- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ekspor Tiongkok Melonjak J...
Ekspor Tiongkok Melonjak Jelang “Hari Pembebasan” Tarif Trump
Senin, 14 Apr 2025, 14:10 WIBTiongkok mengumumkan pada hari Senin bahwa ekspor negaranya melonjak tajam lebih dari 12 persen pada bulan lalu. Lonjakan ini terjadi di tengah kekhawatiran pelaku usaha terhadap gelombang tarif baru dari Presiden AS Donald Trump yang dijuluki sebagai âHari Pembebasanâ. Kenaikan ini jauh melampaui ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan kenaikan hanya sebesar 4,6 persen, menurut survei Bloomberg. Peningkatan signifikan ini dipandang sebagai respons langsung terhadap ketegangan perdagangan yang semakin memanas antara dua ekonomi terbesar dunia.
Ketegangan antara Beijing dan Washington meningkat tajam sejak Trump memulai kebijakan tarif global yang secara khusus menargetkan impor dari China. Pertukaran kebijakan balasan antara kedua negara telah menyebabkan tarif AS terhadap barang-barang China naik hingga 145 persen. Sebagai tanggapan, Beijing juga mengenakan tarif balasan hingga 125 persen terhadap barang-barang impor dari AS. Langkah-langkah ini menempatkan tekanan besar terhadap stabilitas perdagangan global, meskipun permintaan tetap tinggi untuk saat ini.
Data dari Administrasi Umum Bea Cukai Tiongkok mencatat bahwa ekspor luar negeri negara itu meningkat sebesar 12,4 persen, sementara impor menurun 4,3 persen dalam periode yang sama. Meskipun penurunan impor ini menunjukkan pelemahan dari sisi pembelian luar, angkanya tetap lebih baik dibandingkan dua bulan pertama tahun ini, yang dapat diartikan sebagai tanda awal pemulihan konsumsi domestik. Hal ini penting mengingat Tiongkok kini berupaya menjadikan permintaan dalam negeri sebagai pilar utama pertumbuhan ekonominya.
Menariknya, meskipun hubungan bilateral sedang tegang, Amerika Serikat tetap menjadi tujuan ekspor utama China dalam tiga bulan pertama tahun ini. Nilai pengiriman barang ke AS tercatat sebesar $115,6 miliar dari Januari hingga Maret. Bahkan, pada Maret lalu, ketika gelombang kedua tarif diberlakukan, ekspor ke AS tumbuh sekitar sembilan persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Fakta ini menunjukkan bahwa para importir AS masih mengandalkan produk-produk dari Tiongkok, terutama untuk sektor-sektor teknologi dan elektronik.
Meski begitu, lonjakan ekspor ini dinilai oleh para analis sebagai fenomena jangka pendek yang dipicu oleh kepanikan pasar sebelum tarif AS mulai berlaku.
âData ekspor yang kuat mencerminkan peningkatan perdagangan sebelum tarif AS diumumkan,â kata Zhiwei Zhang, Presiden dan Kepala Ekonom di Pinpoint Asset Management.
Zhang juga memperingatkan bahwa ekspor Tiongkok kemungkinan besar akan melemah dalam beberapa bulan ke depan karena lonjakan tarif yang terus berlanjut dari pihak AS.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Julian Evans-Pritchard dari Capital Economics. Ia menyebut bahwa lonjakan ekspor Maret lebih disebabkan oleh permintaan dari importir AS yang mengantisipasi bea masuk yang lebih tinggi. Namun, ia menegaskan bahwa tren ini tidak akan bertahan lama dan pengiriman barang akan menurun di kuartal-kuartal mendatang. Bahkan, ia memperkirakan bahwa perlu waktu bertahun-tahun bagi ekspor Tiongkok untuk kembali ke level saat ini, terutama jika tidak ada perubahan signifikan dalam kebijakan perdagangan global.
Di sisi lain, ekonomi domestik Tiongkok masih menghadapi sejumlah tantangan serius, seperti krisis utang yang berlarut-larut di sektor properti dan konsumsi rumah tangga yang belum sepenuhnya pulih. Beijing telah mengumumkan target pertumbuhan tahunan sebesar lima persen dan meluncurkan berbagai kebijakan stimulus, mulai dari pemotongan suku bunga hingga pelonggaran pembatasan pembelian rumah. Pemerintah juga menaikkan batas utang pemerintah daerah serta menjanjikan dukungan tambahan bagi pasar keuangan.
Namun, meskipun pada awalnya kebijakan-kebijakan ini menimbulkan lonjakan optimisme, terutama di pasar saham domestik, antusiasme tersebut kini mulai memudar. Banyak pihak menilai bahwa pemerintah belum memberikan rincian konkret mengenai dana stimulus atau realisasi dari janji-janji fiskalnya. Dengan latar belakang perang dagang yang belum mereda dan ketidakpastian global yang tinggi, prospek ekonomi Tiongkok ke depan tetap penuh tantangan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meski ekspor saat ini menunjukkan kekuatan sementara, tantangan struktural di dalam negeri serta tekanan eksternal dari kebijakan proteksionis AS berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi Tiongkok dalam jangka menengah hingga panjang.
Berita Terkait:
-
Pasar Latin Nggak Bisa Diabaikan Lagi: Cili Buktiin Dagang RI Naik 12% Pasca CEPA
-
Tiongkok Gelar "Operasi Khusus" di Dekat Taiwan, Terusik dengan Pertemuan Jepang-Filipina
-
Dampak Geopolitik Global, Harga Referensi CPO dan Biji Kakao Kompak Naik di Bulan Mei
-
DPR Bahas Status Bulog, Titiek Soeharto Sebut Masih Berproses
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.