Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hati-hati Sikapi Pelemahan Kurs Ringgit

📅 Selasa, 27 Feb 2024, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Hati-hati Sikapi Pelemahan Kurs Ringgit Doc: ISTIMEWA
Ket. ALOYSIUS G BRATA Pengamat Eekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta - Pergerakan nilai tukar suatu mata uang juga menjadi cermin beres tidaknya pengelolaan perekonomian negara

JAKARTA - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) diminta berhati-hati menyikapi pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada pekan lalu yang sempat menyentuh titik terendah sejak krisis moneter 1998 lalu.

Pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan perlunya berhati-hati karena rupiah dan mayoritas mata uang Asia pekan lalu melemah lantaran kebijakan the Fed yang belum akan menurunkan suku bunga acuannya karena ingin memastikan kalau inflasi di AS sudah benar-benar terkendali.

Pergerakan rupiah, kata Aloysius, memang lebih baik dibanding dengan mata uang lain, seperti won Korea, ringgit Malaysia, dan baht Thailand yang masing-masing melemah 3,69 persen, 4,27 persen, dan 5,31 persen. Rupiah sendiri tercatat melemah 1,68 persen dari level akhir Desember 2023.

"Namun demikian, apa yang terjadi di Malaysia menggambarkan bahwa tekanan eksternal maupun kondisi geopolitik yang serba tak menentu dan menggambarkan masih rentannya ekonomi dunia kiranya penting untuk diperhatikan. Pergerakan nilai tukar suatu mata uang juga menjadi cermin beres tidaknya pengelolaan perekonomian negara," kata Aloysius.

Apalagi ekspor Indonesia seperti disampaikan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, turun 8,06 persen pada Januari 2024 akibat jatuhnya harga komoditas andalan ekspor Indonesia. "Pengelolaan perekonomian nasional menjadi kian urgent karena saat ini warga masyarakat terutama yang tidak termasuk dalam kelompok yang mendapatkan bantuan dari pemerintah, makin mengeluhkan melonjaknya harga sembako," kata Aloysius.

Rekannya, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, menuturkan pelemahan rupiah terhadap dollar AS dari sisi fundamental karena meningkatnya inflasi Indonesia. "Berikutnya adalah defisit neraca transaksi berjalan yang terus-menerus yang mencerminkan meningkatnya permintaan dollar AS sebagai mata uang utama," kata Suhartoko.

Hal yang tidak kalah penting adalah meningkatnya risiko ekonomi, keuangan, dan politik yang akan menimbulkan sentimen negatif terhadap rupiah.

Belajar Dari Krisis

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan Indonesia harus belajar dari krisis moneter tahun 1997 yang awalnya dipicu krisis mata uang bath Thailand. Sekarang, dengan tingkat suku bunga Fed yang tidak turun mengakibatkan Bank Indonesia juga tidak menurunkan tingkat suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Apalagi ada kenaikan harga beras yang mendorong inflasi karena harga pangan lain naik, sehingga ada kecenderungan tingkat suku bunga belum diturunkan untuk mengendalikan inflasi.

"Kita harus hati-hati takutnya kondisi lesu karena tingkat suku bunga tinggi dan inflasi tinggi," kata Esther.

Pakar ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan untuk memperkuat rupiah, pendekatan moneter yang diterapkan BI harus memperhatikan keberadaan sektor riil.

"Nilai tukar negara yang sedang berkembang seperti kita memang sensitif dengan ketidakpastian ekonomi di luar dan pengetatan suku bunga memang menjadi cara yang paling mudah untuk menahan modal keluar. Tetapi, bagi negara berkembang itu akan berdampak pada sektor riil, padalah penting juga dijaga," kata Wibisono.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

48 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

51 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.