Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Wilayah Aglomerasi Bersinergi untuk Mengatasi Polusi Udara

📅 Sabtu, 29 Jun 2024, 01:25 WIB | Oleh:
Wilayah Aglomerasi Bersinergi untuk Mengatasi Polusi Udara Doc: ANTARA/Dhemas Reviyanto
Ket. Suasana Kota Jakarta yang tertutup asap putih dilihat dari pesawat di Jakarta, Jumat (21/6/2024). Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 14.53 WIB, Indeks Kualitas Udara di Jakarta berada pada angka 159 atau masuk ke dalam kategori tidak sehat dengan konsentrasi partikel (PM2.5) di angka 67.5 mikrongram per meter kubik.

JAKARTA - Kualitas udara Jakarta Jumat (28/6) pagi dalam kategori tidak sehat dan menduduki posisi empat sebagai kota dengan udara terburuk dunia. Untuk itu, dinas lingkungan hidup (DLH) kawasan aglomerasi akan bekerja sama mengatasi polusi udara.

Lingkupnya termasuk DLH Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Selain itu, juga kota-kota yang masuk wilayah aglomerasi. "Mereka bersinergi untuk mengatasi polusi udara wilayah anglomerasi," jelas Kepala DLH Jakarta, Asep Kuswanto.

Menurutnya, kerja sama antar-DLH sangat penting untuk mengatasi polusi udara karena saling terkait sebagai wilayah aglomerasi. Asep menjelaskan, sinergi dilakukan antara DLH Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Kemudian, DLH Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi.

Tujuannya, untuk mengatasi polusi udara. Asep menjelaskan bahwa sebagai pusat perekonomian berskala global, Jakarta, memiliki amanat untuk berkolaborasi dalam perencanaan lingkungan hidup wilayah aglomerasi. "Kota dan kabupaten Jabodetabek juga pernah menandatangani kesepakatan bersama untuk memperbaiki kualitas udara," tandas Asep.

Kesepakatan ini, diinisiasi oleh Pemprov Jakarta yang mencakup beberapa poin penting. Poin tersebut seperti pembentukan Pokja Perlindungan Nasional untuk Udara. Ini sebagai forum akselerasi perbaikan kualitas udara. Kemudian, menyusun strategi pengendalian pencemaran udara terpadu di tiap-tiap wilayah administrasi.

Aplikasi Siumi

Selain itu, perlu percepatan kegiatan uji emisi kendaraan bermotor. Ini juga menjadi salah satu pembahasan. Dalam hal ini, pengelolaan data terpadu melalui aplikasi istem Informasi Uji Emisi (Siumi) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sangat membantu dalam memantau dan mengevaluasi kualitas udara.

Inventarisasi emisi tiap-tiap wilayah serta pertukaran data juga menjadi bagian dari upaya sinergi ini. DLH Jakarta juga siap untuk uji emisi keliling di Jabodetabek. "Kami berharap DLH aglomerasi bisa mendorong kegiatan yang bisa dikerjasamakan dan mendukung langkah-langkah yang lebih baik demi kualitas udara Jabodetabek yang lebih bersih," katanya.

Asep menambahkan, dalam kesempatan tersebut, dibahas pula pentingnya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai mendesaknya menjaga kualitas udara. DLH Jakarta dan daerah lain sepakat untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat melalui berbagai program edukatif dan kampanye lingkungan.

"Poin penting lainnya adalah komitmen untuk melibatkan sektor swasta dalam upaya pengendalian pencemaran udara," tutur Asep. Dia mengajak korporasi untuk berpartisipasi aktif dalam program-program pengendalian polusi udara. Peran mereka sangat besar dalam pengurangan emisi industri.

Sementara itu, Pejabat DLH Jawa Barat, Endang Hidayat, menyatakan, pelaksanaan kerja sama ini sangat penting. Tujuannya mencari solusi atas kendala yang dihadapi di wilayah aglomerasi seperti keterbatasan penyediaan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) di daerah penyangga dan keterbatasan alat uji emisi. "Problem ini harus segera diatasi melalui kerja sama yang lebih intensif antara DLH provinsi dan DLH kota/kabupaten," katanya.

Pelaksana Tugas Sekretaris DLH Banten, Ruli Rianto, menambahkan bahwa sinergi antardaerah sangat mendesak. "Masalah pencemaran udara tidak bisa diselesaikan oleh satu daerah saja. Harus ada upaya bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi semua warga aglomerasi," ujarnya.

Sebelumnya, berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir Jumat (28/6) pagi, Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta berada di angka 146. Ini berarti masuk dalam kategori tidak sehat. Kategori tidak sehat, berarti kualitas udaranya tidak sehat bagi kelompok sensitive. Alasannya, dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitive. Selain itu, juga bisa menimbulkan kerusakan tumbuhan ataupun nilai estetika.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Sultan Oman dan PM Inggris ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.