Olah Talas Togog Jadi Tepung, Solusi Diversifikasi Pangan di Tengah Isu Kerentanan Pangan
Kamis, 07 Agu 2025, 17:42 WIBGIANYAR- Tantangan ketahanan pangan semakin kompleks, dengan krisis iklim dan pertumbuhan populasi yang pesat. Talas togog muncul sebagai solusi inovatif untuk diversifikasi pangan, menawarkan alternatif yang berpotensi memperkuat ketahanan pangan. Meskipun selama ini lebih dikenal sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak, potensi talas togog sebagai bahan pangan yang bernutrisi tinggi kini mulai mendapatkan perhatian yang layak.
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi (FPST), Universitas Warmadewa (Unwar) Dr. I Nengah Muliarta, menyatakan talas togog (Colocasia esculenta) merupakan varietas talas yang kaya akan karbohidrat, serat, dan berbagai vitamin penting. Kemampuannya tumbuh di berbagai jenis tanah, termasuk tanah yang kurang subur, serta ketahanannya terhadap kondisi cuaca ekstrem menjadikannya pilihan ideal untuk daerah yang rawan pangan.
âDengan memperkenalkan talas togog sebagai bahan pangan, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan pada sumber pangan konvensional yang lebih rentan terhadap fluktuasi cuacaâ kata Muliarta yang juga merupakan Ketua Tim Pengabdian saat memberikan pelatihan kepada PKK Desa Batuan di Batuan Gianyar pada Kamis (7/8). Pelatihan diberikan serangkaian pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Dikti.Â
Menurut Muliarta, berdasarkan data BPS tahun 2021 konsumsi beras per kapita di Indonesia mencapai 114,7 kg per orang per tahun. Konsumsi kemudian menurun pada saat ini hingga mencapai 90,6 kg per orang per tahun. Sementara berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional 2022, konsumsi umbi-umbian yang kaya karbohidrat justru sangat rendah hanya 3,26 kg per kapita per tahun. Hal ini menunjukkan potensi untuk mengoptimalkan pemanfaatan ubi atau talas sebagai pangan diversifikasi menjadi sangat menjanjikan.Â
âPermasalahannya sekarang bagaimana caranya mudah dikonsumsi atau digunakan dan daya simpan Panjang. Salah satunya dapat dengan mengubahnya menjadi tepung, seperti yang kami lakukan saat iniâ tegas Muliarta.Â
Muliarta menegaskan mengolah talas togog menjadi tepung merupakan strategi yang menjanjikan. Tepung talas dapat digunakan sebagai bahan baku untuk membuat berbagai makanan seperti kue, roti, dan mie. Tepung talas juga dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu bagi penderita alergi gluten.Â
Dia memaparkan bahwa talas togog tidak hanya enak dan mudah diolah. Berbagai manfaat kesehatan juga ditawarkan. Kandungan antioksidan dalam talas togog dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung dan diabetes. Serat yang tinggi membantu menjaga kesehatan pencernaan dan mengontrol berat badan, sehingga menjadikannya pilihan yang baik untuk diet seimbang.
âBahkan beberapa penelitian menyatakan indeks glikemik talas tergolong sedang hingga rendah, dan dapat diturunkan lebih lanjut dengan pengolahan tertentu, sehingga baik untuk pengelolaan gula darahâ ungkapnya.
Muliarta menambahkan talas togog merupakan jawaban dari diversifikasi pangan, agar tidak selalu terpatok pada beras. Pemanfaatan talas juga menjadi jawaban dalam upaya menuju ketahanan pangan dari sisi keberagaman jenis pangan. Pemanfaatan talas togog juga menjadi jawaban dari permasalahan food loss atau bahan pangan yang terbuang selama proses pengolahant.
âSelama ini kan cenderung tidak termanfaatkan dan diabaikan, sehingga dia masuk sebagai food lose. Pemanfaatanya merupakan upaya juga mengurangi food loseâ jelas Muliarta.
Produk Baru
Sedangkan Ketua PKK Desa Batuan, Kadek Dewi Sunastrini, Amd.Keb berharap dengan pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan dapat dikembangkan menjadi suatu produk yang baru. Produk baru tersebut dapat menjadi awal mulai bagi pengembangan UMKM di Desa Batuan.Â
"Ini bisa menjadi upaya dalam pengembangan produk baru dan menjadi bagian dari pengembangan usaha bidang kuliner" kata Sunastrini.
Sunastrini menyampaikan pelatihan yang didapatkan memberikan pilihan dalam upaya penyediaan jenis panganan dan bahan baku dalam pembuatan makanan di rumah tangga. Pastinya makanan yang dihasilkan juga memberikan manfaat dari sisi kesehatan.
Ia juga mengaku sangat senang karena diberikan bantuan bibit talas togog. "Kami juga sangat gembira karena juga ada bantuan bibit, sehingga bibit ini bisa dibudidayakan dan disebarluaskan agar tidak punah" ungkapnya.
- Talas
- Krisis Iklim
- diversifikasi pangan
- ketahanan pangan nasional
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Program Mudik Gratis MyPertamina 2026, Pertamina Lepas 125 Pemudik di Makassar
-
PKK Barito Utara dan Dinas KPP Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga Manfaatkan Lahan Pekarangan
-
Pemerhati: Konflik Global Momentum Dorong Percepatan Swasembada Pangan
-
Dishub: Puncak Arus Balik Nagreg Diprediksi Terjadi Hari Ini
-
Antisipasi Lonjakan Harga Minyak, AS-Tiongkok Koordinasi Keamanan Jalur Energi Global
-
Statistik Gila, Adames Menang Mutlak atas Williams, Akurasi Pukulannya Bikin Bergidik
-
Perkuat Ketahanan Pangan dan Air Indonesia Timur: Ini Progres Pembangunan Bendungan Manikin di Kupang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.