Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Impor Air Mineral Pertanda Mentalitas Kemandirian Ekonomi Rusak

📅 Kamis, 19 Sep 2024, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Impor Air Mineral Pertanda Mentalitas Kemandirian Ekonomi Rusak Doc: Bloomberg

JAKARTA - Kebergantungan Indonesia pada produk impor dinilai sudah sampai pada titik nadir. Bukan hanya pangan dasar seperti beras, jagung, dan komoditas lainnya, yang paling parah adalah ada kelompok masyarakat yang mengonsumsi air mineral impor. Sepanjang Januari hingga Agustus 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor air mineral mencapai 991.280 dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar 15 miliar rupiah.

Impor terbesar dari Fiji senilai 460.578 dollar AS, diikuti Italia 357.441 dollar AS, Korea Selatan 92.069 dollar AS, Jepang 43.031 dollar AS, Prancis 20.032 dollar AS, Australia 4.119 dollar AS, Arab Saudi 3.962 dollar AS, Uni Emirat Arab 2.248 dollar AS, dan Amerika Serikat senilai 275 dollar AS. Angka itu tidak hanya menunjukkan kebergantungan ekonomi, tetapi juga mentalitas masyarakat yang semakin rusak karena kecanduan produk impor.

Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PUSTEK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Hempri Suyatna, yang diminta pendapatnya mengkritik keras fenomena tersebut. "Kebergantungan pada impor untuk sesuatu yang seharusnya bisa diproduksi di dalam negeri menunjukkan rusaknya mentalitas kemandirian ekonomi masyarakat kita. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal harga diri bangsa," ungkap Hempri.

Kondisi itu sangat memprihatinkan mengingat air adalah sumber daya alam yang seharusnya dikuasai oleh negara sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945. "Kita berbicara tentang air, yang dalam konstitusi kita diatur harus dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Namun kenyataannya, kita malah mengimpor air dari negara-negara seperti Fiji dan Italia," jelas Hempri. Fenomena itu, lanjut Hempri, mencerminkan adanya masalah struktural dalam kebijakan ekonomi Indonesia yang terus memfasilitasi impor daripada memberdayakan industri lokal.

"Mentalitas kecanduan impor ini terjadi karena kebijakan yang longgar, sehingga masyarakat lebih memilih produk luar negeri yang dianggap lebih prestisius, padahal kualitas produk lokal tidak kalah," papar Hempri. Kecanduan impor, menurut Hempri, bukan hanya merusak sektor ekonomi, tetapi juga mempengaruhi pola pikir masyarakat. "Ketika masyarakat kita lebih bangga membeli produk luar negeri, bahkan untuk air mineral, itu menunjukkan adanya krisis identitas dan kebanggaan terhadap produk dalam negeri," tegasnya.

Sementara itu, peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, menilai tindakan mengimpor air mineral itu sudah keterlaluan, sebab masih banyak brand lokal di dalam negeri. Brand lokal itu banyak di daerah, bahkan dimiliki oleh warga daerah atau masyarakat sendiri. "Liberalisme ekonomi memang menyuburkan para pemburu rente. Ini sebuah paradoks di saat negara belum sepenuhnya mampu menyediakan lapangan kerja bagi semua warganya," kata Awan. Pemerintah semestinya berpihak pada brand lokal agar terus tumbuh dan ekspansif yang pada akhirnya bisa menyerap pekerja lebih banyak lagi.

Sulit Diterima

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mengaku sulit diterima dengan akal sehat terkait impor air mineral tersebut. "Kalau Singapura impor air mineral dari Malaysia bisa dipahami, tetapi kalau Indonesia, buat saya tidak masuk akal kalau sampai impor air mineral," tegas Esther.

Perusahaan air daerah (PDAM) bisa mengolah air sungai menjadi air bersih dengan alat dan teknologi yang mereka miliki. Bahkan, kadar air tingkat higienisnya tidak kalah dengan air mineral yang diproduksi perusahaan swasta ternama.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
Daerah
Polres Kerinci Bahas Distri...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.