Pangan Penentu Stabilitas Bangsa
Jumat, 06 Okt 2023, 00:04 WIB» Indonesia sudah terlalu lama menggantungkan kebutuhan pangan pada produksi impor.
» Kebutuhan pangan meningkat, sementara produksi pangan tidak banyak sehingga mau tidak mau harus bergantung ke negara lain.
JAKARTA - Presiden Joko Widodo dalam amanatnya saat menghadiri perayaan HUT Ke-78 TNI di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Kamis (5/10), mengingatkan kalau krisis pangan tengah melanda dunia.
"Saya juga ingin mengingatkan, dunia sedang menghadapi krisis utamanya krisis pangan, akibat perubahan iklim, akibat terganggunya rantai pasok dunia," kata Presiden Jokowi.
Saat ini, jelasnya, sudah ada 22 negara yang melakukan pembatasan ekspor pangan. Oleh karena itu, dia berpesan kepada seluruh anggota TNI untuk menyoroti hal itu dan peka terhadap urusan pangan.
"Oleh sebab itu, saya minta seluruh anggota TNI punya naluri terkait ini, punya kesadaran dan kepekaan terkait ini karena urusan pangan adalah urusan perut, sangat penting dan penentu stabilitas bangsa," kata Presiden.
Guru Besar Fakultas Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto, mengatakan situasi hari ini menghendaki negara dengan jumlah penduduk besar seperti Indonesia untuk fokus pada kemandirian pangan nasional.
Hari-hari ini dan juga hari-hari ke depan, akan semakin banyak negara yang membatasi ekspor pangan terutama beras karena untuk cadangan pangannya negara itu sendiri.
Dwijono menyebut Indonesia kini telah mengimpor 11 juta ton terigu per tahun. Padahal, apa yang menimpa beras pada saat ini juga akan terjadi pada semua komoditas pangan seperti terigu. Jika Indonesia tidak memulai diversifikasi pangan baik diversifikasi beras dan terigu, Indonesia bisa sangat kesusahan.
Terlalu lama negara ini, menurut Dwijono, menggantungkan dirinya pada impor. Terigu bisa impor 100 persen tanpa sedikit pun mengupayakan substitusinya di dalam negeri. Padahal, Indonesia memiliki banyak bahan pangan yang bisa mensubstitusi terigu.
"Sagu, singkong, sampai terakhir porang, semua bisa jadi substitusi. Tapi, tidak pernah digarap serius. Diversifikasi terigu dan beras harus dikerjakan jangan jadi wacana," tandas Dwijono.
Peringatan Dini
Pengamat ekonomi yang merupakan Direktur Eksekutif Information Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, mengatakan masalah pangan memang cukup lama menjadi perhatian. Menurutnya, dengan kebijakan banyak negara saat kini menahan pangannya seharusnya menjadi perhatian serius bagi Indonesia.
"Ini merupakan early warning agar kita waspada untuk menjaga pangan, harus secepatnya mencari mitra-mitra yang bisa secara resiprokal dan saling mendukung ketahanan pangan bila mana produksi lokal tidak cukup, tetapi memang produk lokal ini harus tumbuh kembang," kata Heru.
Sebagai negara, papar Heru, seharusnya berdaulat dalam hal pangan dan tidak bisa hanya berdiam tanpa berupaya meningkatkan produksi sendiri guna mencapai swasembada pangan.
"Komoditas yang cukup penting ini beras, sehingga ketika masing-masing negara menahan pangan, kita masih bisa survive. Ini yang kita juga khawatir, bahwa ketika semua negara menahan pangannya, sementara selama ini kita dininabobokan dengan mudahnya impor. Impor hanyalah strategi jangka pendek untuk mendapatkan produk dalam waktu cepat, dibanding menanam," tegasnya.
Menurut Heru, dalam pembangunan pertanian nasional memang banyak yang keliru.
"Konsumsi kita yang mungkin berlebihan untuk produk-produk pangan tertentu. Memang, kalau kita tidak melakukan suatu perubahan maka suatu waktu ke depan kondisinya akan semakin parah, kebutuhan pangan meningkat sementara produksi pangan kita tidak banyak, sehingga mau tidak mau harus bergantung ke negara lain," katanya.
Impor pangan, katanya, memang bagi segelintir orang menyukainya karena mereka mendapat untung dari kegiatan tersebut. Para pencari rente itulah yang terus-menerus membuat kebergantungan pada negara lain.
"Ini sesuatu yang seharusnya membuat kita berubah, meningkatkan ketahanan pangan kita, berdaulat di bidang pangan agar negara kita bisa lebih mandiri," pungkas Heru.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Dirut Bank Mandiri Pastikan Kesiapan Bantuan bagi Warga Terdampak Bencana Sumatra
-
Detroit Piston Amankan Puncak Klasemen NBA Wilayah Timur Usai Menang atas Milwaukee Bucks
-
Kawasan Ronggowarsito Dikembangan KAI Logistik sebagai Pusat Logistik Terintegrasi
-
BGN Tegaskan Pengelola Program MBG Harus Berorientasi Sosial
-
PSDKP Jelaskan Pulau Reklamasi di Gili Gede Tidak Menyalahi Aturan
-
Kantor Staf Presiden Beri Pompa Apung untuk Bersihkan Rumah Terdampak Banjir di Aceh
-
Senator AS Akhirnya Capai Kesepakatan yang Dapat Mengakhiri Penutupan Pemerintah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.