Pertama Kali, Pemimpin Junta Myanmar Bertemu Presiden Tiongkok di Moskow

Sabtu, 10 Mei 2025, 10:25 WIB

BANGKOK - Pimpinan junta Myanmar bertemu dengan presiden Tiongkok untuk pertama kalinya sejak merebut kekuasaan, media pemerintah melaporkan Sabtu (10/5).

Jenderal Senior Min Aung Hlaing memimpin kudeta militer pada tahun 2021 menggulingkan pemerintahan demokrasi di Myanmar dan menjerumuskan negara itu ke dalam perang saudara.

Ket. Foto: Pimpinan junta Myanmar Min Aung Hlaing (kiri) bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Moskow, 9 Mei 2025. — Sumber: Xinhua

Dalam empat tahun sejak itu, angkatan bersenjata telah memerangi puluhan kelompok etnis bersenjata dan milisi pemberontak, beberapa di antaranya memiliki hubungan dekat dengan Tiongkok, yang menentang kekuasaannya.

Konflik tersebut telah menyebabkan Min Aung Hlaing menuai kecaman dari kelompok-kelompok hak asasi manusia dan dikejar oleh Pengadilan Kriminal Internasional atas kejahatan terhadap kemanusiaan, tetapi ia memelihara hubungan dekat dengan sekutu-sekutunya, Tiongkok dan Russia.

Ia bertemu dengan pemimpin Beijing Xi Jinping di Moskow di sela-sela perayaan Hari Kemenangan Russia pada Jumat (9/5) dan berterima kasih kepada Tiongkok atas bantuan kemanusiaannya setelah gempa berkekuatan 7,7 pada bulan Maret, lapor media junta The Global New Light of Myanmar.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Tiongkok "atas dukungannya terhadap sikap Myanmar di bidang regional dan internasional", katanya.

Media pemerintah Tiongkok Xinhua melaporkan bahwa Xi menyatakan dukungan negaranya bagi Myanmar untuk mengejar pembangunan yang "sesuai dengan kondisi nasionalnya, menjaga kedaulatan, kemerdekaan, integritas teritorial, dan stabilitas nasional, serta terus memajukan agenda politik dalam negerinya".

Xi mengatakan ia berharap Myanmar akan mengambil "tindakan konkret untuk menjamin keselamatan personel, lembaga, dan proyek Tiongkok di Myanmar, dan mengintensifkan upaya untuk memerangi kejahatan lintas batas".

Lebih dari 6.600 orang telah terbunuh sejak kudeta, menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, dan jutaan orang mengungsi.

Khawatir akan kekerasan di wilayahnya yang dapat mengganggu perdamaian regional dan ambisi ekonominya, Tiongkok dilaporkan telah memediasi pembicaraan antara junta Myanmar dan kelompok pemberontak utama.

Tiongkok adalah sekutu utama dan pemasok senjata bagi junta, tetapi para analis mengatakan negara itu juga memelihara hubungan dengan kelompok etnis bersenjata di Myanmar yang menguasai wilayah dekat perbatasannya.

Beijing telah lama mengincar negara bagian Shan di utara Myanmar yang kaya sumber daya, yang sekarang di bawah kendali pemberontak, untuk investasi infrastruktur di bawah inisiatif infrastruktur Sabuk dan Jalan senilai triliunan dolar.

Meskipun pertemuan Min Aung Hlaing dengan Xi pada hari Jumat merupakan pertemuan perdananya sebagai kepala junta, sang jenderal sebelumnya pernah bertemu dengan pemimpin Tiongkok itu di ibu kota Myanmar, Naypyidaw, pada bulan Januari 2020, setahun sebelum merebut kekuasaan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.