Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Gunung es yang hanyut bahayakan Pulau Georgia Selatan dan satwa liar

📅 Kamis, 23 Jan 2025, 23:50 WIB | Oleh:
Gunung es yang hanyut bahayakan Pulau Georgia Selatan dan satwa liar Doc: ANTARA/Anadolu
Ket. Ilustrasi gunung es

Istanbul, 23/1  - Gunung es terbesar dunia, A23a, hanyut dari Antartika menuju Georgia Selatan, sebuah pulau terpencil di Inggris yang terkenal dengan keanekaragaman satwa liarnya.

Sekarang hanya berjarak 173 mil (280 km), gunung es tersebut berisiko kandas dan terpecah, berpotensi mengganggu tempat makan penguin dan anjing laut, seperti yang terlihat pada gunung es besar sebelumnya.

"Gunung es pada dasarnya berbahaya. Saya akan sangat senang jika gunung es ini benar-benar melewati kami," kata Kapten Laut Simon Wallace, berbicara kepada BBC News dari kapal pemerintah Georgia Selatan, Pharos, sebagaimana dilaporkan Anadolu pada Kamis.

Para ilmuwan, pelaut, dan nelayan di seluruh dunia sedang melacak pergerakan A23a melalui citra satelit.

Terlihat dari luar angkasa, gunung es tersebut secara bertahap terpecah-pecah dan dapat terbagi menjadi segmen-segmen besar kapan saja, menurut para ahli.

"Georgia Selatan terletak di jalur gunung es, sehingga dampak pada perikanan dan satwa liar dapat diperkirakan," kata ahli ekologi kelautan Mark Belchier yang memberikan nasihat kepada pemerintah Georgia Selatan.

Belchier menambahkan, baik perikanan maupun satwa liar memiliki kapasitas besar untuk beradaptasi terhadap tantangan tersebut.

Massa es yang mengapung dapat hanyut di sekitar Georgia Selatan selama bertahun-tahun, sehingga menimbulkan ancaman jangka panjang bagi ekosistem dan satwa liar pulau tersebut.

Georgia Selatan telah menghadapi ancaman serupa di masa lalu.

Pada 2004, gunung es A38 kandas di dekat pulau tersebut, menghalangi tempat mencari makan serta menyebabkan kematian anak penguin dan anjing laut.

Baru-baru ini, pada 2023, gunung es A76 hampir kandas, meninggalkan bongkahan es besar yang tersebar di sekitar pulau.

“Bongkahan-bongkahan itu terangkat, seperti kota es di cakrawala," kenang Belchier.

Pada 2023, tim dari British Antarctic Survey mempelajari gunung es tersebut dengan peneliti PhD Laura Taylor mengumpulkan sampel air yang berjarak hanya 400 meter dari tebingnya.

"Ini bukan sekedar air seperti yang kita minum," jelas Taylor.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Advertisement
Kapolri Listyo Sigit Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional, Apresiasi Seni Budaya Indonesia.

Kapolri Listyo Sigit Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional, Apresiasi Seni Budaya Indonesia.

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.