Bappenas Soroti Upaya Penurunan 'Stunting' yang Belum Maksimal
Kamis, 17 Okt 2024, 00:00 WIBJAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) berharap peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang ada terus diperkuat agar dapat membantu pemerintah untuk mencapai target percepatan penurunan angka stunting lebih maksimal.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI), penurunan prevalensi stunting hanya terjadi sebesar 0,1 persen pada tahun 2023 atau menjadi 21,5 persen dari sebelumnya 21,6 persen pada tahun 2022. Sebelumnya pemerintah menargetkan penurunan stunting sampai dengan 14 persen pada 2024 dan direvisi menjadi 18,8 persen pada 2025. "Hal ini memang menimbulkan banyak pertanyaan terkait program yang sudah kita laksanakan bersama.
Kami berharap peranperan dari para kader atau TPK ini terus dilaksanakan, sebagaimana target capaian stunting ini di tahun 2025 juga menjadi salah satu target di dalam Rancangan Awal RPJMN 2025-2029," kata Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas, Diah Lenggogeni, dalam acara "Kelas TPK Hebat Seri IV" secara daring, di Jakarta, Rabu (16/10).
Seperti dikutip dari Antara, Diah mengatakan Bappenas menyambut baik kehadiran TPK sebagai bagian dari aktor pencegahan dan percepatan penurunan stunting yang memiliki potensi untuk memberikan pendampingan yang intensif kepada sasaran utama keluarga pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Pola Hidup Sehat
Diah berharap TPK terus mendampingi keluarga-keluarga pada 1.000 hari pertama kehidupan, baik dalam mengidentifikasi tantangan setiap keluarga dalam pemenuhan kebutuhan gizi, membangun pemahaman terhadap pola hidup sehat, maupun memastikan permasalahan ibu hamil dan baduta mendapatkan pendampingan untuk penguatan tata laksana perbaikan gizi.
"Pendampingan yang dilakukan bisa bersifat langsung, seperti pemberian makanan tambahan ataupun secara tidak langsung seperti mengomunikasikan kebutuhan- kebutuhan spesifik, maupun yang lebih tepat sasaran kepada sasaran 1.000 hari pertama kehidupan," kata dia.
Diah mengingatkan stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu menjadi prioritas. Oleh karena itu, Bappenas berharap upaya pencegahan stunting menjadi perhatian utama untuk semua pemangku kepentingan yang terlibat. Dalam menjalankan fungsi dan perannya, lanjut Diah, TPK juga tidak bisa bekerja sendiri sehingga kolaborasi dari berbagai aktor yang bergerak di lapangan diharapkan akan terus terbangun.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Era Messi Berakhir, Ini Gambaran Masa Depan Tim Nasional Argentina hingga 2036
-
Akademi Pencegahan Stunting, Kompetensi ASN untuk Tekan Stunting di Kota Yogyakarta
-
Lagi Cari Kerja? Bursa Kerja 2026 Sumenep Tawarkan 3.141 Lowongan
-
FIFA Asean Cup 2026: Indonesia Tekuk Singapura 2-0, Modal Hadapi Malaysia di Laga Kedua Grup A
-
Lima Dokumen Strategis Diluncurkan untuk Perkuat Pengelolaan Ekosistem Darat dan Laut
-
Telkom Resmi Spin-Off Bisnis Fiber ke InfraNexia Senilai Rp85,7 Triliun
-
Koneksi dan Bappenas Petakan Risiko Sosial dan Lingkungan PLTS Terapung
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.