Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Manufaktur RI Kontraksi, Lapangan Kerja Ikut Menyusut

📅 Jumat, 02 Agu 2024, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Manufaktur RI Kontraksi, Lapangan Kerja Ikut Menyusut Doc: KORAN JAKARTA/WAHYU AP
Ket. YB Suhartoko Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta - Penurunan kinerja manufaktur bisa berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Kalau banyak yang menganggur, otomatis konsumsi masyarakat terganggu, dan bisa mengganggu target pertumbuhan kita.

JAKARTA - Data terbaru dari S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,3 pada Juli 2024 dari 50,7 pada bulan sebelumnya. Ini adalah kontraksi pertama dalam aktivitas pabrik sejak Agustus 2021, dengan output menurun untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Begitu pula dengan pesanan baru yang turun setelah meningkat selama lebih dari setahun.

Selain itu, penjualan luar negeri menurun, sebagian mencerminkan keterlambatan pengiriman, juga ada sedikit penurunan dalam aktivitas pembelian, penurunan pertama dalam hampir tiga tahun.

Sementara itu, lapangan kerja menyusut paling banyak sejak September 2021, dengan tumpukan pekerjaan menurun untuk bulan kedua. Bersamaan dengan itu, waktu tunggu diperpanjang untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Di sisi biaya, inflasi harga input melemah, tetapi tetap tinggi. Sementara itu, biaya output naik pada kecepatan paling tajam dalam tiga bulan.

Terakhir, sentimen mencapai puncak lima bulan yang didukung oleh harapan akan meningkatnya volume penjualan dan kondisi pasar yang lebih baik.

Terlalu Dini

Berkaitan dengan kondisi tersebut, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan demanufakturisasi di Indonesia masih terlalu dini. Kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi mengalami kecenderungan penurunan.

Padahal, industri manufaktur mempunyai peran kunci dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. "Oleh karena itu, demanufakturisasi harus dicegah," tegas Suhartoko.

Dia menerangkan penyebab menurunnya industri manufaktur adalah adanya yang kemajuan teknologi informasi dan platform-platform digital, terutama untuk perdagangan menyebabkan sektor jasa meningkat luar biasa.

Sektor jasa perdagangan relatif mudah dalam pengelolaannya dan permodalannya dibanding manufaktur. Akibatnya terjadi pergeseran dari industri manufaktur ke jasa perdagangan yang nilai tambahnya rendah.

Kenaikan harga sumber daya alam (SDA) dan kebutuhan dana investasi yang rendah menjadi alasan praktis untuk ekspor sumber daya alam yg rendah nilai tambahnya. "Oleh karena itu, upaya pemerintah dalam hilirisasi perlu didukung dan diawasi agar demanufakturisasi tidak semakin cepat," katanya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan pemerintah harus segera mengatasi penurunan sektor manufaktur karena dapat berpengaruh pada sektor tenaga kerja.

"Kalau penurunan ini tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi akan terpengaruh. Penurunan kinerja manufaktur bisa berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Kalau banyak yang menganggur, otomatis konsumsi masyarakat terganggu, dan bisa mengganggu target pertumbuhan kita. Bagimanapun sektor manufaktur sangat penting karena juga banyak menyerap tenaga kerja," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Aksi Jual Saham AI AS Mengguncang Wall Street Gingga Asia

31 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Aksi Jual Saham AI AS Mengg...
Daerah
Polda Jabar Tangkap Tersang...

Penataan Ruang Publik Menyambut HUT DKI Jakarta

41 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.