Perluas Akses Baca, Perpusnas Himbau Daerah untuk Aktif Usulkan Bantuan Buku

Rabu, 14 Mei 2025, 17:12 WIB

JAKARTA - Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) E. Aminudin Aziz mengatakan pemerintah daerah perlu aktif mengusulkan bantuan buku untuk memperluas akses baca, utamanya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).  

"Pada dasarnya, bantuan buku yang kita berikan ke 10 ribu lokus itu adalah untuk daerah 3T, dan kami meminta bantuan kepada mereka yang bergerak di daerah sana, yaitu taman bacaan masyarakat (TBM) untuk menjadi kaki tangan. Inisiatif dan usulannya itu dari mereka," katanya dalam konferensi pers dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Perpusnas ke-45 di Jakarta, Rabu.  

Ket. Foto: Seorang pengunjung sedang membaca di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta Pusat, pada Rabu (14/5). Perpusnas akan memperingati HUT ke-45 sekaligus perayaan Hari Buku Nasional pada 17 Mei 2025 mendatang. — Sumber: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari

Ia menjelaskan, agar usulan tersebut terkendali, perlu koordinasi bersama dinas-dinas perpustakaan dan kearsipan yang ada di setiap daerah, untuk memberikan daftar TBM mana saja yang perlu mendapatkan bantuan distribusi buku.  

"Karena kami tidak tahu yang mana, sih, yang terpencil atau tidak terpencil? Mereka-lah yang tahu, dan nanti bukunya kami kirimkan berdasarkan alamat yang diberikan oleh TBM atau dinas-dinas perpustakaan di daerah," ujar dia.  

Ia menjelaskan, Perpusnas juga bekerja sama dengan aparat pemerintah, yakni TNI dan kepolisian untuk penyediaan buku di daerah 3T. Di tahun 2025 ini, Perpusnas juga menyelenggarakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi yang berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk memanfaatkan buku-buku yang telah didistribusikan agar menjadi program-program kreatif yang berkelanjutan. 

"Kita kan sudah memulai dengan penyediaan buku dulu nih. Di desa-desa itu, kalau tidak ada yang menggerakkan, bagaimana buku itu dimanfaatkan Bagaimana mereka bisa menindaklanjuti buku-buku bacaan itu? Oleh karena itu, kami meminta bantuan mahasiswa yang kreativitasnya bisa lebih banyak daripada mereka yang sudah ada di birokrasi," tuturnya.

Ia menjelaskan, para mahasiswa yang berpartisipasi dalam KKN Tematik Literasi dapat berkreasi dengan berbagai macam kegiatan untuk memanfaatkan buku bacaan agar tidak hanya sekadar dibaca, tetapi juga dapat memacu kreativitas dan produktivitas sehingga bacaan tersebut bermakna bagi kehidupan masyarakat.

"Para mahasiswa akan ada di sana selama 40 hari efektif. Nah, tindak lanjutnya adalah bersama dengan masyarakat, biar nanti masyarakat yang melanjutkan, karena kalau mahasiswa selamanya di sana juga kan tidak mungkin, biayanya pasti mahal dan mereka harus segera kembali ke kampus, untuk belajar kembali," paparnya.

Menurutnya, yang terpenting dari Program KKN Tematik Literasi adalah keberlanjutan atau sustainability, bagaimana agar keberlangsungan program tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat untuk mengelola dan menghidupkan buku-buku di desa masing-masing. Ant

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.