• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Pengepungan Leningrad Tewa...

Pengepungan Leningrad Tewaskan 600 Ribu Jiwa

Senin, 13 Nov 2023, 06:10 WIB

Dalam Perang Dunia II, Nazi melakukan pengepungan Kota Leningrad. Dalam pengepungan selama dua tahun empat bulan menyebabkan sekitar 632.000 meninggal dunia karena kelaparan dan kedinginan

Operasi Barbarossa yang dalam bahasa Jerman disebut Unternehmen Barbarossa adalah invasi ke Uni Soviet yang dilakukan oleh Nazi Jerman dan banyak sekutu porosnya. Operasi yang berlangsung selama Perang Dunia II dimulai pada 22 Juni 1941 hingga 27 Januari 1944.

Ket. Foto: — Sumber: afp

Pada akhir pengepungan yang berlangsung dua tahun 2 tahun, 4 bulan, 2 minggu, 5 hari, sekitar 632.000 orang diperkirakan tewas dan hampir 4.000 orang dari Leningrad mati kelaparan pada Hari Natal 1941. Peluru artileri Jerman pertama jatuh di Leningrad pada 1 September 1941. Kota ini, salah satu target utama Operasi Barbarossa.

Jerman, yang merasakan euforia oleh kesuksesan awal Operasi Barbarossa, dengan memutuskan bahwa mereka tidak akan menyerbu kota itu. Hitler telah menyatakan kepada para jenderalnya bahwa setelah Leningrad dikepung dan dibombardir dari udara dan artileri di darat, tekad kota untuk melanjutkan pertempuran akan hilang.

Pelaku bom Jerman juga menyebarkan selebaran propaganda di kota tersebut mengklaim bahwa penduduknya akan mati kelaparan jika mereka tidak menyerah. Elite penguasa Leningrad telah memberlakukan darurat militer pada bulan Juni sebagai reaksi terhadap keberhasilan Operasi Barbarossa.

Banyak orang di Leningrad mengira Jerman akan menyerang dan menduduki kota tersebut. Namun, pertahanan Russia yang kuat dan kekuatan Jerman yang tidak memadai, membuat Jerman tidak berhasil mencapai tujuan tersebut. Oleh karenanya opsi pengepungan adalah yang dipilih.

Pada 8 September, tank-tank Jerman hanya berjarak 10 mil dari Leningrad dan kota ini terputus dari wilayah Russia lainnya oleh segala bentuk komunikasi darat. Jalur pasokan ada di udara dan sungai, namun keduanya terus-menerus diserang.

Jerman terus-menerus membombardir kota tersebut, mematikan pembangkit listrik yang memasok listrik ke Leningrad. Kota ini juga dengan cepat kekurangan makanan. Ketika Jerman menginvasi Russia pada bulan Juni 1941, populasi Leningrad berjumlah sekitar 2.500.000 jiwa.

Pengepungan itu akan berlangsung selama 900 hari. Meskipun kota tersebut memiliki jaringan kereta, Stalin memerintahkan agar semua barang penting di kota tersebut yang dapat membantu mempertahankan Moskwa dipindahkan keluar dari Leningrad dan ke ibu kota.

Penjatahan makanan pun segera diperkenalkan. Jumlah toko yang menjual makanan dikurangi secara drastis untuk memberikan kontrol yang lebih baik. namun hal ini juga berarti orang harus mengantre lebih lama.

Musim dingin di Leningrad selalu sangat dingin. Musim dingin antara 1941-1942 tidak terkecuali. Kurangnya bahan bakar berarti penggunaan listrik di rumah-rumah dilarang industri dan militer menjadi prioritas. Minyak tanah untuk lampu pun sukar diperoleh. Kayu lalu menjadi sumber panas utama di rumah-rumah dengan furnitur dan papan lantai yang dibakar di sebagian besar rumah.

Makanan yang dibutuhkan untuk melawan hawa dingin tidak tersedia. Jika roti dapat diperoleh, orang-orang harus mengantre dalam cuaca yang sangat dingin dengan beberapa orang mungkin tak mendapat jatah saat mereka sampai di depan antrean.

Ketika orang meninggal di jalan, terjadi perebutan kartu jatah. "Jika hal ini terjadi, maka akan terjadi perebutan kartu jatah orang yang meninggal bukan karena ada yang ingin mencurinya, tetapi karena semua orang menyadari bahwa kartu jatah yang diserahkan kepada pihak berwenang berarti memberikan porsi makanan yang sangat kecil untuk semua orang. Penghinaan seperti itulah yang kami derita," tulis Tikhonov.

"Saya menyaksikan ayah dan ibu saya meninggal saya tahu betul mereka kelaparan. Tapi aku lebih menginginkan roti mereka daripada ingin mereka tetap hidup. Dan mereka juga tahu hal itu tentang saya. Itulah yang saya ingat tentang blokade: perasaan bahwa Anda ingin orang tua Anda mati karena Anda menginginkan roti mereka," imbuh dia.

Pada November 1941, ketika pengepungan masih dalam tahap awal, 11.000 orang meninggal karena apa yang oleh pihak berwenang disebut sebagai 'distrofi pencernaan' (kelaparan). Namun, jumlah ini meningkat pesat seiring dengan mulainya musim dingin di kota tersebut.

Jalur Logistik

Upaya untuk menangani kelaparan di Leningrad karena pengepungan Nazi Jerman dilakukan dengan cara menormalkan jalur jalan dan kereta keluar kota. Dua jalur kehidupan itu direvitalisasi agar truk pasokan dapat lewat dan menggunakan Danau Ladoga sebagai sarana transportasi.

Ribuan orang membantu membangun jalan yang dimaksudkan untuk menghubungkan ke Zaborie, posko utama berikutnya di sebelah timur Tikhvin yang runtuh. Panjang jalan tersebut lebih dari 200 mil ketika diselesaikan hanya dalam 27 hari.

Namun, meskipun disebut jalan raya, di banyak tempat jalan tersebut hanya berupa lintasan yang tidak cukup lebar untuk dilewati dua truk. Beberapa bagiannya terlalu curam untuk dilalui truk dan salju membuat beberapa bagiannya tidak dapat digunakan.

Pada 6 Desember, pemerintah kota yang kini bernama Saint Petersburg, mengumumkan bahwa jalan tersebut yang dikenal oleh masyarakat sebagai 'Jalan Kehidupan', akan digunakan untuk pertama kalinya. Berita tersebut diterima dengan baik di kota tersebut, namun kenyataannya, jalan tersebut tidak mampu memenuhi semua kebutuhan kota untuk bertahan hidup. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.