RI Perlu Waspadai Perbaikan Ekonomi AS

Sabtu, 28 Okt 2023, 00:04 WIB

JAKARTA - Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS), pada Kamis (26/10), melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) riil negara ekonomi terbesar dunia itu melampaui ekspektasi dengan mencatat peningkatan sebesar 4,9 persen (yoy) pada kuartal ketiga 2023. Sedangkan pada kuartal II-2023, PDB riilnya meningkat 2,1 persen.

Jika dibandingkan dengan kuartal kedua, akselerasi PDB riil pada kuartal ketiga mencerminkan akselerasi belanja konsumen, investasi inventaris swasta, dan belanja pemerintah federal serta peningkatan ekspor dan investasi tetap residensial.

Ket. Foto: — Sumber: AFP

Pergerakan itu sebagian diimbangi oleh penurunan dalam investasi tetap nonresidensial serta perlambatan dalam hal belanja pemerintah negara bagian dan daerah.

Pengeluaran konsumsi personal mencatat pertumbuhan sebesar 4 persen pada kuartal ketiga, naik dari 0,8 persen pada kuartal sebelumnya. Investasi tetap nonresidensial, yang menjadi indikator investasi bisnis, mengalami kontraksi 0,1 persen pada kuartal ketiga, setelah pada kuartal kedua melonjak 7,4 persen. "Perekonomian melambat lebih cepat dari perkiraan data terbaru," kata Bill Ackman, pengelola investasi global (hedge fund), baru-baru ini di media sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.

"Setelah PDB Q3 yang kuat berlalu, dan masyarakat mulai fokus pada kuartal empat, yang kemungkinan akan jauh lebih rendah maka kita mungkin akan mulai mendengar pembicaraan mengenai (tingkat suku bunga yang) 'tinggi untuk waktu yang tidak lama lagi akan berakhir'," tutur ekonom senior di Pusat Penelitian Ekonomi dan Kebijakan AS, Dean Baker, kepada Xinhua seperti dikutip dari Antara.

Menurut laporan World Economic Outlook IMF yang dirilis sebeluma pada bulan ini, ekonomi AS diproyeksikan untuk tumbuh 2,1 persen pada 2023, dan melambat menjadi 1,5 persen pada 2024.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Aida S Budiman, mengatakan Indonesia masih mampu menjaga momentum pemulihan ekonomi di tengah ketidakpastian dan gejolak ekonomi global.

Aida menuturkan ada sejumlah tantangan utama yang dihadapi perekonomian global, antara lain pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan melemah, eskalasi geopolitik, dan suku bunga kebijakan negara maju termasuk Fed Fund Rate (FFR) yang bertahan tinggi dalam waktu lama.

Kenaikan Suku Bunga

Menanggapi kondisi ekonomi global tersebut, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan suka tidak suka, perubahan ekonomi AS sebagai negara perekonomian terbuka besar akan mempengaruhi perekonomian Indonesia.

"Yang patut diwaspadai adalah perbaikan ekonomi AS, pada umumnya diikuti kenaikan inflasi. Untuk meredamnya, the Fed akan naikkan suku bunga," papar Suhartoko.

Kalau BI tidak tepat timing-nya menaikkan suku bunga acuan BI7days Reverse Repo Rate maka akan berdampak kepada capital outflow dan selanjutnya rupiah akan melemah. Oleh karena itu, BI perlu mengamati perubahan ekonomi yang sangat dinamis dengan cermat, bahkan jika perlu memperkuat intervensi di pasar valas.

Situasi perekonomian AS memang sangat volatile, ini yang akan menjadi tantangan utama BI. Dari sisi eskalasi geopolitik global, tampaknya yang terjadi di Timur Tengah tidak begitu berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia, kecuali jika negara-negara penghasil minyak terlibat di dalamnya.

"Jika ini yang terjadi akan mendorong kenaikan energi, sedangkan yang terjadi di Russia dengan Ukraina, tampaknya tensinya akan menurun, sehingga dalam jangka pendek akan mempercepat penurunan harga energi," kata Suhartoko.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira, mengatakan indikator ekonomi AS yang membaik membuat inflasi negara itu dari sisi permintaan akan naik.

"Ada inflationary pressure yang lebih besar sehingga tak segan the Fed akan menyesuaikan suku bunga dalam waktu dekat," kata Bhima.

Soal waktunya kapan, apakah November atau Desember memang belum bisa dipastikan, namun kecenderungan Fed Fund Rate akan naik sekali lagi tentu ada. "Bayangkan the Fed ditahan saja tekanan ke rupiah sudah sangat besar, apalagi the Fed naikkan 25 basis poin tentu outflow-nya makin besar," kata Bhima.

Dari sisi perdagangan hubungan Indonesia dengan AS porsinya memang masih di bawah Tiongkok, tetapi secara keuangan AS tetap mendominasi sentimen pasar di Indonesia.

Untuk mengantisipasi itu, menurut Bhima, pemerintah perlu segera meningkatkan stimulus fiskal ke sektor usaha yang rentan terdampak kenaikan suku bunga.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.