'Urban Regeneration for Historic Cairo', Upaya Mesir Revitalisasi Warisan Budaya

Kamis, 24 Apr 2025, 20:57 WIB

KAIRO - Dengan hamparan menara, masjid-masjid berusia ratusan tahun, dan lorong-lorong tua, Kairo melakukan upaya besar-besaran untuk melindungi dan merevitalisasi warisan budaya dan arsitekturnya.

"Kairo merupakan satu dari segelintir ibu kota Islam di dunia yang masih mempertahankan ciri khasnya selama lebih dari seribu tahun," ujar Mohamed Fouad, profesor Warisan Islam di Universitas Kairo.

Ket. Foto: Orang-orang berjalan di Jalan Al-Muizz di Kairo, Mesir. — Sumber: ANTARA/Xinhua/Sui Xiankai

Dari masjid yang megah hingga gerbang yang terlupakan, bangunan-bangunan kuno di kota ini dihidupkan kembali melalui berbagai proyek konservasi warisan budaya.

Salah satunya adalah proyek Urban Regeneration for Historic Cairo (URHC) yang diluncurkan pemerintah Mesir pada 2010 melalui kerja sama dengan UNESCO.

Inisiatif itu dirancang bukan hanya untuk melindungi kekayaan arsitektur Kairo, melainkan juga untuk melestarikan bangunan perkotaan di daerah bersejarahnya.

Meyakini bahwa warisan budaya benda hanya dapat bertahan jika tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, proyek tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat yang menganggap daerah-daerah ini sebagai rumah mereka.

Salah satu penerima manfaatnya adalah Medhat Othman, yakni pria berusia 60-an yang baru-baru ini kembali ke daerah masa kecilnya di Sayeda Zainab setelah tempat itu menjalani pembangunan kembali.

Daerah itu berada dalam zona Historic Cairo yang lebih luas, yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO sejak tahun 1979 karena "nilai historis, arkeologis, dan urbanisasinya yang tidak perlu diragukan lagi."

Hal lain yang menjadi sorotan dari inisiatif URHC itu adalah transformasi Jalan Al-Muizz, yang merupakan pusat sejarah dari Kairo Islam.

Dinamai dari Khalifah Dinasti Fatimiyah Al-Muizz li-Din Allah (953-975 M), jalan sepanjang 1.400 meter tersebut membelah pusat Islamic Cairo dan telah bertransformasi menjadi museum terbuka yang hidup, menjadi rumah bagi 29 monumen bersejarah yang berasal dari abad ke-10 hingga abad ke-19.

Setelah menjalani restorasi, daerah yang dahulu terabaikan itu kini menjadi tempat berdirinya bangunan-bangunan lima lantai yang didesain dengan gaya Islam tradisional, lengkap dengan mashrabiya, yakni kisi-kisi kayu rumit yang menjadi ciri khas arsitektur Islam. Ant/Xinhua

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.