Situs Cibedug Lebak Jauh Lebih Tua dari pada Machu Picchu
📅 Rabu, 11 Des 2024, 08:00 WIB | Oleh: ArifKemudian di sisi timur dari struktur persegi tersebut, terdapat struktur bongkahan batu andesit berdenah persegi yang terdiri dari tiga susunan undakan yang semakin ke atas semakin mengecil ukurannya. Sisi selatan dari struktur yang memiliki tiga buah undakan, terdapat susunan batu berdenah persegi dengan empat batu tegak dalam posisi miring yang berada di setiap sudutnya, tinggalan ini oleh sangat dikeramatkan oleh mastarakat sehingga diberipagar pengaman dan diberi atap.
Selanjutnya di bagian selatan dari tinggalan yang dikeramatkan oleh masyarakat terdapat terdapat struktur susunan batu andesit berdenah persegi dan juga terdapat empat buah pasangan batu tegak dan batu datar yang seolah-olah memperlihatkan bentuk seperti batu kursi. Serta terdapat sebuah batu tegak dalam posisi rubuh didekat akses menuju undakan tangga menuju punden ketiga.

3. Punden Ketiga
Sebaiknya Anda baca juga:
Punden ketiga merupakan bagian yang paling tinggi yang terletak di sebelah paling timur situs yang diduga merupakan ruang sakral. Punden ketiga berdasarkan pengamatan memiliki tiga buah ruang yaitu ruang pertama memiliki tinggalan berupa struktur susunan batu andesit berdenah persegi yang berada di sisi utara dan selatan pada ruang pertama dan dibagian tengah dari ruangan pertama terdapat lantai batu berorientasi barat – timur yang memiliki ukuran lebar sekitar ± 150 cm untuk akses menuju undakan tangga ke ruang kedua yang berada di sisi timur dan di dekat lantai batu, terdapat susunan batu bertumpuk berdenah persegi dengan batu tegak diatasnya dalam posisi rubuh.
Menuju ke ruang kedua terdapat undakan batu/tangga batu yang jika dilihat dari kontur tanahnya berupa empat buah undakan dimana pada masing-masing undakan terdapat batu tegak di setiap sisi tangga batu yang saat ini dalam posisi rubuh. Memasuki ruang kedua di sisi utaranya terdapat tinggalan berupa struktur susunan batu andesit berdenah persegi dengan sebuah batu datar yang berada di bagian tengahnya, tepat di sebelah selatannya terdapat lantai batu dengan tiga buah pasangan batu tegak dan batu datar yang seolah-olah memperlihatkan bentuk seperti batu kursi.
Sedangkan di sisi selatannya juga terdapat struktur susunan batu andesit berdenah persegi. Selain itu pada bagian tengah ruang kedua, terdapat lantai batu berorientasi barat – timur dengan lebar ± 120 cm yang merupakan akses menuju ke ruang ketiga (inti) dan di sisi timur lantai batu tersebut terdapat susunan batu bertumpuk berdenah persegi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ruang ketiga pada punden ketiga merupakan ruang inti dimana pada ruang ini terdapat punden utama dari situs Lebak Cibedug yang memiliki denah persegi dengan delapan buah undakan yang semakin keatas semakin mengecil ukurannya dan pada setiap sudut dari masing-masing undakan terdapat batu tegak yang terbuat dari batu andesit yang sebagian besar saat ini sudah dalam keadaan rubuh. Selain itu juga terdapat akses menuju undakan yang tertinggi berupa tangga batu yang berada di sisi barat dari punden utama. Di puncak punden utama saat ini terdapat empat buah batu andesit berbentuk pipih.
Selain punden berundak, terdapat temuan lain yang tersebar di sekitar lokasi situs: sumuran, kompleks menhir di Pegunungan Pasir Manggu, batu bergores (biasanya digunakan untuk upacara), dan batu tukuh (punden dengan menhir yang oleh masyarakat dianggap merupakan penanda pendirian suatu kampung).

Latar Belakang Sejarah
Punden berundak Lebak Cibedug maupun punden berundak lain yang berada di sekitar kawasan Banten dan Jawa Barat diperkirakan dibangun pada masa kehidupan manusia hidup menetap, bercocok tanam, dan beternak atau setingkat masa neolitik (2500-1500 SM). Pada masa tersebut, manusia telah mengenal sistem religi yang mereka wujudkan dengan ritual menghormati roh-roh nenek moyang. Roh-roh nenek moyang dipercayai telah bersinergi dengan alam sekitar tempat mereka tinggal, sehingga memiliki kekuatan yang mampu memberikan anugerah maupun bencana terhadap masyarakat melalui fenomena alam yang berlangsung.
Untuk mewujudkan gagasan abstrak semacam itu, masyarakat pada masa tersebut membangun monumen-monumen sebagai sarana peribadatan mereka. Roh-roh nenek moyang dipercaya bersemayam di sebuah tempat yang tinggi (menunjukkan kedudukannya yang sudah jauh lebih tinggi dari manusia biasa). Tempat tinggi tersebut selalu diasosiasikan dengan surga, kahyangan, parahyangan, dsb. Dengan demikian, manusia perlu mencitrakan objek abstrak tersebut dalam wujudyang dapat dijangkau oleh indra mereka. Pembangunan punden berundak merupakan salah satu upaya mereka untuk menghormati kekuatan yang menguasai dunia tempat mereka tinggal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!