Hadapi El Nino Godzilla, Benih Tahan Kekeringan Dinilai Kunci Jaga Produksi Pangan Nasional

Jumat, 19 Jun 2026, 18:25 WIB

Jakarta - Penggunaan benih tahan kekeringan dan varietas unggul dinilai menjadi salah satu kunci penting untuk menjaga produksi pangan nasional di tengah ancaman fenomena El Nino Godzilla.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, mendorong pemerintah mempercepat distribusi benih tahan kekeringan dan varietas unggul guna menekan risiko gagal panen akibat potensi fenomena El Nino Godzilla. Menurutnya, penggunaan varietas padi, jagung, dan kedelai yang lebih efisien dalam penggunaan air atau memiliki umur panen lebih singkat dapat membantu petani menghadapi musim kemarau panjang sekaligus menjaga produktivitas pertanian.

Ket. Foto: Presiden Prabowo Subianto menyampaikan paparan dalam acara panen raya dan pengumuman swasembada pangan nasional 2025 di Cilebar, Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1). — Sumber: Antara

“Perlu juga penggunaan benih tahan kekeringan dan varietas unggul. Varietas padi, jagung, kedelai yang lebih efisien air atau cepat panen dapat mengurangi risiko gagal panen 10–15 persen,” kata Eliza di Jakarta, Jumat (19/6).

Ia menilai percepatan distribusi benih unggul harus dibarengi dengan penyuluhan yang intensif agar petani mampu menerapkan teknologi budidaya secara optimal sesuai kondisi wilayah masing-masing. Menurut dia, penggunaan varietas yang tepat menjadi pelengkap penting bagi penguatan infrastruktur air karena kekeringan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pada fase-fase kritis.

Eliza menjelaskan padi merupakan komoditas yang paling rentan terhadap dampak El Nino karena membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, terutama pada fase berbunga dan pengisian biji. Sawah tadah hujan serta lahan dengan sistem irigasi sederhana diperkirakan menjadi yang paling terdampak ketika kekeringan terjadi.

Selain padi, jagung juga memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi, khususnya pada fase pembungaan. Meskipun kebutuhan airnya lebih rendah dibandingkan padi, banyak tanaman jagung dibudidayakan di lahan kering atau ditanam pada musim kemarau sehingga memerlukan strategi mitigasi yang tepat melalui pemilihan varietas dan pengelolaan air yang baik.

Sementara itu, tanaman hortikultura dinilai relatif lebih mudah dikelola dari sisi kebutuhan air melalui pemanfaatan pompanisasi. Namun demikian, komoditas hortikultura tetap menghadapi risiko meningkatnya serangan hama dan penyakit selama musim kemarau.

Karena itu, Eliza menekankan pentingnya kombinasi kebijakan yang mencakup penyediaan benih unggul, penyuluhan, pengelolaan air, serta respons cepat terhadap serangan hama dan penyakit. Ia optimistis target produksi pangan nasional masih dapat tercapai apabila langkah-langkah mitigasi dijalankan secara efektif dan efisien.

Sebagai contoh, Eliza menyoroti pengalaman China saat menghadapi El Nino pada 2023. Meski luas panen menurun, negara tersebut tetap mampu meningkatkan produksi berkat kenaikan produktivitas, pengelolaan lahan yang baik, serta pengendalian hama dan penyakit yang responsif.

“Target produksi masih bisa tercapai asalkan mitigasinya dilakukan secara efektif dan efisien. Jadi ini semua tergantung bauran kebijakan yang diambil,” ujarnya.

Menurut Eliza, kebijakan menghadapi El Nino tidak cukup hanya mengandalkan satu instrumen. Pemerintah perlu mengintegrasikan kesiapan benih, pengelolaan air, penyuluhan, dan manajemen lahan agar produksi pangan tetap terjaga.

Sejalan dengan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan penggunaan varietas unggul yang adaptif menjadi salah satu strategi utama untuk menjaga produksi pangan di tengah ancaman kemarau dan perubahan iklim. Petani, kata dia, dapat memanfaatkan varietas genjah dan toleran kekeringan seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, dan Cakrabuana.

Pemerintah juga mendorong penggunaan varietas berumur pendek, teknologi hemat air, serta pengaturan pola tanam yang lebih efisien guna mengurangi dampak El Nino terhadap sektor pertanian. Selain itu, percepatan tanam terus didorong dengan mengupayakan jarak antara panen dan tanam kembali tidak lebih dari 14 hari untuk meningkatkan indeks pertanaman dan produksi pangan.

Dalam upaya mitigasi yang lebih luas, Amran menyebut pemerintah memperkuat berbagai infrastruktur pertanian, mulai dari pembangunan embung, irigasi pompa, sumur dalam, pompanisasi, optimalisasi lahan, hingga program cetak sawah baru.

"Jadi dampak El Nino Godzilla sebagaimana disampaikan oleh BMKG, Insya Allah itu bisa kita mitigasi risikonya," kata Amran usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Ia menjelaskan optimalisasi lahan terutama dilakukan pada lahan rawa yang sebelumnya hanya dapat dipanen satu kali dalam setahun menjadi dua hingga tiga kali panen. Program cetak sawah juga terus dilanjutkan untuk memperluas areal tanam dan menjaga produksi pangan nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Amran melaporkan stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 5,2 juta ton. Sementara itu, potensi produksi dari tanaman padi yang masih tumbuh diperkirakan mencapai 10–11 juta ton, ditambah ketersediaan beras di rumah tangga, hotel, dan restoran sekitar 12,5 juta ton. Dengan kondisi tersebut, cadangan pangan nasional diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama sekitar 10–11 bulan ke depan.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Suwandi, menegaskan bahwa pangan merupakan fondasi penting bagi ketahanan dan kedaulatan bangsa. Karena itu, pemerintah terus mengoptimalkan berbagai program penguatan produksi, mulai dari optimalisasi lahan, cetak sawah, pengembangan irigasi perpompaan, penyediaan benih unggul, hingga penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Menurut Suwandi, Indonesia memasuki musim kemarau tahun ini dengan kesiapan yang jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Berdasarkan pemantauan data iklim dari BMKG dan satelit NOAA, kondisi kemarau diperkirakan masih lebih terkendali dibandingkan fenomena El Nino kuat yang terjadi pada 2015 maupun 2023.

“Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, bukan menimbulkan kekhawatiran berlebihan,” katanya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.