Ganggu Sistem Kesehatan Nasional, Luka Kronis Harus Segera Ditangani Dengan Metode Modalitas Terkini
📅 Sabtu, 12 Okt 2024, 14:56 WIB | Oleh: Vitto Budi
Doc: Istimewa
JAKARTA- Jumlah penderita luka kronis yang cukup signifikan di Indonesia harus segera ditangani dengan metode pengobatan yang modern. Hal itu karena penderita luka kronis tidak hanya merugikan pribadi yang bersangkutan, tetapi juga menyebabkan gangguan produktivitas keluarga, bahkan mengganggu sistem kesehatan nasional.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof. Dr. dr. David Sontani Perdanakusuma, Sp.BP-RE(K) dalam diskusi dengan media bertajuk "Terobosan Baru dalam Perawatan Luka yang Sulit Sembuh" di Hotel Sari Pan Pasifik Jakarta, Sabtu (12/10) mengatakan jika di Amerika Serikat (AS) saja perawatan secara terus-menerus sudah menggerus produktivitas 10 juta jam kerja yang terbuangnya sia-sia dengan nilai kerugian sekitar 2,3 miliar dollar AS.
"Kalau di AS saja dengan jumlah penderita diabetes 3,2 persen segitu besarnya, apalagi di Indonesia dengan perkiraan penderita mencapai 8,2 persen dari jumlah penduduk, tentu nilai kerugiannya lebih besar, walaupun belum ada perhitungan secara detail," jelas David.
Lebih lanjut David mengatakan, penelitian Etiology, Epidemiology, and Disparities in the Burden of Diabetic Foot Ulcers di National Library of Medicine, luka diabetes dapat berakibat komplikasi.
Bahkan, sekitar 20 persen orang yang mengidap luka diabetes terpaksa harus diamputasi kakinya, baik minor (di bawah pergelangan kaki), maupun mayor (di atas pergelangan kaki), atau keduanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Fakta lainnya, diperkirakan 10 persen akan meninggal dalam waktu satu tahun setelah diagnosis luka diabetes yang pertama. Infeksi luka diabetes terjadi pada sekitar 60 persen dari pasien luka diabetes. Di antara orang-orang yang mengalami infeksi luka diabetes, sebagian besar memerlukan tindakan bedah untuk membersihkan luka, dan sebanyak 15-20 persen memerlukan tindakan amputasi.
"Problem yang mungkin dihadapi pada luka yang sulit sembuh adalah adanya jaringan nekrotik atau jaringan mati, bakteri atau infeksi, eksudat (nanah) yang berlebih. Selama problem masih ada penyembuhan tidak akan berjalan atau berhenti," jelasnya.
Kendati demikian, dampaknya akan membuat perawatan menjadi lama, biaya perawatan dan pengobatan meningkat, dan fungsi sosialnya akan terganggu (produktivitas, pergaulan, pekerjaan, dan lain-lain).
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbagai dampak tersebut katanya dapat dihindari dengan penanganan yang tepat terhadap luka diabetes. Prof. David menekankan, percepatan penyembuhan luka dapat dilakukan dengan modalitas terkini dari hasil penelitian, yakni menggunakan secretome dan stem cell.
Beban Ekonomi
Sekretaris KSM Bedah RS Cipto Mengkunkusumo Jakarta (RSCM) dan Koadminko Departemen Bedah Fakultas Kedokteran Univeristas Indonesia, Dr. dr. Dedy Pratama, Sp.B, Subsp.BVE(K) menambahkan, luka kronik akibat diabetes melitus dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang berdampak signifikan bagi pasien dan keluarga.
Bagi pasien, luka yang tidak dapat disembuhkan menyebabkan gangguan mobilitas pada pasien dan berdampak signifikan bagi kualitas hidup pasien. Tidak bisa dihindari, masalah psikologis dapat berdampak pada pasien, yakni mengalami depresi, kecemasan, atau stres akibat kondisi kesehatan yang berkepanjangan.
"Bagi keluarga, tentunya sedikit banyak keluarga harus menyediakan perawatan tambahan, termasuk penggantian perban dan perawatan luka, yang dapat menguras waktu, tenaga dan biaya, sehingga bisa mengakibatkan beban perawatan, pengobatan, perubahan dinamika keluarga dan stres emosional tersendiri bagi keluarga," kata Dedy.
Luka kronik diabetes papar Dedy juga berdampak bagi masyarakat dan sistem kesehatan secara keseluruhan. Peningkatan beban kesehatan terutama dari aspek beban ekonomi, peningkatan angka amputasi yang mengakibatkan produktivitas masyarakat yang terkena berkurang tentunya dapat membebani sistem kesehatan, dengan meningkatnya kebutuhan perawatan medis dan rumah sakit.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!