Perlu Kolaborasi Pembiayaan Negara Maju dan Berkembang untuk Atasi Krisis Iklim
Senin, 04 Des 2023, 00:00 WIBJAKARTA - Kolaborasi pembiayaan antara sejumlah negara maju dan berkembang sangat penting segera diwujudkan untuk bisa mengatasi masalah krisis iklim di dunia. Demikian dikatakan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dalam pesan video yang ditampilkan di ajang COP-28 di Dubai, UEA, Sabtu (2/12).
Seperti dikutip dari Antara, Luhut mengungkapkan hal tersebut dalam sesi pembahasan perkembangan terbaru dariJust Energy Transition Partnership(JETP) Indonesia.
"Sekali lagi, saya hanya ingin menekankan bahwa menurut saya, kolaborasi antara negara berkembang dan negara maju sangat penting dalam program ini," kata Luhut dalam keterangan di Jakarta, Minggu (3/12).
JETP merupakan sebuah kemitraan transisi energi bersih senilai 20 miliar dollar AS yang melibatkan Indonesia dan negara-negara yang tergabung dalamInternational Partners Group(IPG), yang terdiri dari Amerika Serikat (AS), Jepang, Kanada, Denmark, Uni Eropa, Jerman, Prancis, Norwegia, Italia, dan Inggris.
"Peluncuran Rencana dan Kebijakan Investasi Komprehensif (CIPP) JETP menandai tonggak sejarah komitmen Indonesia dalam mengatasi krisis iklim. Hal ini juga menunjukkan kolaborasi antara Indonesia sebagai negara berkembang dan negara maju," ujar Luhut.
Pengembalian Modal
Luhut meminta dunia internasional untuk tidak melakukan pendekatan business as usual terkait pendanaan iklim. Model bisnis biasa yang menuntut pengembalian modal akan membebani negara-negara berkembang. Sayangnya, pendanaan iklim yang tersedia saat ini sebagian besar mengadopsi pendekatan tersebut.
"Kita perlu menemukan cara yang lebih baik untuk memobilisasi dan berbagi teknologi dan modal, sehingga negara-negara berkembang dapat terus tumbuh dan berkembang," ungkap Luhut.
Sementara itu, Deputi Utusan Khusus untuk Iklim untuk Amerika Serikat, John Kerry, mengatakan tidak ada satu pendekatan solusi yang umum karena yang dibutuhkan adalah pendekatan solusi yang telah disesuaikan.
"Saya pikir JETP telah benar-benar menunjukkan melalui proses perencanaan investasi dan melalui dialog bahwa solusi ini, dan transisi energi ini harus dilakukan kasus per kasus," ujarnya.
Group Chief Executive Standard Chartered, Bill Winters, menjelaskan pemerintah dan sektor keuangan harus bersatu untuk membantu dalam memfasilitasi aliran investasi ke pasar negara berkembang.
"Kami hadir untuk membantu klien kami mencapai kemajuan tersebut. Kami menghubungkan mereka dengan arus investasi lintas batas. Kami merancang bentuk-bentuk keuangan berkelanjutan yang baru dan inovatif. Kami memberikan layanan konsultasi kelas dunia melalui tim klien kami dengan penuh dedikasi," tambahnya.
Utusan Khusus Presiden dalam GlobalBlended Finance Alliance,Mari Elka Pangestu, mengatakan JETP memberikan peluang untuk melakukan terobosan dalam pendanaan iklim.
"Indonesia telah menunjukkan komitmen untuk menyediakan kerangka jalur transisi yang holistic," ujarnya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
23 WBP yang terjangkit TBC Diawasi Ketat di Lapas Ambon
-
Olah Talas Togog Jadi Tepung, Solusi Diversifikasi Pangan di Tengah Isu Kerentanan Pangan
-
Justin Bieber Beri Kejutan Penonton Konser SZA di California
-
Latihan Renang Taktis dan Penyeberangan Sungai TNI di Aceh
-
Indonesia Fokus Wujudkan Target Transisi Energi Baru Terbarukan sebesar 23 Persen pada 2025
-
Jatah Emisi Karbon Tinggal 3 Tahun, Dunia Kehabisan Waktu Mengatasi Dampak Terburuk Krisis Iklim
-
Bursa Kerja 2025 Kota Magelang, Tersedia 4.203 Lowongan Kerja
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.