Modernisasi Museum di Jakarta: Mengubah Koleksi Sejarah Jadi Narasi Visual Berbasis AI

Jumat, 13 Mar 2026, 17:00 WIB

JAKARTA - Anggota DPRD DKI Jakarta dari Komisi C, Suhud Alynudin, mendorong Dinas Kebudayaan DKI Jakarta melakukan inovasi teknologi dalam pengelolaan museum. Salah satu langkah yang diusulkan adalah memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan minat masyarakat berkunjung.

Menurut Suhud, rendahnya ketertarikan masyarakat terhadap museum salah satunya disebabkan konsep penyajian yang masih konvensional. Banyak museum hanya menampilkan koleksi benda bersejarah tanpa menghadirkan narasi visual yang interaktif bagi pengunjung.

Ket. Foto: Anggota DPRD DKI Jakarta dari Komisi C, Suhud Alynudin, mendorong Dinas Kebudayaan DKI Jakarta melakukan inovasi teknologi dalam pengelolaan museum. Salah satu langkah yang diusulkan adalah memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan minat masyarakat berkunjung. — Sumber: Pemprov DKI Jakarta

"Pengelolaannya masih statistik. Pengunjung hanya melihat tanpa mendapatkan pengetahuan lebih," ujar Suhud.

Ia menilai teknologi AI dapat digunakan untuk menghidupkan kembali cerita sejarah melalui visualisasi yang lebih menarik. Dengan pendekatan tersebut, museum tidak hanya menjadi tempat melihat koleksi benda bersejarah tetapi juga ruang belajar yang interaktif.

Suhud menilai pendekatan visual mampu membuat cerita sejarah lebih mudah dipahami oleh masyarakat, terutama generasi muda. Teknologi digital dapat menghadirkan pengalaman baru dalam menikmati konten sejarah di museum.

Sebagai contoh, ia menyinggung penggunaan teknologi visual dalam produksi Film Nusantara yang mampu meraih penghargaan internasional. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan potensi besar pemanfaatan teknologi kreatif dalam memperkenalkan budaya.

"Teknologi AI relatif murah. Yang terpenting adalah konsep dan kreativitas," kata Suhud.

Ia juga mengusulkan agar pemerintah daerah melibatkan pelajar dari sekolah menengah kejuruan yang memiliki kemampuan di bidang teknologi. Para siswa tersebut dinilai dapat berkontribusi dalam memvisualisasikan cerita sejarah melalui teknologi AI.

"Kita bisa libatkan anak-anak SMK yang sudah mahir AI," tambahnya.

Menurut Suhud, pengemasan sejarah secara visual dengan bantuan teknologi AI dapat membuat museum di Jakarta lebih menarik. Hal tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan jumlah pengunjung tetapi juga memperluas minat masyarakat terhadap sejarah.

Ia menilai museum dapat menjadi destinasi edukasi yang diminati oleh berbagai kalangan jika penyajiannya lebih modern. Pengalaman interaktif juga dinilai mampu membuat pengunjung lebih memahami nilai sejarah yang ditampilkan.

Selain meningkatkan kunjungan, konten sejarah berbasis digital juga memiliki potensi ekonomi. Konten tersebut dapat dipublikasikan melalui berbagai platform digital dan media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Suhud mengatakan perkembangan teknologi saat ini memungkinkan berbagai konten digital untuk dimonetisasi. Dengan pengelolaan yang tepat, museum tidak hanya bergantung pada pendapatan dari retribusi pengunjung.

"Teknologi sekarang memungkinkan monetisasi, tidak hanya bergantung pada retribusi," jelasnya.

Ia menambahkan banyak konten digital sederhana yang saat ini sudah mampu menghasilkan pendapatan. Bahkan sebagian di antaranya dapat menjangkau pasar global dan menghasilkan devisa dalam mata uang asing.

"Kalau diproduksi secara masif dan dikelola dengan baik, cerita sejarah dan karya budaya kita bisa dipasarkan ke dunia," pungkas Suhud.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.