Singapura Makin Melesat, Investasi Teknologi Global Menjadi Mesin Baru Ekonomi

Rabu, 12 Agu 2026, 01:33 WIB

SINGAPURA - Pemerintah Singapura pada Selasa (11/8) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara tersebut untuk 2026 menjadi 4,5-5,5 persen dari proyeksi sebelumnya sebesar 2-4 persen.

Singapura mengaitkan kenaikan proyeksi pertumbuhan itu dengan kinerja yang lebih baik dari perkiraan pada paruh pertama (H1) 2026 dan prospek yang meningkat untuk sisa tahun ini.

Ket. Foto: — Sumber: Getty Images

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa peningkatan proyeksi tersebut juga mencerminkan percepatan belanja modal global yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura tumbuh 6,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada H1 2026.

Ekonomi Singapura tumbuh 5,9 persen (yoy) pada kuartal kedua, melambat dari pertumbuhan 6,3 persen pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh sektor manufaktur, perdagangan grosir, serta keuangan dan asuransi.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa permintaan global yang kuat terkait AI mendorong aktivitas pada klaster elektronik dan rekayasa presisi di sektor manufaktur, serta segmen mesin, peralatan, dan pasokan dalam perdagangan grosir.

Sejak kementerian itu terakhir kali mempertahankan proyeksi pertumbuhan 2026 sebesar 2-4 persen pada Mei, lonjakan investasi global di bidang AI lebih kuat dari perkiraan, sehingga memberikan "dorongan signifikan bagi produksi dan ekspor terkait AI secara global," menurut pernyataan tersebut.

Namun, risiko penurunan bagi ekonomi global masih ada, termasuk yang datang dari konflik di Timur Tengah, kebijakan tarif tambahan Amerika Serikat, serta pergeseran mendadak menuju penghindaran risiko di pasar keuangan terkait belanja modal global yang berhubungan dengan AI, kata kementerian tersebut.

"Di tengah kondisi ini, prospek 2026 bagi sektor-sektor ekonomi Singapura yang berkaitan dengan siklus teknologi berbasis AI telah meningkat, meskipun prospek untuk sektor-sektor yang terdampak langsung oleh gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah masih lemah," papar kementerian tersebut. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.