. — Sumber: ANTARA/yds

Selama ini, warga NTT banyak mengandalkan tampungan air hujan atau sumur dangkal yang rentan tercemar. Akses yang sulit dan cuaca ekstrem memperparah keadaan. Bantuan dari luar, meski bermaksud baik, terkadang kurang efektif karena minimnya data lapangan yang akurat.

Menariknya, kini hadir platform digital mengalir.co, sebuah inisiatif dari Yayasan Solar Chapter Indonesia, yang memberdayakan masyarakat NTT untuk memantau dan melaporkan kondisi air bersih di lingkungan mereka secara berkala. Melalui ponsel, warga dapat mencatat debit air, kejernihan, hingga potensi pencemaran. Data ini kemudian dapat diakses oleh berbagai pihak terkait.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam sambutan virtual saat peluncuran mengalir.co pada 25 April 2025, menekankan bahwa krisis air hanya bisa diatasi melalui gotong royong antara warga, pemerintah, dan dunia usaha. "Kolaborasi, bukan dominasi, adalah kuncinya," ujarnya.

Senada dengal hal itu, Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, mengakui kerentanan sumber air di daerah tertinggal. Menurutnya, inovasi berbasis data dari masyarakat menjadi krusial untuk penguatan sistem distribusi air dan pengambilan kebijakan yang tepat sasaran.

Berbeda lagi dengan Pungky Sumadi, Board Advisor Solar Chapter, yang menegaskan bahwa kekuatan sesungguhnya terletak pada masyarakat. "Infrastruktur digital yang baik tidak akan berguna tanpa kepercayaan kepada warga. Ketika mereka diberi alat, ruang, dan legitimasi untuk bicara, solusi akan muncul dari tempat yang tak terduga," katanya.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Yuniar Dwi Setiawati

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.