Tangkoko, Jejak Kaki Russel Wallace di Sulawesi Utara
Sabtu, 18 Mei 2024, 06:10 WIBBitung menjadi saksi kedatangan Alfred Russel Wallace di Sulawesi Utara dan hutan Tangkoko dengan fauna dan flora yang khas, menjadi salah satu sumber idenya dalam mencetuskan Garis Wallace.
Tempat menarik bagi pecinta alam saat berada di Sulawesi Utara adalah Cagar Alam Tangkoko Batuangus. Lokasinya berada di Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung.
Hutan alam seluas 3.196 hektare ini menjadi tempat perlindungan bagi fauna endemik Sulawesi yang khas.
Dalam karyanya yang berjudulThe Malay Archipelagoyang terbit pada 1869, Alfred Russel Wallace mengemukakan sebuah garis hipotetis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia yang kemudian terkenal dengan nama Garis Wallace (Wallace Line).
Bagian barat dari garis ini berhubungan dengan spesies Asia, sedangkan bagian timurnya kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia. Garis imajiner tersebut memanjang dari Samudra Hindia hingga ke Filipina.
Garis Wallace dimulai dari Selat Lombok (antara Pulau Bali dan Lombok), ke utara melalui Selat Makassar (antara Kalimantan dan Sulawesi), dan ke arah timur, selatan Mindanao, hingga Laut Filipina yang berada di utara Maluku Utara.
Wallace dalam karyanya mengemukakan flora dan fauna khas Sulawesi yang tidak ditemukan di bagian barat garis itu. Salah satu pendapatnya dibangun ketika mengunjungi hutan Tangkoko pada 1859. Tujuannya untuk mengamati dan mengumpulkan spesimen flora dan fauna seperti maleo, anoa, dan babirusa.
AktivitasNya di Sulawesi Utara merupakan bagian dari 8 pengamatan dan pengumpulan 125.660 spesimen. Penjelajah, naturalis, antropolog, geografer itu berada di kawasan Nusantara antara tahun 1854 hingga 1862.
Dalam buku, ia menuturkan menginjakkan kaki di Manado pada 10 Juni 1859. Setelah singgah di pegunungan di wilayah Minahasa, ia turun ke pesisir Likupang bagian utara pulau. Lalu bergeser 32 kilometer ke arah timur menuju pesisir dekat Pulau Lembeh.
Di kawasan itu ia menjumpai pasir hitam dari batuan vulkanis kasar akibat letusan Gunung Klabat yang berada di barat. Di belakang pantai terdapat sebuah hutan dengan tanah datar yang saat ini kemungkinan telah menjadi kawasan Kota Bitung.
Wallace menggambarkan banyak rotan yang bergelantungan di pohon, menggulung dan membelit di tanah dalam pola yang membingungkan sehingga sulit dipisahkan batang demi batang. Disebutkan juga salah satu burung yang menjadi perhatian Wallace adalah maleo (Macrocephalon maleo).
Maleo adalah sejenis burung gosong berukuran sedang dengan panjang sekitar 55 sentimeter. Fauna ini amat langka dan merupakan satu-satunya burung di dalam genus tunggalMacrocephalon. Burung tersebut tidak mengerami telurnya namun meletakkan di dalam tanah berpasir.
Proses penetasan terjadi dengan bantuan suhu lapisan tanah yang bersumber dari panas bumi. Telurnya memiliki berat 240 gram hingga 270 gram per butirnya, dengan ukuran rata-rata 11 sentimeter dan perbandingannya sekitar 5 hingga 8 kali lipat dari ukuran telur ayam. Keunikan lain dari maleo adalah saat baru menetas, anak burung maleo sudah bisa terbang.
Saat ini maleo dan anoa sudah tidak dapat dijumpai di Cagar Alam Tangkoko Batuangus. Namun kawasan ini sangat penting bagai perjalanan Wallace yang turut memberi sumbangan bagi Charles Darwin dalam mengembangan teori evolusi.
