Mengenang Hamzah Sulaiman, Sang 'Raminten' yang Menginspirasi

Sabtu, 03 Mei 2025, 17:09 WIB

YOGYAKARTA - Hamzah Sulaiman, sosok karismatik yang dikenal luas sebagai "Raminten," berpulang pada 23 April 2025 lalu di usia 75 tahun. Kepergian pengusaha sukses dan seniman berbakat ini meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang yang terinspirasi oleh dedikasi dan visinya.

Lahir pada 7 Januari 1950, Hamzah tidak hanya dikenal sebagai nahkoda dari Hamzah dan Raminten Group yang menggurita di berbagai sektor bisnis seperti batik, kuliner, seni pertunjukan, dan oleh-oleh khas Yogyakarta.

Ket. Foto: Sosok Hamzah Sulaiman kini tinggal kenangan. Setidaknya, masyarakat Jogja bisa menikmati warisan budaya, bisnis terutama soal kulinernya. — Sumber: TheHouseofRaminten/yds

Lebih dari itu, ia adalah sosok yang menjunjung tinggi nilai moral dalam setiap langkah bisnisnya, dengan prinsip hidup "migunani tumpraping liyan" (membawa manfaat bagi orang lain) yang menjadi pedoman hidupnya.

Bagi publik Yogyakarta, Hamzah lekat dengan karakter Raminten, seorang perempuan Jawa penjaja jamu yang ia perankan dengan apik dalam ketoprak televisi lokal "Pengkolan" di Jogja TV.

Perannya ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cikal bakal lahirnya The House of Raminten, sebuah ikon kuliner dan budaya di Yogyakarta yang didirikan pada tahun 2008.

Nungki Puspitasari, penulis biografi "The Legend of Raminten: Kerja Keras, Welas Asih, Pengabdian; Migunani Tumpraping Liyan" (2023), mengenang Hamzah sebagai sosok yang luar biasa.

"Mas Hamzah adalah pribadi yang unik dan inspiratif. Beliau tidak hanya sukses dalam bisnis, tetapi juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap seni dan budaya Jawa. Prinsip 'migunani tumpraping liyan' benar-benar beliau terapkan dalam hidupnya, memberikan dampak positif bagi banyak orang," ungkap Nungki.

Butet Kartaredjasa, seniman Yogyakarta, juga menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Hamzah.

"Yogyakarta kehilangan seorang tokoh yang gigih melestarikan budaya Jawa. Sosok Raminten yang diperankannya bukan hanya sekadar karakter, tetapi juga representasi dari kesederhanaan dan kebaikan hati. Dedikasi Mas Hamzah dalam memajukan seni tradisional patut kita teladani," ujar Butet.

Kepergian Hamzah Sulaiman meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi Yogyakarta. Semangatnya dalam berwirausaha dengan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, kecintaannya pada seni dan budaya Jawa, serta karakter Raminten yang melekat di hati masyarakat akan terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. Yogyakarta telah kehilangan salah satu putera terbaiknya.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Yuniar Dwi Setiawati

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.