Atasi Penurunan Produksi Pangan dengan Diversifikasi
Kamis, 14 Sep 2023, 00:05 WIBSURABAYA - Mengingat penurunan produksi menjadi masalah yang berulang, pemerintah diminta jangan selalu mengambil jalan pintas dalam mengatasi masalah kenaikan harga pangan dengan impor. Pemerintah hendaknya fokus pada program-program yang sudah direncanakan, seperti diversifikasi pangan dan substitusi impor.
"Setiap tahun masalah harga ini kan selalu terulang, maka sebaiknya pemerintah fokus pada program-program yang sudah direncanakan seperti diversifikasi pangan dan substitusi impor," kata pakar pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur, Surabaya, Ramdan Hidayat, kepada Koran Jakarta, Rabu (13/9).
Ramdan mengatakan kenaikan harga beras adalah saat di mana petani sebagai kaum marjinal dapat merasakan keuntungan, yang mana momen ini jarang terjadi. Pemerintah dapat mendorong budi daya dan penggunaan ubi jalar sebagai produk substitusi impor dalam program food estate.
Jenis tanaman ini punya banyak kelebihan karena karbohidratnya setara dengan beras, tapi di sisi lain rendah gula sehingga ideal untuk makanan sehari-hari untuk menghindari risiko diabetes. Ubi jalar juga bisa untuk substitusi jagung dan dapat dikembangkan di lahan marjinal, karena tidak terlalu butuh banyak air seperti jagung. Prospeknya juga sangat baik untuk food estate," ujar Ramdan.
Memprotes Keras
Sementara itu, Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Masyhuri, memprotes keras rencana impor beras pada saat ini. Menurutnya, impor pada saat ini disebabkan oleh kesalahan Bapanas dan Bulog yang saat panen raya Maret-April 2023 ini tidak melakukan penyerapan besar-besaran beras petani.
"Padahal sudah jelas ada ancaman El Nino pada tahun ini. Artinya memang tidak ada persiapan yang baik dari Bapanas dan juga Bulog," kata Masyhuri.
Karena itu, menurut Masyhuri, publik berhak curiga bahwa ada yang diutungkan dalam keputusan impor beras. Sudah banyak fakta pejabat ditangkap gara-gara memang mengambil keuntungan dari aktivitas impor.
"Kecurigaan dari warga kan boleh karena jelas El Nino ini kan sudah lama diingatkan. Dan usaha untuk meningkatkan produksi pangan di Tanah Air juga masih jauh dari harapan," tandasnya.
Ramdan dan Masyhuri ini merespons apa yang disampaikan Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi, yang menyebut impor beras terukur tidak berdampak pada jatuhnya harga beras/gabah kering panen di tingkat petani.
"Importasi terukur tidak menjatuhkan harga petani," kata Kepala Bapanas saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Modernisasi Museum di Jakarta: Mengubah Koleksi Sejarah Jadi Narasi Visual Berbasis AI
-
Relokasi pedagang pasar induk Gadang
-
Instruksi Langsung Presiden Prabowo: Bekasi Raya Segera 'Sulap' Sampah Jadi Listrik Mulai Maret
-
Statistik Gila, Adames Menang Mutlak atas Williams, Akurasi Pukulannya Bikin Bergidik
-
Hadapi El Nino Godzilla, Benih Tahan Kekeringan Dinilai Kunci Jaga Produksi Pangan Nasional
-
Menteri Luar Negeri Wang Yi Sebut Eropa Adalah Mitra Kunci Modernisasi Ala China
-
HUT ke 27 Kota Depok, Imigrasi Berikan Layanan Paspor Simpatik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.