Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

AI Bisa Kurangi Kesenjangan Layanan Kesehatan di Indonesia, Benarkah?

📅 Kamis, 12 Okt 2023, 09:43 WIB | Oleh: Tim Penulis
AI Bisa Kurangi Kesenjangan Layanan Kesehatan di Indonesia, Benarkah? Doc: The Conversation
Ket. Teknologi IDx-DR yang menggunakan AI untuk skrining gangguan mata pada penderita diabetes melitus.

Perigrinus H Sebong, Unika Soegijapranata

Di tengah pesatnya teknologi informasi dan tantangan kesehatan ke depan, banyak negara menambah daya teknis sektor kesehatan digital lewat artificial intelligence (AI). Melalui digitalisasi, pasien dan masyarakat semakin mudah berinteraksi dengan beragam fitur perawatan kesehatan.

Riset mutakhir yang mensintesis tren pemakaian AI di Indonesia, Singapura, Brazil, Taiwan, Selandia Baru, dan sejumlah negara Eropa mengungkapkan aplikasi kesehatan digital, terutama AI, juga bisa menopang kerja sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.

Penggunaan aplikasi, misalnya untuk pencegahan dan surveilans penyakit melalui pencitraan termal inframerah dan pengenalan wajah, bisa dilakukan secara tepat waktu dan akurat guna mengendalikan sumber infeksi. Ada juga diagnosis penyakit tidak menular melalui penggunaan AI dalam teknologi IDx-DR untuk skrining gangguan mata pada penderita diabetes melitus.

Pemakaian AI juga bisa menyentuh praktik evidence based decision making (EBDM) untuk pengambilan keputusan yang efektif, efisien dan adil berbasis pada bukti-bukti valid.

Walaupun digitalisasi kesehatan seperti telemedicine, telekonsultasi dan sistem pelaporan penyakit secara digital mulai banyak dipraktikkan di Indonesia, inovasi ini sarat dengan persoalan teknis-sosial. Kita harus melihatnya sebagai tantangan yang membutuhkan solusi.

Ketimpangan infrastruktur telekomunikasi

Inovasi informasi kesehatan di tingkat fasilitas pelayanan atau organisasi kesehatan di negara berpendapatan rendah dan menengah masih menghadapi tantangan sistemik yang unik.

Pertama, masih terjadi ketimpangan infrastruktur telekomunikasi sebagai prasarana pendukung transformasi kesehatan digital. Dampaknya, tidak semua wilayah memiliki kesempatan akses jaringan yang memadai.

Sebagai contoh, wilayah di luar Pulau Jawa dan Bali, tidak bisa rutin memanfaatkan aplikasi sistem informasi rujukan terintegrasi (SISRUTE) dan [Early Warning and Response System (EWARS)](https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32978343/) untuk deteksi wabah penyakit menular, karena kendala jaringan internet kurang memadai.

Kedua, level manfaat digitalisasi untuk pelayanan kesehatan sensitif terhadap determinan sosial kesehatan. Maksudnya, berbagai faktor sosial memengaruhi level manfaat digitalisasi pelayanan kesehatan. Apakah benar-benar bermanfaat atau kurang optimal manfaatnya.

Faktor-faktor itu meliputi kapasitas sistem kesehatan daerah, kesiapan petugas kesehatan, literasi digital, sikap keraguan terhadap teknologi digital (cyber skeptic), dan kepercayaan penduduk lokal.

Jika faktor-faktor ini rendah atau kurang, maka bisa menghambat akses dan berakibat distribusi pelayanan berkualitas tidak merata.

Pada saat yang sama, ada banyak desakan peneliti kesehatan dan obat, pemangku kepentingan, dan pegiat kesehatan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan distribusi logistik obat di seluruh Indonesia berbasis AI.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Belajar merangkai kain batik di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.