Begini Cara Operator Judi Online Manipulasi Penjudi Agar Berani Bertaruh Besar
📅 Senin, 01 Jul 2024, 15:21 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Theconversation/Shutterstock/ Virrage Images
Rayenda Khresna Brahmana, Coventry University
Separuh masyarakat Indonesia telah melek keuangan, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan ini perkembangan yang signifikan dibandingkan satu dekade lalu yang hanya di sekitaran 20% dari populasi. Namun ini bukan berarti kita terbebas dari keputusan-keputusan irasional dalam mengelola keuangan, termasuk ketika berurusan dengan judi online (judol).
Literasi keuangan menjadi argumen populer ketika berbicara soal kecanduan judi. Padahal, studi dari Universitas Hiroshima di Jepang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara literasi keuangan dan ketagihan judi. Artinya, seseorang dengan literasi keuangan yang tinggi pun dapat kehilangan logika dan terjebak dalam perjudian. Ini mengindikasikan bahwa ketagihan judi melibatkan aspek psikologis yang kompleks, yang tidak selalu berkaitan dengan pengetahuan keuangan seseorang.
Studi lainnya dari Kansas State University, Amerika Serikat (AS), menjelaskan bahwa pemain yang terkena bias psikologi menjadi irasional sehingga meningkatkan toleransi risiko. Ini yang menjelaskan kenapa penjudi berani bertaruh besar sampai harus meminjam uang atau menjual aset pribadi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lantas, kenapa seorang penjudi percaya bisa menang meskipun sudah tahu pasti kalah?
Bias psikologi dalam judi online
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang sering dieksplorasi di literatur keuangan perilaku-cabang ilmu ekonomi yang mempelajari kaitan antara psikologi dan keputusan keuangan seseorang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Misalnya saja, sebuah penelitian menunjukkan bahwa penjudi cenderung memilih taruhan berisiko tinggi ketika kalah, atau tetap bertaruh karena pernah menang. Perilaku ini sering disebut sebagai "hot-hand fallacy", yakni keyakinan bahwa kemenangan akan terjadi dan jika pernah merasakan kemenangan tersebut, keyakinan pun semakin membesar.
"Hot-hand fallacy" ini menjadi salah satu teorema kerangka model bisnis operator judi dengan membiarkan penjudi untuk menang beberapa kali, lalu setelah itu dibuat kalah.
Bias psikologi lainnya adalah "gambler's fallacy". Bias ini mendorong pemain untuk tetap bertaruh karena anggapan peluang untuk memenangkan jackpot semakin meningkat setelah kalah berulang kali. Mereka merasa yakin angka/warna/gambar yang dipertaruhkan pasti tetap akan muncul karena belum pernah muncul sebelumnya.
Operator judol juga menggunakan "illusion of control" atau ilusi bahwa penjudi memiliki kendali permainan agar terus bertaruh. Misalnya, mereka membiarkan pemilik akun judi baru meraih kemenangan di awal untuk merangsang lebih banyak taruhan.
Akibatnya, banyak penjudi merasa tahu resep untuk menang judol, yaitu dengan kerap membuat akun baru dan mengharapkan kemenangan awal pada setiap akunnya. Para penjudi ini tak menyadari bahwa mereka telah masuk perangkap operator dan berisiko mengalami kerugian besar.
Singkatnya, manipulasi bias psikologi yang dilakukan operator tidak hanya meniadakan peranan literasi keuangan, tetapi juga meningkatkan selera risiko.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!