Butuh Terobosan Besar Akhiri Pelemahan Rupiah

Kamis, 16 Mei 2024, 09:34 WIB

JAKARTA - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus melakukan terobosan untuk mengakhiri keterpurukan nilai tukar rupiah. Fundamental perekonomian nasional perlu diperkuat dan kenaikan suku bunga acuan perlu dilanjutkan untuk menekan aliran investasi keluar dari lasar keuangan dalam negeri.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti mengatakan kondisi nilai tukar yang kian melemah ini berdampak buruk bagi ekonomi Indonesia karena disebabkan oleh sejumlah hal. Pertama, porsi utang luar negeri itu besar sehingga butuh dollar AS untuk bayar utang baik cicilan dan bunganya.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Kedua, karena porsi impor yang makin tinggi sehingga membuat kebutuhan dollar AS untuk alat pembayaran juga meningkat.

"Ketiga, deindustrialisasi dini sehingga kemampuan Indonesia menciptakan produk lokal untuk dikonsumsi di pasar domestik maupun luar negeri kurang," ucap Esther pada Rabu (15/5), menanggapi fenomena pelemahan tukar rupiah.

Selain itu, menurut Esther, ada solusi cepat dan sementara untuk bisa dilakukan untuk stabilisasi nilai tukar. Cara tersebut dengan menaikkan tingkat suku bunga untuk mencegah capital flight meskipun berdampak pelemahan di sektor riil.

Adapun solusi jangka panjangnya adalah dengan membangun industri secara serius agar bisa menciptakan produk daya saingnya tinggi sehingga industri ini mampu memenuhi kebutuhan domestik dan pasar ekspor.

"Hal ini bisa mengurangi impor dan menaikkan ekspor sehingga meningkatkan devisa negara," ungkap Esther.

Seperti diketahui, ekonomi global masih dihantui suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Fed Fund Rate (FFR) yang tinggi. Ini diperkirakan dipertahankan dalam jangka waktu lama atau higher for longer.

Nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga sempat menyentuh posisi 16.260 rupiah per dollar AS, terlemah sejak 2020. Menyikapi keadaan tersebut, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada April 2024 menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 bps (basis points) mencapai 6,25 persen untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Sementara itu, Manajer Riset Seknas Fitra Badiul Hadi menuturkan, sepertinya pemerintah AS sengaja tidak segera mengumumkan inflasi terbaru untuk melihat respons perekonomian global.

"Sayangnya jika kebijakan AS ini berkepanjangan dan dibarengi dengan kenaikan suku bunga The Fed, maka ini akan semakin menekan rupiah, dan tentu situasi ini tidak baik bagi perekonomian Indonesia," paparnya.

Setidaknya kondisi rupiah saat ini, papar Badiul, hampir sama dengan kondisi ketika krisis moneter pada 1998 yaitu di level 16.000-an rupiah per dollar AS.

Kebijakan Baru

Badiul menegaskan, pemerintah perlu, segera menerbitkan kebijakan baru yang lebih fokus dalam memperkuat rupiah. Apalagi dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah menargetkan kirs rupiah diangka di bawah level 16.000 rupiah per dollar AS.

"Yang perlu dilakukan juga ialah memperkuat pondasi atau soko guru perekonomian nasional yaitu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)," tegasnya.

Secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, di Jakarta, Selasa (14/5), mengatakan pernyataan beberapa pejabat Fed mendukung sikap higher for longer, termasuk Michelle Bowman dan Lorie Logan. Sikap tersebut meningkatkan sentimen risk off atau aksi jual aset berisiko di pasar keuangan domestik sehingga mendorong rupiah melemah.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

Ratusan Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Korban

Korea Utara Tuding Rencana Perluasan Anggaran Pertahanan Jepang Sebagai 'Persiapan Perang'

Brentford Kalahkan Tottenham Hotspur dengan Skor Telak 3-0

Pemprov NTT Percepat Perbaikan Infrastruktur Terdampak Gempa M7,7

Pemerintah Kota Batam Siapkan Subpenyalur BBM Nelayan di Pulau Rempang

Permudah Akses BBM Subsidi, Pemkot Batam Siap Bangun SPBU untuk Nelayan di Pulau Rempang

Harga Daging Ayam Ras di Dua Kabupaten di Riau di Atas Rp40.000/Kg

Film "The Odyssey" Laris di Korea Selatan, Lampaui 6 Juta Penonton

Balas Trump, Iran Peringatkan Negara yang Gabung dengan Sanksi AS Dianggap 'Musuh'

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah RI Diprakirakan Cerah Berawan pada Minggu

Shopee Gandakan Donasi, Perkuat Gotong Royong Digital untuk Pemulihan Paska Gempa NTT

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

Lampaui Target Nasional, Banten Jadi Contoh CKG-TBC

Tidak Hanya Jadi Ajang Olahraga, Purwokerto City Run 2026 Kenalkan Budaya Lokal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.