AS dan Iran Lanjutkan Perundingan Nuklir di Oman, Harapan Baru Menuju Resolusi

Minggu, 20 Apr 2025, 15:20 WIB

Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan untuk melanjutkan perundingan nuklir penting mereka pada 26 April mendatang di Oman. Langkah ini menyusul kemajuan besar yang dilaporkan dalam pembicaraan sebelumnya di Roma, menurut seorang pejabat dari pihak AS.

Pertemuan ini menandai momen langka dalam diplomasi langsung antara kedua negara, dengan Steve Witkoff, utusan khusus Presiden AS Donald Trump, bertatap muka dengan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Meskipun komunikasi langsung semacam ini jarang terjadi, sebagian besar pembahasan antara kedua pihak disebut masih dilakukan melalui perantara.

Ket. Foto: — Sumber: NewsBytes

Oman memainkan peran penting sebagai tuan rumah sekaligus penengah. Badr al-Busaidi, Menteri Luar Negeri Oman, menyampaikan optimisme terhadap arah negosiasi. Ia berkata, “Pembicaraan ini semakin menguat dan kini hal yang tidak mungkin pun menjadi mungkin.” Pernyataan ini mencerminkan suasana yang lebih konstruktif dalam diskusi yang selama ini kerap berjalan di tempat.

Sebelum pertemuan di Roma, Witkoff juga melakukan pembicaraan dengan Rafael Grossi, kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Keterlibatan IAEA diperkirakan akan menjadi kunci, terutama dalam hal pemantauan teknis dan transparansi bila suatu perjanjian baru disepakati.

Namun, posisi Iran terhadap program nuklirnya tetap kokoh. Ali Shamkhani, penasihat senior pemerintah Iran, menyuarakan sikap keras Teheran. Dalam unggahannya di media sosial, ia menegaskan bahwa “Iran mencari perjanjian yang seimbang, bukan penyerahan diri.” Ini menunjukkan bahwa Iran tidak akan menerima tekanan untuk membatasi ambisinya tanpa imbalan yang adil.

Sementara itu, muncul sinyal ambigu dari pihak AS terkait isu penting soal pengayaan uranium tingkat rendah oleh Iran. Ini menjadi salah satu titik krusial yang kemungkinan besar akan dibahas secara mendalam dalam putaran berikutnya.

Pembicaraan di Oman menjadi momen penting yang berpotensi membuka jalan bagi resolusi baru antara kedua negara. Selain menyangkut stabilitas kawasan Timur Tengah, hasil perundingan ini juga akan berdampak pada hubungan internasional yang lebih luas, termasuk dinamika non-proliferasi senjata nuklir dan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Dengan tekanan geopolitik yang masih tinggi, pertemuan ini membawa harapan bahwa diplomasi tetap menjadi jalan utama menuju perdamaian dan kesepahaman bersama.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.