Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Jepang akan Cabut Peringatan 'Gempa Megathrust'

📅 Kamis, 15 Agu 2024, 09:46 WIB | Oleh: Tim Penulis
Jepang akan Cabut Peringatan 'Gempa Megathrust' Doc: Kyodo News via AP
Ket. Sebuah rumah terlihat ambruk di kota Oosaki, prefektur Kagoshima, Jepang selatan, Jumat, 9 Agustus 2024, menyusul gempa bumi dahsyat pada hari Kamis.

TOKYO - Jepang akan mencabut peringatan "gempa besar" yang telah berlangsung seminggu pada hari Kamis (15/8) jika tidak ada lagi aktivitas seismik besar, kata menteri penanggulangan bencana negara itu.

Peringatan minggu lalu mendorong ribuan warga Jepang membatalkan liburan dan menimbun kebutuhan pokok, yang menyebabkan rak-rak di sejumlah toko kosong.

"Jika tidak ada perubahan khusus dalam aktivitas seismik atau deformasi kerak bumi yang diamati, pada pukul 17.00 hari ini, pemerintah akan mengakhiri panggilan khusus untuk perhatian," kata Yoshifumi Matsumura, menteri negara untuk penanggulangan bencana.

"Kemungkinan terjadinya gempa bumi besar belum dapat ditiadakan," katanya, seraya mengimbau warga untuk secara berkala mengecek kesiapan mereka "menghadapi gempa bumi besar yang diperkirakan akan terjadi".

Kamis lalu badan cuaca Jepang mengatakan kemungkinan terjadinya peristiwa seperti itu "lebih tinggi dari biasanya" setelah gempa berkekuatan 7,1 sebelumnya pada hari itu yang melukai 14 orang.

Itu adalah jenis getaran khusus yang disebut gempa megathrust subduksi, yang di masa lalu terjadi secara berpasangan dan dapat melepaskan tsunami kolosal.

Imbauan tersebut menyangkut "zona subduksi" Palung Nankai di antara dua lempeng tektonik di Samudra Pasifik, tempat gempa bumi dahsyat pernah terjadi di masa lalu.

Palung bawah laut sepanjang 800 kilometer (500 mil) membentang dari Shizuoka, naik ke pantai Pasifik dari wilayah Tokyo -- wilayah perkotaan terbesar di dunia -- hingga ujung selatan pulau Kyushu.

Pada tahun 1707, semua bagian Palung Nankai pecah sekaligus, mengakibatkan gempa bumi yang hingga kini masih menjadi gempa bumi terkuat kedua yang pernah tercatat di negara itu.

Gempa bumi tersebut -- yang juga memicu letusan terakhir Gunung Fuji -- diikuti oleh dua letusan besar Nankai yang dahsyat pada tahun 1854, dan kemudian letusan pada tahun 1944 dan 1946.

Pemerintah Jepang sebelumnya mengatakan gempa besar berikutnya berkekuatan 8-9 di sepanjang Palung Nankai memiliki kemungkinan sekitar 70 persen terjadi dalam 30 tahun ke depan.

Dalam skenario terburuk, para ahli memperkirakan 300.000 jiwa bisa melayang, sementara beberapa teknisi mengatakan kerusakan bisa mencapai 13 triliun dollar AS dan infrastruktur hancur.

Peringatan Asosiasi Meteorologi Jepang (JMA) adalah yang pertama berdasarkan aturan baru yang dibuat setelah gempa bumi, tsunami, dan bencana nuklir tahun 2011 yang menyebabkan sekitar 18.500 orang meninggal atau hilang.

Tsunami 2011 menyebabkan tiga reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima hancur, menyebabkan bencana pascaperang terburuk di Jepang dan kecelakaan nuklir paling serius di dunia sejak Chernobyl.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.