Flora dan Fauna Endemik
Kedatangan Wallace di Tangkoko, menjadikan kawasan ini ditetapkan pemerintah Hindia Belanda sebagai hutan lindung pada 1919, berdasarkan GB 21/2/1919 stbl. 90. Status ini dan diperluas pada 1978 dengan ditetapkannya Cagar Alam Duasudara (4.299 hektare) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 700/Kpts/Um/11/78.
Pada peringatan 100 tahun Tangkoko pada 21 Februari 2019, sesuai tanggal kehadirannya, pemerintah Kota Bitung meresmikan patung Alfred Russel Wallace. Patung itu dibangun sebagai penghormatan atas kontribusi Wallace bagi ilmu pengetahuan dan perlindungan hutan Tangkoko.
Wali Kota Bitung saat itu, Max Jonas Lomban, ketika meresmikan patung Alfred Russel Wallace menyatakan jika Wallace tidak datang ke tempat itu mungkin Belanda tidak menjadikannya sebagai hutan lindung bagi beragam spesies yang ada.
"Kalau Wallace tidak datang, mungkin tidak ada Cagar Alam (Tangkoko). Tapi, Wallace memberi motivasi pada generasi sesudah dia," ujar dia ketika meresmikan patung Alfred Russel Wallace.
Kini Patung Wallace bertipeboss(setengah badan dari kepala ke dada tanpa lengan) berdiri megah di lokasi Cagar Alam Tangkoko Batuangus. Patung yang dicat dengan warna hitam pekat itu, menampakkan karakter kuat dari seorang tokoh terkenal di dunia konservasi.
Patung dengan tinggi 4,5 meter dan lebar 1,40 meter itu berada hanya sekitar 50 meter dari bibir pantai menghadap ke timur laut. Di tempat ini dengan mudah dijumpai monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) atauyang dikenal dengan nama Yaki, tanpa perlu masuk ke hutan di kawasan cagar alam.
Dengan luas 3.196 hektare, Cagar Alam Tangkoko Batuangus menjadi tempat perlindungan bagi fauna endemik Sulawesi yang sebagian dari mereka bisa dilihat di kebun binatang. Kawasan ini mempunyai dua puncak gunung yakni Tangkoko dengan tinggi 1.109 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan Batuangus 450 mdpl. Oleh karenanya tempat ini sering disebut dengan lengkap dengan nama Cagar Alam Tangkoko Batuangus.
Selain monyet hitam Sulawesi yang terkenal itu, ada juga tarsius (Tarsius spectrum), kuskus (Ailurops ursinus), rusa (Cervus timorensis), dan musang coklat (Macrogalidia musschenbroekii). Pada 1980 dicatat sejumlah 140 spesies burung, beberapa spesies endemik Sulawesi yang ada adalah rangkong (Rhyticeros cassidix) dan maleo (Macrocephalon maleo).
Dengan curah hujan rata-rata sebesar 2.500 - 3.000 milimeter per tahun dan suhu rata-rata 20-25 derajat Celsius, di dalam kawasan ini terdapat dua jenis ekosistem yaitu hutan hujan dan hutan lumut dengan tumbuhan berbeda.
Di ekosistem hutan hujan yang lebih rendah tumbuh pohon beringin (Ficus spp), aras (Duabanga moluccana), nantu (Palaquium obtusifolium). Sedangkan pada ekosistem hutan lumut tumbuh edelweis (Anaphalis javanicum), dan kantong semar (Nepenthes gymnamphora). Total ada 71 flora endemik yang ada di sini.
Di dalam kawasan cagar alam, pohon-pohon tersebut sudah berusia ratusan tahun. Di era digital, penjelasan tentang pohon yang ada sudah canggih. Tinggal memindaibarcodedari ponsel pintar, pengunjung dapat membaca keterangan pohon yang dimaksud.
Sebagai tempat wisata minat khusus, tiket masuk ke Cagar Alam Tangkoko Batuangus ini lumayan tinggi. Namun demikian dengan tiket ini pengunjung mendapatkan fasilitas pemandu atauguideyang akan menerangkan beragam flora dan fauna spesies khas Sulawesi seperti digambarkan Wallace. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.