Memukau Penonton, Ini Olahraga Kuno Uighur yang Tampil di Kompetisi Olahraga Tradisional Etnis Minoritas Nasional Tiongkok
📅 Rabu, 27 Nov 2024, 09:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Xinhua/Chen Shuo.
Sanya - Di bawah hangatnya sinar matahari di Sanya, sebuah kota pesisir di Provinsi Hainan, Tiongkok selatan, para atlet yang mengenakan topi tradisional Uighur bergerak lincah di lapangan. Menggunakan tongkat kayu, secara tepat mereka memukul bola yang ditenun erat, membuat bola itu melambung tinggi dalam lengkungan yang indah.
"Ini terlihat seperti hoki!" seru seorang penonton yang penasaran, memicu perbincangan di antara para penonton. "Mereka menggunakan tongkat untuk memukul bola dan mencoba mencetak gol, seperti hoki."
Apa yang mereka saksikan di Kompetisi Olahraga Tradisional Etnis Minoritas Nasional (National Traditional Games of Ethnic Minorities) Tiongkok ke-12 bukanlah hoki, melainkan Bola Maire, olahraga kuno Uighur yang berasal dari Prefektur Hotan di Daerah Otonom Uighur Xinjiang, Tiongkok barat laut.
Bola Maire, salah satu warisan budaya takbenda nasional Tiongkok yang populer di zaman kuno, masih memiliki tempat khusus di hati masyarakat Yutian, sebuah kota kecil di tepi selatan Gurun Taklamakan.
"Ini memang mirip dengan hoki modern," jelas Metrozi Imin, seorang mantan ofisial olahraga dari wilayah Yutian, Hotan, yang telah menghabiskan lebih dari 20 tahun mempromosikan olahraga itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Namun tidak seperti hoki, olahraga ini tidak memiliki penjaga gawang atau peraturan ketat untuk ukuran lapangan maupun jumlah tim. Dengan hanya beberapa pemain hingga puluhan pemain, Anda bisa memulai pertandingan ini hampir di mana pun," imbuhnya.
Sempat dikenal luas saat zaman kuno, permainan tradisional ini masih memiliki tempat khusus di hati masyarakat Yutian, sebuah kota kecil di tepi selatan Gurun Taklamakan, gurun pasir bergerak terbesar kedua di dunia
Di Yutian, bola maire lebih dari sekadar permainan, ini adalah jalan hidup.
"Di wilayah kami, permainan ini sama populernya dengan sepak bola," kata Metrozi. "Dari warga lansia berusia 70-an tahun hingga balita, siapa pun bisa ikut serta dalam permainan ini, tanpa memandang usia atau pun jenis kelamin."
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 2019, tim Yutian memulai debutnya dalam Kompetisi Olahraga Tradisional Etnis Minoritas Nasional Tiongkok ke-11 di Zhengzhou, Provinsi Henan, dan menuai pujian luas. Tahun ini, mereka membawa semangat mereka ke Sanya dengan jajaran pemain yang beragam, termasuk petani, tukang roti, dan penjual buah. Salah satu di antara mereka adalah sang kapten tim, Umarjan Memetmin, yang berprofesi sebagai guru sekolah menengah.
"Ini merupakan kesempatan luar biasa," kata Umarjan. "Kami ingin memperkenalkan olahraga ini ke seantero negeri dan berbagi cerita tentang kemajuan luar biasa di Xinjiang selatan."
Perjalanan tim Yutian ke Sanya tidaklah mudah. Dimulai dengan perjalanan kereta selama 20 jam dari Yutian ke Urumqi, ibu kota Xinjiang, dilanjutkan dengan penerbangan selama lima jam ke Sanya.
"Setelah tiga hari perjalanan, kami akhirnya sampai di sini, dan semua itu tidak sia-sia," kata Umarjan.
Kebangkitan Bola Maire sejalan dengan pembangunan Yutian yang makin luas. Berkat dukungan dari inisiatif-inisiatif pemerintah daerah dan program bantuan kemitraan nasional, penduduk mengalami peningkatan pendapatan dan menikmati peluang yang kian luas.
Abdulaeziz Abduhewar, seorang petani sekaligus pemain Bola Maire, memuji pertumbuhan pertanian lokal karena meningkatkan mata pencaharian keluarganya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!