Bapanas: Mundurnya Masa Panen Tidak Pengaruhi Cadangan Beras
Senin, 13 Nov 2023, 00:00 WIBKARAWANG - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebutkan mundurnya masa panen pada musim tanam rendeng tidak akan mempengaruhi cadangan beras pemerintah.
"Musim tanam I (Agustus-Desember), mundur karena hujan turun lambat. Hujan baru akan terjadi pada akhir November dan Desember. Jadi panennya mundur," kata Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, usai acara Jambore Makmur, di Kabupaten Karawang, Jabar, Sabtu (11/11).
Seperti dikutip dari Antara, Arief mengatakan karena masa tanamnya terlambat maka panennya juga akan mengalami kemunduran. Panen baru akan terjadi pada April, Mei, dan Juni 2024.
Untuk antisipasi, Bapanas bersama PT Pupuk Indonesia (Persero) telah berupaya memastikan ketersediaan pupuk atau stock bridging.
Meski terjadi keterlambatan musim tanam yang berdampak terhadap mundurnya masa panen, Arief memastikan kalau hal tersebut tidak akan mempengaruhi ketersediaan stok beras.
Menurut dia, pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) kini sudah memiliki cadangan beras di atas satu juta ton. "Cadangan pangan kita pastikan di atas satu juta ton, Bulog punya. Jadi, mundurnya masa panen tidak berpengaruh," katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan berdasarkan prakiraan BMKG, akan ada kemunduran musim hujan antara satu hingga tiga dasarian.
Tergantung Musim
Seiring dengan hal tersebut, akan terjadi kemunduran jadwal tanam sepuluh hingga 30 hari di beberapa wilayah Indonesia. Menurut dia, sektor pertanian itu tergantung dengan musim, sehingga mundurnya musim hujan tentu mempengaruhi jadwal tanam padi, yang pada akhirnya berpengaruh ke penyerapan pupuk.
Untuk mengatasi masalah ketersediaan pangan ini, organisasi sosial,Foodbank of Indonesia (FOI), mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak membuang-buang makananmengingat data sampah makanan dalam negeri mencapai 20,93 juta ton dalam satu tahun.
"Jumlah sampah makanan yang hampir mencapai 21 juta ini menjadi yang terbesar di Asia Tenggara," kata pendiri FOI,Hendro Utomo.
Ketika masyarakat dapat melakukan pengurangan atau bahkan tidak membuat sampah makanan, menurut Hendro, sudah berkontribusi dalam peningkatan ketersediaan pangan di tengah ancaman krisis pangan global.
"Mengurangi limbah makanan sama artinya dengan meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi tekanan terhadap lingkungan," katanya.
Hendro mengatakan menurut estimasi World Food Programme (WFP) pada 2023, terdapat lebih dari 345 juta masyarakat dunia akan menghadapi kerawanan pangan. "Angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan Tahun 2020," ujarnya.
Menurut dia, ketahanan pangan harus ditingkatkan bersama-sama, tidak hanya pemerintah, tetapi juga seluruh elemen bangsa.
Meski ketahanan pangan Indonesia pada 2022 naik lima peringkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kata dia, namun posisi tersebut masih berada di paruh bawah pemeringkatan.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Tegas! Kepala Bapanas Ingatkan: Jangan Ada yang "Bermain-main" di Rantai Distribusi Pangan
-
Bapanas Minta Satgas Pangan Polri Lakukan Pemeriksaan Lanjutan Temuan Harga di Atas HAP dan HET
-
Puncak Arus Mudik pada H-4 Lebaran 2026 di Terminal Leuwipanjang Bandung
-
Siaga Pangan Lebaran, Bapanas Minta Daerah Tingkatkan Kewaspadaan
-
Kementan Gandeng Pemda Magetan Perkuat Serapan Telur Peternak Rakyat
-
TNI Pulihkan Fasilitas SDN di Tapanuli Tengah Pascabanjir Susulan
-
Masjid IKN Sediakan 700 Porsi Takjil Per Hari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.