Perkuat Swasembada Pangan, Kementan Gulirkan 10 Ribu Bibit Kedelai
📅 Minggu, 27 Apr 2025, 14:17 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Akbar Nugroho Gumaypras.
JAKARTA – Produksi kedelai di Indonesia masih jauh di bawah kebutuhan, sehingga impor menjadi andalan utama. Produksi kedelai di Indonesia diperkirakan akan terus menurun hingga 2024, dengan penurunan sekitar 3 persen setiap tahun.
Upaya untuk meningkatkan produksi dalam negeri, terutama melalui peningkatan produktivitas dan luas lahan, terus dilakukan. Jawa Timur memiliki peran penting dalam upaya ini, dan berbagai pihak berkolaborasi untuk meningkatkan produksi kedelai di daerah tersebut.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyiapkan 10 ribu bibit kedelai unggul guna meningkatkan produksi nasional komoditas itu dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan kebutuhan industri dalam negeri.
"Kita mulai uji-coba ini tahun, kalau berhasil kita lanjutkan. Kami minta kemarin, bukan uji-coba sih, 10 ribu (bibit), tapi dikawal," kata Mentan Amran, saat ditemui di sela Rapat Koordinasi Nasional bersama 37 ribu Penyuluh Pertanian secara daring dan luring di Jakarta, Sabtu (26/4).
Mentan menyampaikan hal itu ketika dikonfirmasi mengenai adanya pemberitaan mengenai pengusaha tempe menyiasati dampak kenaikan harga kedelai impor asal Amerika Serikat (AS) dengan memperkecil ukuran tempe.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menanggapi hal itu, Mentan mengaku akan meningkatkan produksi kedelai dalam negeri dengan menggunakan 10 ribu bibit unggul.
Mentan mengatakan program itu bukan sekadar uji coba, melainkan harus menghasilkan produktivitas tinggi, minimal mencapai tiga ton per hektare untuk memastikan keberhasilan skala nasional.
Amran menekankan bahwa proyek itu akan dikawal ketat dengan sistem baru dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan penggunaan benih unggul demi mempercepat peningkatan produksi komoditas kedelai nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, langkah itu merupakan solusi atas kebutuhan pengusaha tempe yang beberapa waktu terakhir mengurangi ukuran akibat bahan baku terbilang mahal.
Amran mengaku bahwa dalam 100 hari pertamanya menjadi Menteri Pertanian, ia lebih dahulu fokus menangani krisis jagung dan beras, namun kini bersiap serius mempercepat pengembangan kedelai serta komoditas strategis lain seperti gandum.
Ia berharap program pengembangan kedelai itu menjadi gerakan massal apabila hasil panen dari 10 ribu bibit tersebut menunjukkan keberhasilan, sehingga ketergantungan impor kedelai bisa ditekan secara bertahap.
Amran menambahkan bahwa perintah Presiden RI Prabowo Subianto sudah jelas, yaitu mempercepat produksi pangan nasional, termasuk kedelai dan gandum, melalui langkah konkret dan sistem pertanian modern berbasis hasil.
Meskipun lokasi pengembangan 10 ribu bibit kedelai belum dirinci, Mentan memastikan bahwa seluruh program akan dijalankan dengan pengawasan ketat demi memastikan target produksi tercapai secara maksimal.
"Saya katakan bukan uji-coba 10 ribu (bibit kedelai). Dan harus produksi, jangan di bawah tiga ton per hektare. Kalau itu oke, kita jadikan gerakan massal," imbuh Mentan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!